Lupa

Kemampuan melupakan itu sama pentingnya dengan kemampuan mengingat.

Saat kita lahir di dunia sekian tahun lalu, kita datang sebagai bayi yang polos. Tidak tahu apa-apa. Semua bersukacita. Apalagi kita. Dengan penuh antusias kita menyambut dunia ini.

Pada kebanyakan kita kemudian mulai diajarkan realitas hidup. Ada pikiran-pikiran dan konsep-konsep yang kemudian diajarkan pada kita. Turun-temurun. Kepercayaan. Kategori. Kelas-kelas.

Dan yang paling parah menurut saya adalah kita disuruh berkompetisi dalam hidup tanpa persiapan yang cukup. Kita disuruh bertanding pada pertandingan di mana kita pasti kalah. Bagaimana kita bisa menang, kalau hidup mengajarkan penghormatan pada orang kaya sedangkan kita terlahir miskin? Bagaimana kita bisa menang, kalau hidup mengajarkan penghormatan pada orang pintar, sedangkan kita tidak boleh bersekolah di sekolah yang baik?

Kita mulai menyadari akan kelemahan kita. Ketidak layakan kita. Kekurangan kita. Inadequacy. Hidup tidak fun lagi. Kita tersisih. Tersakiti. Tidak lagi berperan. Tidak lagi dianggap. Sementara banyak beban berat yang harus dipikul. Kita terjebak dalam lubang kehidupan yang sempit dan menghimpit.

Mengapa hidup kita bisa terjebak seperti itu?

Karena kita lahir polos. Tidak tahu apa-apa. Tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Tidak tahu mana dari yang diajarkan itu baik atau buruk. Tidak bisa memfilter konsep-konsep yang ditanamkan pada kita.

Bagaimana kalau kelahiran kita itu diulang lagi, tapi kita lahir lebih siap? Kita lahir ulang, restart, reborn, tapi sekarang kita punya kemampuan membedakan mana yang baik dan buruk? Sehingga kita tidak melangkah polos dan masuk ke ruang sempit?

Sangat bisa! Namanya lahir baru. Born again. Anda harus lahir baru. Tapi bukan secara fisik masuk ke dalam rahim ibu, melainkan dalam pikiran, dalam perasaan, dalam spirit, dalam mental, dalam roh. Badan boleh besar seperti sekarang, tapi mental kita menjadi baru. Bayi mental. Bayi pikiran. Batu perasaan. Bayi rohani.

Dan sebagai gantinya kita punya orang tua baru yang mengajarkan konsep-konsep kehidupan yang lebih benar. Orang tua rohani. Yaitu Tuhan sendiri.

Dan ini kita mulai dengan melupakan masa lalu. Melupakan semua yang menghimpit kita. Melupakan semua yang menyakiti kita. Melupakan semua yang menakutkan kita. Melupakan semua yang membuat kita tidak berani mencoba.

Karena semua kepedihan hati, semua ketidakbahagiaan, semua kemarahan, semua ketakutan adalah akibat penerapan konsep kepercayaan yang salah dalam diri kita. Semua pengalaman masa silam itu membuat pola pengambilan keputusan, pola perasaan, terlalu berat dan condong pada kepedihan dan kekecewaan. Kasarnya, saraf kita terlalu diasah untuk peka untuk merasa kecewa, gagal, dan sakit. Dan saraf kebahagiaan kita menjadi tumpul dan tidak sensitif lagi. Kita tidak sanggup lagi melihat berkat dan keindahan hidup.

Oleh sebab itu, lupa itu sangat penting. Kita lupakan semua aturan-aturan dalam diri kita yang menempatkan kita dalam lubang yang sempit itu. Yang menempatkan kita pada kehidupan yang hopeless. Menempatkan kita pada kepahitan dan kegagalan. Menempatkan kita pada ketidakmampuan lagi melihat peluang.

Kita gantikan aturan-aturan lama itu, aturan buatan manusia, dengan aturan baru, aturan buatan Tuhan. Aturan manusia adalah aturan tentang masa lalu. Aturan Tuhan adalah tentang masa depan. Tentang hari esok yang penuh harapan. Tentang kehidupan yang lebih baik. Aturan manusia menjebak kita ke dalam penjara gelap dan sempit akibat kesalahan masa lalu. Aturan Tuhan membebaskan kita ke alam kehidupan warna-warni yang begitu luas demi masa depan yang lebih baik. Aturan manusia tidak percaya lagi akan talenta dan kebaikan hati anda. Aturan Tuhan percaya bahwa anda mampu berbuat baik dan membangun kehidupan hari esok.

Dan sebagi orang dewasa kita sekarang mampu membedakannya.


  1. Budi

    Wow…. Pak, tulisannya sangat menginspirasi.
    Saya mau menggarisbawahi pada kalimat yang ini…

    “Kemampuan melupakan itu sama pentingnya dengan kemampuan mengingat.”

    “… Semua pengalaman masa silam itu membuat pola pengambilan keputusan, pola perasaan, terlalu berat dan condong pada kepedihan dan kekecewaan. Kasarnya, saraf kita terlalu diasah untuk peka untuk merasa kecewa, gagal, dan sakit. Dan saraf kebahagiaan kita menjadi tumpul dan tidak sensitif lagi. Kita tidak sanggup lagi melihat berkat dan keindahan hidup.

    “Aturan Tuhan adalah tentang masa depan. Tentang hari esok yang penuh harapan. Tentang kehidupan yang lebih baik.”

    Terima Kasih banyak Pak Armein.

  2. ada memang hal hal yang sebaiknya kita lupakan. Tapi justru hal hal itulah yang paling sulit dilupakan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: