Misunderstanding

Salah mengerti dan benci itu adalah dua hal yang sungguh berbeda. Namun amarah adalah jembatannya.
Saat kita tidak dimengerti, tidak dipahami, tidak didengarkan, kita menjadi frustrasi. Dan bagi banyak orang, rasa frustrasi itu kemudian berkembang agitatif. Kita bersuara keras, membentak, dan muncul dalam bentuk amarah. Kita marah sebenarnya karena frustrasi komunikasi tidak nyambung.
Persoalannya amarah juga dekat dengan benci. Kalau orang marah pada kita, kita pikir orang itu benci pada kita. Kalau orang membentak kita, kita merasa tersinggung. Tidak dihormati. Tidak dihargai.
Di sinilah sumber berbagai masalah dan konflik. Hal yang kognitif, netral dari perasaan, seperti tidak saling mengerti ini bisa menjelma menjadi hal yang emosional, sarat perasaan, seperti kebencian. Tidak saling mengerti berubah menjadi saling membenci. Jembatannya? Amarah…
You see? Amarah itu punya dua sayap. Satu rasa frustrasi karena komunikasi tidak sampai, dan satunya lagi kebencian karena harga diri kita dilanggar. Di dalam amarah, kedua hal yang berbeda ini tertukar. Dan amarah itu merambat. Hinggap dari satu orang ke orang lain.
Oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk tidak mudah marah. Tidak mudah frustrasi. Kemudian kita perlu belajar berkomunikasi agar peluang salah mengerti itu bisa berkurang. Kita kemudian perlu belajar memberikan sinyal penghormatan, santun, menghargai.
Pada saat yang sama, kita jangan mudah terprovokasi amarah orang. Kita harus mengasumsikan bahwa amarah itu datang dari rasa frustrasi karena tidak saling mengerti. Bukan dari kebencian. Dan untuk itu, kita berusaha melakukan klarifikasi yang sejuk.
Asumsi ini jarang keliru, karena untuk bisa benci betulan orang harus saling mengenal lama. Dan dalam pergaulannya itu rasa benci itu terkonfirmasi dengan berbagai bukti. Jadi peluang orang saling membenci, apalagi yang tidak saling kenal dekat, sangat kecil.
Terakhir, saya pikir semua usaha kita untuk belajar pada akhirnya harus meningkatkan kemampuan kita untuk saling mengerti. Percuma, bukan, kalau kita mengerti persamaan diferensial, usia alam semesta, berat atom, fotosintesis, teori Darwin, akuntansi bisnis, ilmu politik moderen, sejarah Majapahit, sampai pada isi seluruh Kitab Suci, kalau kita tidak bisa mengerti isi pikiran dan isi hati sesama kita? Kalau kita tidak memahami kekasih dan orang yang kita cintai? Itulah sebabnya kita bersekolah: supaya kita bisa saling mengerti.
Jadi kita perlu mengerti bahwa amarah itu tidak berarti benci. Itu lebih disebabkan oleh tidak saling mengerti. Maka dalam menghadapinya, kita harus berjuang untuk mengertinya, untuk memahaminya, bukan berjuang untuk menghancurkannya.



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: