True Happiness

Mengapa dengan mengenal Tuhannya manusia bisa berbahagia?
Kita semua berusaha untuk berbahagia. Dan kita mengejarnya sepanjang hidup. Tetapi kebahagiaan itu sangat elusif. Terlihat di depan. Begitu kita berhasil menangkapnya, tiba-tiba ia hilang.
Kita bisa mencarinya melalui kekayaan. Melalui kekayaan, kita bisa membeli apa saja. Sehingga di hari ini, money is power. Dan kita berharap kita bisa membeli kebahagiaan melalui kekayaan kita. Sepertinya akan berhasil. Tetapi kebahagiaan kemudian menyelip seperti belut. Lari dari genggaman kekayaan.
Kita kemudian mencarinya melalui kekuatan, kekuasaan, power. Dengan kekuatan, kita dapat memaksakan kehendak kita pada orang lain. Dan kita hendak memaksakan kebahagiaan itu. Sepertinya akan berhasil. Tetapi kemudian kebahagiaan lepas seperti burung. Lari dari belenggu kekuatan.
Maka kita mencarinya melalui kebijaksanaan. Melalui hikmat. Melalui ilmu pengetahuan. Dengan kebijaksanaan kita dapat mengerti segala sesuatu. Dan kita dapat mengerti kebahagiaan itu. Sepertinya akan berhasil. Tetapi kemudian kebahagiaan kabur seperti uap. Menghilang dari kejernihan berpikir.
Dimanakah kebahagiaan itu?
Mengapa kita tidak mencarinya pada Sumbernya? Mengapa kita tidak mengenalinya pada Pemberi semua kekayaan, kekuatan, dan kebijaksanaan itu?
Saat kita mengerti jalan pikiranNya, saat kita merasakan perasaaanNya, saat kita melakukan perbuatanNya, saat itulah kita mendapatkan kebahagiaan itu.
Karena kebahagiaan di dalamNya penuh kasih dan kesetiaan. Kebahagiaan di dalamNya penuh cinta. Kebahagiaan di dalamnya tidak lekang oleh waktu, oleh kegagalan, oleh ketidakmampuan kita.
Kebahagiaan di dalamNya penuh keadilan. Tidak merampas hak orang lain. Tidak merugikan pihak manapun. Tidak menyakiti siapapun.
Kebahagiaan di dalamNya penuh kebenaran itu. Tidak menipu diri sendiri. Tidak palsu. Tidak khayalan. Tetapi kebahagiaan yang nyata.
Ia yang menciptakan kita, menciptakan alam semesta, tahu persis bagaimana membahagiakan kita. Kita dapat menggapai kebahagiaan kita mulai dengan mengenaliNya.
Bagaimana kita bisa mengenaliNya? Kita mungkin tidak akan bisa sepenuhnya mengenaliNya. Karena keterbatasan kita. Karena ketidakterbatasanNya.
Sebagaimana kita bisa mengenali orang yang dekat dengan kita, kitapun bisa mengenaliNya dengan mencintaiNya. MencintaiNya dengan lengkap. MencintaiNya dalam perasaan kita sepenuh hati kita. Mencintainya melalui perbuatan dengan segenap kekuatan kita. MencintaiNya dengan pikiran kita, akal budi kita.
Jadi kekayaan kita, kekuatan kita, kebijaksanaan kita itu bukan alat untuk berbahagia, melainkan alat yang kita gunakan untuk mencintaiNya. Hanya dengan mencintaiNya hati, diri, dan pikiran kita secara perlahan mulai bisa mengenaliNya dengan benar. Dari situ kemudian kita bisa mengenali kebahagiaan yang sejati.
Dan kebahagiaan dariNya itu tidak akan lepas, lari, dan kabur lagi. Karena ia akan datang mendekat dan diam bersama kita seumur hidup kita.



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: