Antara Selera dan Keyakinan

Kalau ada dua hal yang perlu dibereskan dari diri kita, maka itu adalah selera (taste) dan keyakinan (beliefs). Perbuatan dan sikap kita ditentukan oleh selera dan keyakinan.

Saat orang menghadapi sebuah peristiwa, maka ia bisa bereaksi. Reaksinya adalah hasil sebuah keputusan dalam dirinya. Dan keputusannya itu ditentukan kedua hal: selera dan keyakinan.

Misalnya anda haus. Maka anda memilih coca-cola atau teh manis. Ini adalah selera.  Misalnya anda beli pakaian. Pilih model apa, warna apa, itu juga selera. Konon orang bule tidak akan suka buah durian yang enak itu. Itu selera.

Maka keputusan kita ditentukan oleh selera.

Sebenarnya agak celaka juga. Karena keputusan karena selera itu adalah keputusan yang tanpa mikir. Tanpa menimbang-nimbang. Dan para ahli marketing dan iklan banyak mempelajari cara mengubah selera orang. Dulu celana jeans itu jorok, kasar, dan hanya pantas digunakan oleh kuli tambang. Hari ini kita suka sekali, sehingga lebih dari 50% orang yang saya temui di kampus mengenakan jeans. Selera kita berhasil diubah. Dulu lidah kita tidak suka keju, pizza, burger. Hari ini itu makanan favorit. Selera kita berhasil diubah. Kita dibuat suka mi instan dan roti, padahal roti dan mi butuh terigu dari gandum,  gandum tidak tumbuh di Indonesia. Selera kita menguntungkan importir gandum.

Dan ini bisa lebih luas. Kita hanya tertarik pada orang dengan jenis tertntu. Dandanan tertentu. Model pakaian tertentu. Bahkan saya sering dengar ada orang bilang,” Oh dia bukan tipe saya…”. Ini selera. Tapi digunakan bukan untuk barang atau makanan, tapi untuk hubungan dengan orang. Bayangkan kalau Tuhan menolak kita masuk sorga cuma karena penampilan kita bukan tipe yang Ia sukai. “Not my type“, kataNya.  Payah bukan? Karena kita harusnya menilai orang dari karakternya, bukan dari selera.

Jadi waspadai selera kita. Dan jangan membuat keputusan berdasarkan selera.

Kemudian hal ke dua adalah keyakinan, beliefs. Apa yang kita percayai akan menjadi dasar keputusan kita yang serius. Columbus mau menyeberang samudera Atlantik karena percaya bahwa bumi bulat. Semua pelaut yang percaya bumi rata, dan ada pinggiran bumi itu tidak akan berani berlayar. Anda akan berani ikut lomba kalau anda percaya anda punya peluang untuk menang. Anda akan menolak ikut lomba kalau anda percaya bakal kalah.

Mengapa mengerti soal percaya ini maha penting? Karena soal percaya dan keyakinan itu sebenarnya cuma statements kita dalam hati. Kita yang membuatnya. Karena tidak ada bukti bukan?  Tidak ada reasoning. Ataupun kita selalu bisa mencari bukti untuk apapun yang kita mau percaya.

Saya ambil contoh, kalau anda percaya banyak orang pada dasarnya baik, anda bisa mencari buktinya. Sebaliknya, kalau anda percaya orang pada dasarnya jahat, andapun bisa mencari buktinya. Jadi yang mana dong yang benar? Ya yang kita percayai itu lah yang benar. Seperti kata Henry Ford, “Whether you believe you are capable or not, you are always right…”. Jadi saya mengadvokasi paham bahwa kalau anda memilih keyakinan atau kepercayaan, pilihkan keyakinan yang menempatkan anda pada posisi yang istimewa, seperti yang anda inginkan. Kalau apapun yang anda percaya pasti benar, maka mari kita pilih kepercayaan yang membuat kita merdeka, maju, dan berhasil.

Bagaimana kalau salah? Well it is your live. Make your own mistakes. Saya pikir kalau harus salah, pilihlah jenis kesalahan yang membuat kita bahagia. Kesalahan karena melebih-lebihkan hal yang baik bagi kita. Misalnya, anda pilih merasa sudah paling cakep di dunia, padahal orang lain tidak merasa begitu. Biar saja, karena kesalahan seperti ini membuat anda senang. Dan, surprise-surprise, kalau kita yakin seyakin-yakinnya, dan bersikap atas dasar keyakinan itu, maka beberapa orang akan mulai percaya bahwa anda paling cakep di dunia. Magic? Yah, dunia ini memang begitu. Bukankah kita percaya banyak hal yang kita tidak punya bukti, mulai dari isu-isu, barang bagus, konsep, pendapat, sampai ajaran agama, karena ada orang lain yang sangat yakin tentang hal ini, sehingga kita terbawa yakin?

Jadi jelas sudah apa yang anda percaya itu lah yang akan menuntun anda membuat keputusan penting. Oleh sebab itu kita selalu harus waspada apa yang kita percayai, dan apa yang menjadi selera kita. Jangan-jangan keyakinan dan selera kita itu hasil rekayasa orang lain, yang dia juga korban rekayasa kepercayaan dan selera dari orang lain lagi. Kan repot kalau begini.

It is your life. Make your own set of tastes and beliefs.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: