Pemimpin dan Paradoks

Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang bisa menjalankan paradoks: punya kelebihan tanpa terlihat berlebihan. Punya kemampuan lebih tanpa menghilangkan kemampuan yang dipimpin.

Tidak ada yang lebih membuat orang frustrasi dibanding punya pemimpin yang tidak punya kelebihan dan kemampuan lebih. Ketika semua urusan macet karena terhambat sang pemimpin. Ketika peluang hilang karena pemimpin tidak gesit. Ketika rasa aman hilang karena pemimpin ketakutan.

Kita mewajibkan pemimpin itu punya kelebihan. Lebih mampu ketimbang orang yang dipimpinnya.

Akan tetapi pada saat yang sama kita tidak juga senang kalau kita jadi tidak berdaya. Diatur-atur sang pemimpin. Disuruh-suruh harus nurut. Seakan-akan kita tidak mampu berpikir. Atau kita tidak punya ide yang lebih baik.

Lha, bagaimana dong? Kalau pemimpin tidak mampu, kita frustrasi. Kalau pemimpin terlalu ngatur, kita tidak senang. Jadi pemimpin itu harus gimana?

Saya kira agar berhasil pemimpin itu harus mampu menjalankan dua hal yang bertentangan secara simultan. Paradoks. Im-Yang.

Dia harus mampu melihat dengan jelas visi ke depan, tapi dia harus mampu membimbing agar yang dipimpinnya bisa melihat visi itu juga. Ia mampu melaksanakan tugas-tugas, tapi ia harus mengajarkannya pada orang lain agar orang lain sanggup melakukannya. Ia harus sanggup membuka jalan baru, dan membuat orang-orang merasa merekalah yang menemukan jalan itu. Seorang pemimpin harus berpikiran lebih maju, tapi sabar tidak boleh membuat anak buahnya ketinggalan.

Salah satu pemimpin kita terbesar adalah Sukarno. Bung Karno. Dia sangat maju untuk jamannya. Pemikirannya tinggi. Pengetahuannnya luas. Termasuk tokoh terbesar dunia. Dan ini terjadi si jaman orang Indonesia masih sangat terkebelakang dalam pergaulan dunia. Tapi tidak pernah sekalipun dia menganggap bangsanya bodoh. Dengan sabar ia hidup ditengah-tengah bangsanya dan  berusaha membangun kepercayaan diri bangsa Indonesia. Nation building. Ia tetap hidup dan akhirnya mati ditengah-tengah bangsanya, bergaul dan berinteraksi dengan menyenangkan.

Pemimpin besar itu harus hebat. Tapi ia tidak pernah pusing dengan sanjungan atau kredit. Bahwa orang harus mengakui dia paling hebat. Dia senang sekali kalau orang yang dipimpinnya secara kolektif berhasil mencapai mimpi mereka. Jadi pemimpin besar sudah mengalami indahnya mencapai impian, dan ia ingin agar keindahan itu bisa dicapai oleh semua.

Kalau kita mendapat amanat menjadi seorang pemimpin, maka itulah saatnya kita berjuang untuk membuat orang-orang yang dipimpin menjadi hebat. Surprise them with opportunities..

Dan kalau kita saat ini merasa hebat dan sudah mencapai impian kita, coba berhenti sejenak, dan lihatlah ke sekitar kita. Siapa saja yang sudah berjuang untuk kita. Siapa yang sudah membuka jalan. Siapa yang sudah berjuang diam-diam untuk kemajuan kita. Surprise them with your respect

Selamat datang Rektor ITB yang baru….




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: