Susno, Kumbakarna, Wibisana

Susno Duadji diancam. Keluarga nya mau dicelakai. How do you make of all these?

Saya termasuk pengagum Susno Duadji saat beliau menjadi Kapolda Jawa Barat. Belum pernah saya melihat pejabat sehebat beliau. Langsung polisi seluruh Jawa Barat bertindak disiplin dan sopan. Poltabes Bandung langsung bersih dari calo SIM. Saya sempat berdoa semoga beliau bisa menjadi Kapolri, menegakkan kehormatan Polri di hati seluruh rakyat.

Tapi kemudian serangkaian berita membuat saya bingung. Mulai cicak vs buaya, Bank Century, kasus Antasari, kasus somasi Bambang, sampai terakhir perseteruannya dengan pimpinan Polri. Saya tidak mampu lagi mengenal sosok beliau. Saya sempat mulai meragukan kekaguman saya dulu itu.

Tapi mungkin itu tidak penting. Tidak penting apa yang saya pikirkan. Yang penting itu, apa yang Susno Duadji harus lakukan sekarang.

Semoga Susno Duadji tidak berbohong saat dia menceritakan dulu betapa susahnya hidup ayah-ibu (angkat?) nya sebagai pedagang kecil yang sering dipalak polisi. Polisi yang harusnya melawan penjahat sudah berubah menjadi penjahat. Sehingga ia bertekad untuk masuk polisi, dan menegakkan kehormatan polisi sebagai pelindung orang lemah. Orang seperti ayah-ibunya.

Maka Susno Duadji memilih menjadi bhayangkara, pahlawan bangsa. Perwira jagoan untuk melawan penjahat.

Sekarang bagaimana? Nasi seperti sudah menjadi bubur. Suatu saat Susno Duadji seperti berseberangan dengan rasa keadilan masyarakat. Di saat lain ia seperti melawan institusinya sendiri untuk memihak masyarakat. Belum lagi desas-desus Susno sebagai orang kepercayaan SBY, yang mengetahui banyak rahasia presiden. Kita tidak tahu lagi bagaimana bersikap terhadap sepak terjang Susno Duadji.

Kembali lagi, mungkin bukan itu yang terpenting. Yang terpenting itu justru bagaimana Susno Duadji menemukan kembali apa yang menjadi perjuangan hidupnya. Apa yang menjadi dasar keperwiraannya.

Tidak banyak model atau contoh yang bisa Susno gunakan sebagai panduan dalam hal ini. Tapi tradisi perwira itu sebenarnya sudah sangat mendalam dalam kultur kita, yang bisa digali dari kisah epik Ramayana. Secara khusus saya ingin menyoroti dua tokoh: Kumbakarna dan Wibisana. Kedua tokoh ini adalah dua orang terpenting di kerajaan Alengka, pimpinan Rahwana. Pada saat Alengka diserbu tentara koalisi pimpinan Rama, Kumbakarna dan Wibisana tahu bahwa ini semua dipicu kesalahan Rahwana soal rebutan istri. Rama ada dalam pihak yang benar, Rahwana dalam pihak yang salah.

Tapi pilihan sepak terjang Kumbakarna dan Wibisana berbeda. Kumbakarna memilih jalan pahlawan, berperang melawan serbuan Rama, dan gugur sebagai pahlawan. Di pihak yang kalah.

Wibisana memilih menyeberang ke kubu Rama, dan menjadi penasehat utama mengenai seluk beluk Alengka, sehingga akhirnya akhirnya Rama bisa mengalahkan Rahwana yang super sakti. Wibisana berada di pihak yang menang.

Dua-dua terhormat, terutama di mata kubu masing-masing. Akan tetapi jauh di lubuk hati kita, kita lebih menghormati Kumbakarna ketimbang Wibisana. Karena Alengka diserbu dan Kumbakarna ujungnya membela rakyat Alengka, negara Alengka. Pikirnya, masak cuma soal perempuan, negara ini diserbu.

Saya pikir, Susno bisa memilih menjadi seorang pemain sandiwara yang hebat, atau betulan perwira. Dalam pertarungan yang sesungguhnya, ia bisa memilih menjadi orang aneh, pundungan, atau orang yang memutuskan untuk meninggalkan semua kekonyolan, cover ups, dan kembali ke darma dari seorang perwira. Canggih dalam pengetahuan seluk beluk trik taktik, tapi polos dan lugu dalam tujuan. Perwira yang kembali pada rakyatnya dan tahu kepentingan dan perlindungan rakyat ada di atas segala-galanya.

Point saya, sudah waktunya Susno Duadji mengingat mengapa dulu ia ingin menjadi polisi. Kemudian kembali pada apa prinsip seorang bayangkara, seorang perwira. Dan Susno Duadji ada dalam posisi yang sangat strategis untuk mengungkap semua yang tidak benar, kemudian berjuang, bahkan berkoban, agar Republik ini menjadi baik. Agar mafia hukum bisa dihentikan. Agar keadilan ditegakkan. Agar hak rakyat dilindungi. Agar negara tidak lagi dirampok gurita berbagai kepentingan. Agar bangsa kita bisa masuk abad 21 dengan lebih kokoh. Agar kita mewariskan negara yang lebih baik pada anak cucu kita.

Ancaman pembunuhan bisa mengerikan bagi rakyat biasa, tapi makanan sehari-hari seorang pahlawan dan perwira yang sedang melawan penjahat. Sekarang waktunya Susno Duadji untuk berkorban dan berperang. Meninggalkan kepentingan pribadi untuk mengusung kepentingan yang lebih besar. Dan pengorbanan itu akan sangat berharga kalau itu dilakukan untuk suatu cita-cita yang luhur tadi. Suatu cita-cita yang dulu pernah hinggap dalam sosok Susno Duadji kecil. Bahwa polisi itu adalah pahlawan rakyat…

Make your choice, General, and choose the right thing. And God will be with you


  1. Peristiwa belakangan ini memang harus kita sikapi dengan hati-hati.
    Kebetulan bapak mengenal pak Susnoo, saya mengenal beberapa orang yang sekarang menjadi berita, sering diskusi, melihat beliau bekerja keras. Kadang bingung, apa yang sebenarnya terjadi?

    Saya berharap semoga kasus yang aneh2 ini segera terang benderang dan selesai, karena bagi Indonesia yang diperlukan tak hanya mengurusi hal seperti ini, namun juga bekerja keras agar rakyat Indonesia hidup lebih baik.

  2. yus

    kesetian pada keyakinan akan kebenaran. untuk siapa dan untuk apa kita harus setia?

    pilihan sulit diantara masalah yang sulit.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: