Tiga Cara Belajar

Saya perhatikan, ada tiga cara orang belajar: (1) stimulasi diri, (2) interaksi sosial, dan (3) ekspresi pada komunitas.

Belajar itu adalah proses membuat kita sebagai anak didik mengadopsi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang baru. Hal-hal yang hendak diadopsi ini biasanya kita anggap penting. Tanpa cara belajar yang efektif, proses adopsi ini menjadi sukar. Oleh sebab itu penting kita semua menguasai cara belajar.

Biasanya orang belajar di kelas. Ada guru. Ada dosen. Ada instruktur. Guru ini berinteraksi dengan siswa atau anak didik. Dari interaksi ini terjadilah transfer pengetahuan, sikap, atau keterampilan. Dari guru kepada murid.

Proses ini terjadi dalam dinamika sosial. Dalam interaksi sosial, khususnya melalui percakapan yang dibantu dengan tayangan visual. Maka proses transfer ini hanya terjadi apabila sang siswa memiliki kemampuan untuk menangkap penjelasan sang guru (secara verbal) dan melakukan internalisasi. Selain itu sang guru harus memiliki bahan ajar yang diperlukan serta kemampuan menggunakan sarana verbal untuk menyampaikannya. Ia sendiri harus kompeten. Tanpa kemampuan siswa maupun kompetensi guru ini maka proses belajar seperti ini tidak efektif.

Cara interaksi sosial ini punya beberapa kelemahan. Pertama, lama. Karena semua bahan ajar harus ditransfer melalui saluran verbal. Kedua, bagaimana kalau siswanya tidak siap? Tidak punya kemampuan mengubah informasi verbal menjadi perubahan dalam dirinya? Ketiga, bagaimana kalau gurunya juga tidak punya kemampuan memilih kata-kata yang tepat untuk memicu perubahan pada anak didik?

Saat ini muncul teknologi pendidikan yang baru. Teknologi yang memanfaatkan neuro-science. Kita memahami bahwa secara fisik belajar berarti melakukan perubahan jaringan koneksi antar sel dalam otak anak didik. Nah bagaimana kalau kita bisa langsung melakukan perubahan itu tanpa melalui proses verbal? Maka orang mengembangkan teknologi stimulasi. Stimulasi-stimulasi tertentu melalui indera kita, bahkan langsung pada jaringan saraf kita, sehingga proses rekonfigurasi sel otak bisa lebih cepat terjadi.

Contoh stimulasi yang penting adalah program komputer, games, video, film, bunyi-bunyian, latihan fisik, bahkan hipnotis. Melalui program-program ini, perubahan bisa dilakukan langsung dan cepat, dengan mem by-pass proses verbal. Konon dengan bermain games tertentu, otak kita dapat dilatih untuk mengadopsi suatu konsep dengan jauh lebih cepat. Kita bisa mengadopsi sikap tertentu dengan menonton film. Kita bisa memiliki ketrampilan menghitung dan matematika dengan alat bantu komputer. Kita mengerti konsep fisika dengan melihat dan berinterkasi dengan program praktikum yang dibuat melalui animasi. Kita semakin bisa memainkan alat musik melalui latihan-latihan fisik tertentu.

Pada akhirnya kemampuan belajar yang paling efektif adalah saat kita berekspresi, mendemonstrasikan penguasaan materi. Saat kita berinovasi. Saat kita tampil. Saat kita menyampaikan dan menjelaskan pada orang lain atau di depan komunitas. Di sini terjadi reinforcement yang luar biasa dari koneksi sel otak.

Sebagai contoh, seorang guru akan semakin pintar bila dia sering mengajar materi itu. Suara seorang penyanyi akan semakin bagus bila dia sering manggung. Insinyur semakin pandai bila jumlah gedung yang ia buat semakin banyak. Pilot semakin mahir bila jam terbangnya bertambah. Jadi kita semakin pintar saat kita sering mengekspresikan kemampuan kita itu di depan komunitas pengguna.

Jadi cara belajar itu ada tiga, dan menurut saya urutannya haruslah: (1) stimulasi diri, (2) interaksi sosial, dan (3) ekspresi di komunitas. Stimulasi diri dilakukan untuk mengadopsi kemampuan belajar secara verbal dan visual, dasar dari interaksi sosial. Setelah itu, kita mengikuti program belajar melalui interaksi sosial. Akhirnya kita mulai mempraktekkan yang kita pelajari itu lewat ekspresi di komunitas.

Ingat baik-baik. Belajar itu percuma kalau anda tidak menjadi lebih baik. Lebih happy.

Selamat menjadi pintar.


  1. kuke

    suka bagian yg ini, Pak… “Belajar itu percuma kalau anda tidak menjadi lebih baik. Lebih happy.”




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: