Ramah dan Mesra

Ramah pada semua orang, mesra pada orang yang kita kasihi. Can you do them?

Suatu nasehat yang sangat berharga. Kita harus ramah pada semua orang. Kita harus memancarkan rasa sayang. Rasa menghargai. Rasa gembira berjumpa. Dan ini biasanya tertuang dalam sikap yang ramah. Dengan ramah, kita mereguk sukacita kehidupan. Kita bisa merasakan hangatnya kehidupan.

Dan bagi kekasih hati, orang-orang yang sangat dekat dengan kita, kita harus mesra. Ini lebih dari ramah. Ada kekhususan di situ. Ada rasa special. Ada keintiman. Kita bisa apa adanya, menjadi diri kita. Ada keinginan eksplisit dan implisit untuk dekat secara hati dan secara fisik. Ada setuhan hati dan belaian sayang.

Ramah pada semua orang, mesra pada kekasih hati.

Ternyata tidak mudah. Turns out they are neither easy nor natural.

Terlalu banyak contoh betapa orang sukar ramah kepada sesamanya. Apalagi kalau tidak kenal. Insting kita untuk waspada. Takut disakiti, barangkali. Sehingga hubungan menjadi sangat formal. Dingin. Akibatnya dunia ini terasa, ya itu, dingin, formal.

Lebih parah lagi, soal hubungan antar orang yang seharusnya sangat dekat. Suami dan istri tidak mesra. Bicara seperlunya. Tidak intim. Tidak ada canda tawa. Begitu juga hubungan orang tua dan anak. Kakak dan adik. Apalagi saudara dan kerabat. Jauh dari mesra.

Ternyata itu “dosa turunan”. Artinya orang tua kita belajar dari orang tua mereka. Yang juga tidak mesra satu-sama lain. Yang ada adalah sikap galak, disiplin, atau bahkan mendekati power abuse. Coba hitung dan bandingkan antara jumlah kata-kata mesra dan kata-kata disiplin yang kita ucapkan pada anak kita. Atau orangtua kita ucapkan pada kita. Berat mana? Kalau voting, menang mana?

Namanya dosa turunan, sifatnya seperti lingkaran setan. Kita akan meneruskannya pada anak kita. Dan mereka akan meneruskannya pada cucu kita. Semua itu akan berlangsung otomatis tanpa sadar. We have to stop it. Kita harus putuskan rantai lingkaran setan itu.

Tentu yang harus berubah pertama kali adalah diri kita. Yang bisa kita ubah adalah kita sendiri. Belajar menjadi orang yang ramah dan orang yang mesra. Buang jauh-jauh perasaan gengsi. Atau perasaan takut disakiti. Seperti motto pasukan khusus Inggris, SAS, who dares wins. Siapa berani, yang membuang rasa takut, akan menang.

Kita mungkin akan lecet-lecet dan terluka dalam mencintai orang-orang yang kita kasihi. Mereka mungkin tidak langsung bisa membalasnya. Mereka mungkin tidak langsung mampu mengekspresikan kemesraan yang kita harapkan. Bahkan mereka bisa bersikap, bertindak, berkata-kata dengan cara yang menyakitkan kita. Kita bisa babak belur dalam mencintai. Tapi, who dares win. Kalau kita tidak menyerah, di suatu titik kita akan mengalahkan kebekuan ini. Kehangatan itu akan mencairkan kebekuan es. Dan mereka akan mampu menari dalam tarian kemesraan.

Dan kemenangan ini bukan hanya untuk kita. Kemenangan ini memutuskan lingkaran setan dosa turunan, memampukan anak-anak kita mengasihi pasangannya, dan cucu-cucu kita, dalam kasih yang mesra.

Jadi kalau anda bercita-cita masuk sorga, anda bisa mulai mencicipinya hari ini.

Ramah pada semua orang, mesra pada kekasih hati.


  1. buck stop with me

  2. Salah satu cara ramah kepada orang asing adalah membiasakan diri tersenyum saat berpapasan dengan orang asing.

  3. kadal melet

    sangat setuju…

  4. Reblogged this on Kurdianto' s Blog.

  5. Ferio

    Noted sir.
    Salam kenal pak. Kalau bisa saya ikut menambahkan, “selalu belajar utk dapat berbicara dengan siapapun yang kita temui di hari2 kita melakukan Daily Routinity. Dengan cara apa? Saya kutip sedikit wise words ini ” Know What you already know is nothing, Know what you dont know is something. Prinsip ini saya terjemahkan utk saya dgn memanfaatkan semua elemen hidup yg saya encounter in everydays live, krn Tuhan melakukan rencanaNya utk hidup kita pastilah melalui CiptaanNya yg lain. Karena kita manusia tidak pernah bisa mengetahui “rencana Tuhan” utk hidup kita, jadi secara teori kitapun sebagai ciptanNya tidak akan pernah bisa mengetahui “cara Tuhan” utk menjamah kita. Yang selalu berusaha saya lakukan adalah dengan selalu berusaha utk “mendengar dan berbicara” dimanapun saya berada selama ada waktu yg memungkinkan utk itu. Dan selalu jg berusaha utk menguatkan orang yg sedang kesusahan meskipun saya sendiri sedang menghadapi challenge di hidup saya.. Karena setelah beberapa tahun saya lakukan, selalu saya tanpa saya sadari saat saya “mendengar dan bebicara” utk apapun masalah orang lain yang saya bantu, disaat itulah saya merasa secara otomatis challenge saya diringankan. Pak Armein kalau bisa minta contact-nya pak? Oh iya perkenalkan nama saya ferio pak.
    For me its so enlighting and refreshing to read your written perspective sir. So looking forward to see you in the future pak Armein. Thanks once again.
    Ferio A- “Lakukan – Amini – Imani”

  1. 1 What I learn about Family.. « life is how you make it

    […] Tentang hubungan dengan keluarga atau sesama, saya ada bacaan bagus dari blog favorit saya, bisa baca disini :) […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: