Demokrasi betulan

Demokrasi itu bukan cuma soal voting. Demokrasi itu tentang partisipasi semua dalam membangun.

Ada suatu paradoks. Orang menuntut hak untuk memilih pemimpin. Karena menurutnya, itu cara yang demokratis.  Tapi kemudian setelah pemimpin terpilih, ia menuntut mana karya pemimpin itu?

Sekilas ini wajar, tapi sebenarnya paradoks.

Demokrasi itu berarti kekuasaan ada di tangan rakyat.  Dan kekuasaan itu terlalu sempit kalau hanya digunakan saat memilihin pemimpin. Kekuasaan itu justru harus digunakan dalam menjalankan kekuasaan. Demokrasi yang sebenarnya adalah saat rakyat bisa ikut membangun. Ikut menjadi penentu arah. Ikut menjadi pelaksana. Ikut mendapat kue dari hasil pembangunan.

Jadi saat kita menuntut hasil, maka dalam demokrasi tulen, kita tidak bisa menuntut pada pemimpin yang kita pilih, tapi kita juga menuntut pada diri kita. Mana hasil kita?

Ambil contoh, kasus Prita. Saat dukungan masyarakat di Facebook dan dukungan melalui pengumpulan koin untuk Prita meluas, maka rasa keadilan masayarakat itu akhirnya bisa terwujud. Tanpa itu, presiden, menteri, hakim, polisi, jaksa, semua tidak berdaya menegakkan keadilan. Ini contoh nyata penerapan demokrasi yang menentukan hasil.

Jadi esensi sebenarnya dari demokrasi adalah kesediaan rakyat untuk memikul tanggungjawab membangun. Tidak menunggu pemerintah. Tapi bisa berinisiatif sendiri dalam komunitas.

Beberapa hari lalu kami melakukan video conference dengan Gubernur Papua. Beliau menceritakan bahwa Papua menyediakan dana untuk setiap Kampung. Dan Warga Kampung setiap tahun bisa menyusun program dan melaksanakannya untuk kampungnya. Ini contoh demokrasi pembangunan.

Dosa terbesar orde baru adalah mengambil inisiatif itu dan memindahkan semua pada aparat pemerintah. Sehingga pemerintahlah pelaku pembangunan, dan masyarakat hanya obyeknya.

Dengan meluasnya pendidikan, teknologi informasi, dan konsep open society, maka kita bisa merebut inisiatif ini. Pemerintah ujungnya hanya berfungsi sebagai fasilitator.

Kalau sudah begitu, maka kita punya demokrasi betulan.

Advertisements

  1. Ini yang menurut saya menggelikan..masyarakat menuntut pemerintah, tapi tak pernah berpikir atau melihat diri sendiri, apakah yang berteriak kencang itu pernah berkarya apa tidak?
    Dan saat seorang pengamat, yang sering mengkritik kebijakan, dijadikan Pimpinan, yang diharapkan bisa mengubah peta kehidupan dan kebijakan ekonomi di Indonesia…ternyata juga nggak bisa berbuat banyak…dan lucunya malah menceritakan kesulitan…yang mestinya dia diskusikan saat ada rapat antara para pemimpin tsb.dan bukan di publish ke umum.

    Kayaknya kita sekarang lebih suka omong dari bertindak…. Menurut saya, karena media lebih memilih “Bad News” adalah berita yang layak disebarkan, maka berita baik dan contoh baik menjadi terlupakan…Karena rating?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: