The High Road

Kesulitan hidup itu seperti lembah dan pegunungan. Anda bisa memilih melaluinya lewat mana. Lewat bawah atau lewat atas.

Orang bisa memperlakukan anda dengan tidak baik. Tidak adil. Sehingga kita kecewa. Baik di tempat kerja, di rumah, di jalan.

Kalau kita marah dan bertindak untuk menyakiti orang lain, maka kita mengambil jalan bawah. Kita melampiaskan kemarahan kita dan membalasnya, maka kita memilih menempuh lembah. Awalnya ringan, enak, puas. Tapi ujungnya kita tiba di lembah yang gelap, dan kita harus bekerja keras untuk naik lagi. Kita ada di bawah, lebih rendah, sehingga kita harus menanjak. Menapaki lagi tebing.

Karena di lembah itu, kita berubah menjadi pahit, sinis, dan penuh kesumat. Dan segala terasa buntu, gelap dan sukar. Kita tidak tahu lagi kita berada di mana.

Sebaliknya kalau kita bertindak mulia, dengan agung, gracious, santun, dan anggun, maka kita memilih jalan atas. High road. Jalan atas ini membuat kita bisa melewati kesulitan ini dan tiba di tujuan dengan tetap berada di atas. Benderang dalam keagungan.

Di puncak, kita selalu bisa melihat ke segala penjuru. Melihat seluruh keindahannya. Semua peluang. Semua kemungkinan. Melihat kesulitan hidup dalam perspektif yang lebih luas.

Jadi kesulitan akan datang. Setiap hari. Ambilah selalu jalan atas. The high road. Jalan yang penuh syukur, terimakasih, dan agung…


  1. terimakasih inspirasinya pak hehe. betul itu😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: