Senasib Sependeritaan

Dipikir-pikir aneh juga ya? Mengapa istilah senasib sependeritaan itu punya makna kebersamaan yang positif?  Harusnya kebersamaan itu jangan dalam penderitaan dong ya?

Kalau saya tengelam, saya harus berkonsentrasi ke atas. Kalau saya di lembah, mata saya harus ke gunung. Kalau saya terjebak, saya harus mencari jalan keluar.

Jadi kalau cari teman, kita cari teman yang bisa membantu menarik kita dari penderitaan. Atau kita menolong teman keluar dari penderitaan. Atau, better, kita sama-sama menikmati bebas dari penderitaan.

Bukan teman untuk sama-sama menikmati penderitaan, kan?

Saya coba cari-cari istilah yang tepat, sebagai lawan dari senasib sependeritaan, kok tidak ketemu?

Sahabat dalam kegembiraan?  Teman dalam suka? Kawan berbagi kesenangan?

Kok somehow terasa ada sesuatu yang mengganjal. Perasaan guilty. Perasan tidak pantas. Perasaan egois. Karena cuma mau berteman kalau senang.

Mungkin perasaan guilty itu yang salah. Sejak kecil ditanamkan pada kita untuk senasib dalam penderitaan. Makanya kita cuma kompak kalau sama-sama susah. Begitu senang, lari sendiri. Makanya kita semua jadi susah terus, menderita terus. Karena kita senasib sependeritaan. Kita menikmati penderitaan itu, karena ada teman.

Saya pikir jangan begitu. Jangan kita fokus pada penderitaan. Pada kesulitan. Pada masalah. Kita harus fokus pada kebahagiaan. Mata kita tertuju pada kesukacitaan.

Kalau kita sekarang susah, kita jangan mau ngajak-ngajak orang lain supaya ikut susah. Dramatisasi. Menyalahkan orang lain. Buat apa ya? Kita cari saja orang yang happy, sukses, gembira untuk berteman dan membantu kita. Supaya kita tertolong. Dan orang happy ketambahan satu. Dan tidak usahlah curhat-curhatan. Takutnya malah orang itu ikut sedih, dan sekarang jadi ketambahan dua deh orang susah di dunia ini.

Sehingga kita bisa keluar dari penderitaan menuju kegembiraan. And stay there. Bareng…


  1. yuti

    Happily ever after kalau di dongeng🙂 saya senang senasib sependeritaan kalau dapat nilai jeblok kalau ujian, istilahnya di bawah tanah ada tanah. konsep ini malah terbalik dengan istilah lazim: di atas langit ada langit

  2. ikram

    Yang saya tahu sebelumnya senasib sepenanggungan Pak, bukan senasib sependeritaan. Kalau senasib sepenanggungan, bisa positif bisa negatif.

  3. iya pak, senasib sepenanggungan, bukan senasib sependeritaan.🙂

    klo alibi saya sih, sahabat yang baik itu harusnya bisa saling berbagi kesusahan, selain berbagi kebahagiaan. karna sebenernya kebahagiaan itu bisa dbagi dengan siapa aja, tapi klo kesedihan kadang kita ga bisa sembarangan membuka diri dengan orang lain. dan dari penderitaan juga kita bisa tau dan membuka mata, siapa teman kita yang bneran dan teman yang hanya numpang lewat ikutan seneng-senengnya aja. hehe.. itu pendapat saya sih.🙂

  4. gara-gara kata “senasib sependeritaan” inilah…,
    …akibatnya kata “nasib” memiliki makna negatif😆 .

    Jarang saya dengar, “wah, saya dapat hadiah! Nasib..nasib”

    Yang paling sering, “aduh, saya lagi sial ini. Nasib..masib”

  5. haha…nice, pak!🙂
    kenapa ga terpikir sebelumnya ya sama saya bahwa itu sebenernya konotasi negatif.
    kalo gitu saya mau “bersama dalam suka dan duka” aja deh, pak😉

  6. prasetyo fsrd

    mungkin ’empati’ (emphaty) cocok pak..tanpa terjebak pada ‘penderitaan’…




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: