Marah dan Tangis

Menurut saya amarah dan tangis itu sebenarnya sama saja. Orang minta disayang.

Ada orang yang bisa menangis. Sehingga kalau ia kecewa, sakit hati ia bisa menumpahkannya dengan tangisan. Setelah menangis, kekecewaannya bisa reda. Emosinya bisa turun lagi.

Tapi tidak semua bisa menangis. Banyak orang diajarkan untuk tidak menangis. Apalagi anak laki. Lelaki tidak boleh cengeng. Sehingga ia tidak mampu menangis. Dan yang muncul itu amarah. Dalam banyak hal marah itu sebenarnya suatu bentuk penyaluran dari tangisan.

Kasihan sebenarnya. Meskipun penyebab tangis dan amarah itu sama, hasilnya berbeda. Dengan menangis, terjadi penyembuhan. Tapi amarah tidak menyembuhkan. Ia membakar diri sendiri dan orang lain. Amarah menyebar dan hinggap pada orang lain, yang marah balik.

Jadi kalau ada orang marah pada anda, terutama orang yang anda cintai, maka hampir pasti itu berarti tangisan, minta disayang, minta dimengerti, minta dibujuk. Maka anda harus ekstra sabar. Anda kerahkan semua rasa cinta dan sayang untuk menghadapinya. Jangan terpancing dan membalas marah. Tapi sebaliknya, dalam hati, dalam sikap, dalam perbuatan, dan dalam kata-kata, kita isi reaksi kita dengan penuh sayang dan cinta. Itulah cinta sejati: tetap mencinta seseorang meskipun ia marah pada kita atau menyebalkan kita.

Kita yang pemarah pun harus belajar mengerti hal ini. Kita harus mengenali emosi kita itu. Kemudian kita mengerti bahwa amarah kita itu adalah sinyal untuk kita bertindak. Untuk do something. Untuk mengerti duduk perkaranya. Untuk memahami bahwa ada sesuatu standar yang kita pikir dilanggar orang. Dan mungkin kita salah mengerti. Atau mungkin orang itu tidak tahu standar kita.

Juga sangat penting untuk menyadari bahwa kita tidak pernah bisa, dan tidak boleh, mengendalikan orang lain. Memaksa orang untuk nurut standar kita. Dan jangan pernah menggantungkan perasaan kita, kebahagiaan kita, pada sikap orang lain. Kebahagiaan kita jangan bergantung orang lain. Perasaan kita jangan bergantung orang lain.

Ini akan mengurangi peluang bangkitnya amarah kita.

Terakhir, ingatlah bahwa kemarahan itu seperti nyala api yang selalu membakar perasaaan hati kita. Menghanguskan, menggosongkan hidup kita. Meskipun perasaan marah itu normal, artinya dialami semua orang, jangan pernah membiarkan api amarah kita terus menyala melampaui terbenamnya matahari. Kalau hari sudah malam, gelap, magrib, buanglah amarah itu.

Sehingga kita bisa menyongsong malam hari, waktu kita tidur, dengan pikiran yang damai dan gembira.

Maka di pagi hari, kita memulai hidup yang baru, penuh sukacita, bebas kepedihan…

Advertisements

  1. mc_sea13

    menggugah…mohon izin share ke temen pak

  2. Yang sulit membedakan…marah karena memang kesal, marah karena kecewa ternyata tak sesuai dengan harapan…marah yang depresi…

    Juga menangis karena sedih, menangis karena terharu, menangis karena kesal…dan bagi cewek, menangis bisa ada pada suasana apapun….hehehe

  3. Reblogged this on Kurdianto' s Blog.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: