Perang

Perang jaman dulu jauh lebih berbudaya ketimbang perang masa kini.

Teman saya tertawa saat melihat gambar perang suku di Papua.  Kok seperti karnaval, ya? Yang luka atau mati paling-paling satu orang.

Memang bagi orang jaman sekarang, perang itu mesti seru, tembak-tembakan, saling memusnahkan. Jadi melihat perang seperti tarian, kita tersenyum lucu.

Tetapi kalau kita mengerti hakekat perang, maka kita akan menghargai cara perang suku Papua itu. Sejak jaman dulu orang mengerti bahwa perang sebenarnya adalah mekanisme untuk mengambil keputusan. Decision making. Jadi ada dua pihak yang saling bersengketa, dan tidak mencapai kata sepakat. Maka keputusan ditentukan di medan perang. Siapa yang menang, dia yang benar. Siapa yang kalah perang harus tunduk pada keputusan pemenang perang.

Kalau kita ikuti kisah Mahabarata, misalnya, kita bisa melihat bagaimana perang dilakukan secara berbudaya. Ada masa istirahat. Ada masa saling mengormati. Ada aturan-aturan yang di dasarkan pada kegagahan dan sikap ksatria. Ada pengertian bahwa kemenangan dengan cara yang salah itu tidak sah. Jadi perang itu perlu dilakukan dengan proses dan cara yang tepat. Sikap yang tepat.

Mencari kebenaran lebih penting dari memaksakan kemenangan. Dan apagunanya mencari kebenaran apabila lawan menjadi hancur lebur. Begitu kira-kira filosofi perang.

Tapi itu dulu. Ada di suatu masa di mana kemenangan menjadi lebih penting. Ada orang-orang yang merasa pintar, tapi sebenarnya bodoh, yang merasa bermain curang itu penting. Bermain curang adalah kemampuan yang sah dalam perang. Disebut cerdik. Kemudian semua yang mengadopsi sikap ini ternyata berhasil memenangkan perang. Sehingga sikap ini menjadi universal.

Celakanya, orang yang dicurangi merasa marah dan dendam. Dalam kondisi amarah seperti ini, maka perang adalah pelampiasan angkara murka. Bukan saja untuk mencari siapa yang benar, untuk mencari siapa yang cerdik, tetapi untuk menghancurkan, memunahkan, membasmi orang-orang yang berbeda pendapat itu. Jadi perang bergeser menjadi penghancuran dan pemunahan lawan.

Dan itu yang kita lihat sekarang. Perang tidak saja membunuh tentara, tetapi membunuh kaum sipil, orang tua, wanita, dan anak-anak. Perang menjadi tempat pelampiasan hawa nafsu. Terjadi kepuasan luar biasa dari para pilot militer, saat ia menjatuhkan bom atom pada penduduk sipil di Hiroshima dan kemudian Nagasaki. Dalam perang modern, seperti di Nanking, Bosnia, dan Sudan, terjadi kebrutalan masal di lapangan, terhadap kaum wanita. Perang dunia ke dua ditandai dengan peng-gas-an orang sipil di camp konsentrasi.

Jadi, perang sudah dibajak dari proses pengambilan keputusan menjadi pelampiasan hawa nafsu.

Jadi kalau saya melihat perang suku di Papua, saya tahu itu adalah perilaku yang primitif. Tapi saya masih lebih menghormatinya ketimbang apa yang terjadi di medan perang hari ini. Masih lebih berbudaya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: