Mewah

Jantungan bawa mobil mewah di Jakarta, ujar seorang pengacara sukses. Kalau diserempet motor, gimana?

Beberapa minggu lalu, harian Kompas melaporkan kisah orang-orang sukses di Jakarta. Bagaimana mereka dulunya susah, sekarang bergelimang kemewahan. Terutama pengacara yang khusus menangani kasus-kasus orang kaya. Mereka pasang tarif tinggi. Dan hasilnya, mereka kaya raya.

Apa yang dilakukan dengan kekayaannya?

Yah, hidup mewah. Rumah mewah. Mobil mewah.

Dengan jujur, seorang pengacara kaya mengakui bahwa ia ingin pamer. Ia membeli mobil-mobil mewah agar orang tahu bahwa ia sukses. Ia kaya. Cuma diam-diam dia mengakui selalu jantungnya mau copot kalau sudah berhadapan dengan sepeda motor. Kalau keserempet, lecetlah mobil mewahnya. Bukan nya dia tidak berani mmenuntut ganti rugi. Masalahnya dia tahu pengendara motor itu pasti tidak mampu bayar. Namanya orang naik motor, kan ya?

Saya pikir sah-sah saja orang mau bermewah-mewah. Apalagi itu hasil kerja keras dan kecanggihan kemampuan yang dimilikinya.

Cuma, dalam hati kecil saya, sebenarnya apa yang ia cari? Kemewahan atau ingin dikagumi orang?  Ini sebenarnya dua hal yang berbeda.

Kemewahan itu lebih pada selera yang ingin dipuaskan. Orang merasa senang menikmati kemewahan. Ada suatu level standar cita rasa, yang terbentuk pada sarafnya, yang hanya bisa dipuaskan dengan konsumsi barang mewah. Kalau yang ini tidak terlalu repot. Asal punya uang, punya akses ke barang mewah, beres.

Tapi dikagumi orang itu lain lagi. Itu lebih soal pengakuan. Ingin diakui. Ingin dipuja. Ingin dikagumi. Nah kalau ini repot. Karena bergantung orang lain. Bergantung yang lihat. Bergantung persepsi orang.

Dan hukum alamnya: orang kehilangan aura kehebatan bila ketahuan ingin dikagumi. Begitu kita tahu orang ini masih perlu approval dari kita, maka dia tidak lagi di atas kita. Wong bergantung kita kok. Semua yang bergantung pasti ada di bawah, kata hukum gravitasi.

Justru orang akan kagum pada pengacara ini pada kehebatannya memenangkan perkara, bukan pada kemewahan yang diperlihatkan. Karena kemenangannya itu langka. Perlu perjuangan. Sedangkan kemewahan itu tinggal pergi ke toko dan bayar.

Apalagi ternyata dia ketakutan kalau mobilnya keserempet motor. Berarti tidak kaya-kaya amat, kan ya? Karena bagi orang kaya betulan, mobil diserempet motor, ya beli lagi aja yang baru🙂.  Orang yang masih takut rugi dan takut kehilangan itu by definition miskin.

Jadi saya pikir kemewahan itu baru hebat kalau dibalik. Bahwa pekerjaan kita mewah. Apa yang kita hasilkan itu dianggap mewah oleh orang lain. Seperti desainer dan produser mobil mewah itu. Mereka itu hebat, karena apa yang mereka hasilkan ternyata dianggap bernilai tinggi.

Kita baru hebat bila apa yang kita hasilkan menjadi impian orang lain. Menjadi standar sukses orang lain.


  1. Karena bagi orang kaya betulan, mobil diserempet motor, ya beli lagi aja yang baru

    😆😆😆

  2. like this, pak!🙂

  3. pandangan yang inspiratif

    contoh kejadian banyak nih kayak gini




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: