Aman dan Takut

Entah mengapa, keamanan dan ketakutan sekarang menjadi dua istilah berlawanan tapi punya satu roh.

Seharusnya istilah takut dan aman itu saling berlawanan. Saling bertentangan.

Tapi sekarang, kedua kata itu mulai bercampur dan memberikan impak yang sama.

Istilah keamanan justru menimbulkan rasa takut.

Mungkin petugas keamanan sering galak dan kasar. Atau korup.  Atau kebiasaan merekrut preman sebagai petugas keamanan. Jadi kita segan berjumpa dengan petugas keamanan. Tidak sedikit, misalnya, sopir-sopir yang takut dan malas berjumpa polisi lalu-lintas. Jadi muncul rasa tidak aman di tengah petugas keamanan.

Kemudian istilah diamankan ternyata negatif. Artinya kita diciduk diam-diam, dan ditahan tanpa proses legal yang sah.

Kemudian kalau umat Kristen merayakan Natal atau umat Islam mudik merayakan Idul Fitri, selalu situasi keamanan menjadi masalah. Muncul operasi pengamanan polisi. Polisi menempatkan penembak-penembak jitu di pojok-pojok jalan. Jemaat menjadi takut akan adanya pemboman oleh teroris. Belum lagi adanya laskar-laskar sipil yang hilir mudik ikut menjaga tempat ibadah. Maksudnya memberikan rasa aman tapi malah memberikan kesan seram dan persiapan menghadapi serangan. Kalaupun tidak ada teroris, jemaat kewalahan dengan tagihan biaya keamanan dari aparat. Jadi pengamanan Natal atau Idul Fitri menjadi semacam bisnis mahal yang memberatkan jemaat.

Tidak hanya hal-hal seperti ini. Dalam hal perbankan juga sama. Semakin kita membicarakan pengamanan pembobolan ATM, semakin ngeri kita. Semakin bank dan polisi mengamankan rekening kita dari pembobol, semakin kita resah. Betapa ini sudah berlangsung lama, dan pihak Bank dan polisi tidak berdaya dan selalu cuci tangan, mengatakan semuanya aman.

Jadi setiap kita memikirkan peningkatan keamanan, otomatis rasa takut itu muncul. Karena peningkatan keamanan itu punya asumsi bahwa ada peningkatan ancaman.

Saya kira rasa takut sampai membutuhkan pengamanan itu tidak lumrah dalam masyarakat sipil yang beradab. Kita harus berjuang agar masyarakat kita tidak dihantui ketakutan-ketakutan. Agar masalah keamanan bukan isu utama. Masyarakat yang kita cita-citakan adalah masyarakat di mana roh takut tidak menghantui kehidupan.

Dalam skala individu hal ini juga berlaku. Ketimbang kita sibuk mengamankan diri, kita harus belajar untuk tidak takluk pada ketakutan. Fearless. Karena ketakutan itu menghalami kehidupan. Ia membuat kita tidak lagi mendalami kebahagiaan hidup.

Daripada sibuk mengamankan diri, lebih baik buang jauh-jauh rasa takut itu. Cadangkan rasa takut itu hanya untuk Tuhan. So we can start living real life


  1. mungkin istilanya: paranoid ya pak?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: