Anak

Punya anak itu itu seperti punya jantung hati di luar tubuh kita. Sesuatu yang sangat berharga berasal dari kita, tapi punya kehidupannya sendiri.

Salah satu kegiatan yang menyenangkan saya adalah melihat foto anak-anak masih saat masih kecil. Lucu-lucu. Menakjubkan. Dan saya tidak pernah bisa lepas dari keheranan dan ketakjuban saya melihat sekarang mereka sudah besar-besar. Orang yang sama. Tapi sosoknya sudah lain.

Bertahun-tahun sudah setiap hari Ina dan saya selalu bangun pagi. Ina bangun jam setengah lima. Saya menyusul setengah jam kemudian. Ina menyiapkan sarapan serta bekal makanan anak-anak di sekolah. Kemudian kami membangunkan anak-anak satu persatu. Setelah semua persiapan beres, kami berangkat dari rumah jam enam pagi. Drop satu per satu ke sekolah. Setiap hari. Bertahun-tahun.

Mengapa Ina mau melakukan ini bertahun-tahun? Dan tidak pernah mengeluh? Karena anak-anak itu jantung hati. Bagian dari tubuh kita. Gen-gen kita. They are among the reasons we want to stay alive.

Sukar saya melukiskan perasaan saya saat Gladys, Kezia dan saya berjalan dari tempat parkir kampus ke tempat bagian masing-masing. Hari masih pagi dan sepi. Dan saya bisa melihat mereka sudah tumbuh besar. Berjalan di kampus sebagai mahasiswa. Kebanggaan saya. Kebanggaan Ina. Jantung hati. Sambil saya tidak putus-putus berterimakasih pada Tuhan mereka diijinkan bersekolah di kampus ini. Jadi saya bisa lihat mereka setiap hari.

Dan kalau mereka belum pulang sudah larut malam, tidak ada yang bisa tidur. Kami ingin segera mendengar bunyi pintu gerbang di buka. Tanda mereka sudah pulang. Kalau belum, kami sms, kami telepon. Kalau perlu kami berganti pakaian, untuk menjemputnya. Capek-capek juga tidak kami hiraukan. Merka harus pulang dengan aman dan selamat.

Mengapa? Karena anak-anak itu jantung hati. Bayangkan anda mencopot jantung dan hati anda, keluar dari badan anda, dan meletakkan pada tubuh anak-anak anda. Itulah yang terjadi. Anda ingin mereka selamat. Karena jantung dan hati anda ada di dalam mereka.

Tetapi mereka toh harus pergi. Akan memiliki kehidupan sendiri. Dunia sendiri. Akan memiliki kesibukan sendiri. Impian sendiri. Cita-cita sendiri. Pergumulan sendiri. Tantangan hidup sendiri.

Kami hanya bisa berdoa dan berusaha membantu membimbing sebisa mungkin.

Suatu saat mereka akan pergi, kami hanya bisa menitipkan untuk hati-hati, dan be happy all the time. Because you guys are carrying out hearts and minds forever


  1. suka sekali postingannya🙂
    gladys dan kezia jurusan apa pak?

  2. sweet… feel the same bout my kids, sir

  3. menyentuh sekali tulisannya, pak..

    saya jadi tau alasan orang tua saya begitu kuatir kalau saya pulang larut malam, hehehe..

    • idem kak😀

  4. Bertahun-tahun sudah setiap hari Ina dan saya selalu bangun pagi. Ina bangun jam setengah lima. Saya menyusul setengah jam kemudian. Ina menyiapkan sarapan serta bekal makanan anak-anak di sekolah. Kemudian kami membangunkan anak-anak satu persatu. Setelah semua persiapan beres, kami berangkat dari rumah jam enam pagi. Drop satu per satu ke sekolah. Setiap hari. Bertahun-tahun.

    idem ditto Pak …

  5. Hmm dan kondisi itu tak berhenti setelah anak-anak dewasa pak…dan karena kedua anakku sudah keluar dari rumah semua (yang satu kerja di Bali dan satunya dapat beasiswa ke LN)….sebagai orangtua, kami lebih banyak berdoa pada Tuhan, agar anak-anak selalu dilindungi menapak jalan yang benar dan berbuat kebaikan.

  6. tulisan bapak ini mengharukan sekali




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: