Ekonomi Pendidikan

Kalau anda seorang guru, banyak selamat. Anda akan makmur. Karena ekonomi terbesar di masa datang adalah ekonomi pendidikan. Terutama karena adanya kesadaran untuk belajar terus-menerus.

Coba kita hitung. Anggaran pendidikan negara saja sudah Rp 200 triliun. Kalau anggaran pendidikan swasta juga sebesar itu, maka kita bicara angka Rp. 400 triliun pertahun. Ini sudah sekitar 4% GDP Indonesia.

Padahal, ini hanya untuk pendidikan formal. Untuk anak usia sekolah, dari TK sampai Sarjana. Bayangkan kalau ekonomi ini diperluas juga untuk pendidikan berkelanjutan (continuing education). Artinya ada jasa pendidikan seumur hidup. Luar biasa besar, bukan?

Jadi seorang guru tidak akan miskin. Ia akan makmur. Karena ia berada di sunrise industry. Industri pendidikan.

Cuma, ada tapi nya.

Guru yang akan makmur itu cuma guru yang profesional. Guru yang menekuni ilmu memintarkan orang, sehingga dia betul-betul sanggup membuat anak didiknya menjadi pintar. Guru yang kagok, asal-asalan, atau tidak serius menekuni profesi ini akan tersisih.

Mirip seperti dokter. Dokter di puskesmas, mendapat bayaran sama. Dokter sakti atau dokter bego, gajinya sama. Tapi dokter profesional kemudian bisa buka praktek. Dan pasien bisa memilih datang pada dokter yang mana. Dokter yang terkenal mampu menyembuhkan pasiennya akan dibanjiri pelanggan. Dan ia akan makmur. Dokter bego tidak akan mendapat pasien. Dan hidupnya susah.

Dengan datangnya era komunikasi dan informasi, maka guru-guru yang hebat akan mendapatkan murid yang banyak. Di waktu senggangnya, guru-guru ini bisa membuka praktek, untuk mendidik anak-anak yang membutuhkan kepintaran. Akan berdiri sekolah swasta, private school, yang terkenal akan kualitasnya. Dan mereka hanya merekrut guru profesional. Dan semua murid akan berlomba masuk ke sekolah itu. Bahkan ada yang masuk lewat TIK, sehingga guru ini bisa punya jutaan pelanggan. Mengakses jasanya lewat Internet.

Jadi ekonomi pendidikan sedang meledak. Kita yang bergerak di bidang pendidikan sedang naik daun. Tapi kita harus menjadi profesional. Lupakan semua godaan jabatan struktural atau usaha sampingan di luar. Tekuni saja ilmu memintarkan orang. Maka kita akan ikut serta dalam excitement dunia pendidikan.


  1. saya berharap & doakan semoga pandangan bapak ini menjadi kenyataan..🙂.

  2. jangankan guru pelajaran formal. Guru sampingan seperti guru les musik saja, laris manis juga😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: