On Being Nice

Dibanding kepintaran, saya semakin lebih menghargai kebaikan hati.

Di ITB itu banyak orang pintar. Sejak saya masuk kampus ini, saya bertemu dengan teman-teman saya yang luar biasa. Hebat-hebat. Pintar-pintar.

Kita memang sangat menghargai kepintaran. Karena kepintaran itu membuat kita banyak tahu. Hal-hal yang lama maupun yang baru. Dan ini bisa kita wariskan ke generasi berikutnya. Sehingga masyarakat kita tambah pintar.

Jadi di lingkungan saya, orang berlomba memperlihatkan kepintaran dirinya. Kehebatan dirinya. Karena ini akan menaikkan nilainya di hadapan komunitas. Otomatis ini berarti kenaikan status.

Tidak terasa, ini bisa membuat hati orang gelisah. Karena ia bisa saja sebenarnya istimewa. Ia memiliki prestasi yang di atas rata-rata. Tetapi bagaimana ia bisa diapresiasi? Karena orang yang harusnya menghargainya sedang sibuk memperlihatkan kehebatan masing-masing. Dalam hiruk pikuk orang saling memperlihatkan kehebatan diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain?

Dalam situasi seperti ini, kebaikan hati, kindness, being nice, itu sangat langka. Dalam komunitas penuh persaingan kehebatan seperti ini, kebaikan hati itu jarang dijumpai. Karena itu hanya bisa diberikan oleh mereka yang benar-benar hebat. Benar-benar istimewa.

Dan sungguh berharga bisa berjumpa orang dengan kebaikan hati dan perilaku seperti ini.

Salah satu nya adalah Prof. Dr. Sukirno, guru besar Fisika ITB.

Beliau itu kawan saya, sejak kami berjuang kuliah di luar negeri di tahun 80an akhir. Kami sama-sama dikirim oleh Pusat Antar Universitas. Dan prestasinya selalu luar biasa, dengan pengalaman yang luas. Dalam usia yang muda, beliau sudah mencapai jabatan Profesor. Dan belakangan beliau itu bertugas sebagai Sekretaris MWA, badan tertinggi di ITB.

Meskipun angkatan beliau dua tahun di atas saya, saya selalu senang berada di dekat beliau. Orangnya selalu baik hati, sopan, dan sangat menghargai saya.

Gini-gini juga, saya itu bisa penuh opini. Penuh pendapat. Dan terkadang senang berdebat, dan menyalahkan pendapat orang lain. Tidak jarang asal bunyi. Jadi tidak semua orang di kampus itu senang bertemu saya.

Kecuali Mas Sukirno.

Rasanya dalam situasi apapun, mas Kirno itu selalu menghargai saya. Membuat saya merasa seperti orang penting. He has no idea how it makes me feel.

Tadi pagi saya sangat terkejut, mendapat kabar Mas Sukirno wafat. Terlalu dini. Tapi rupanya Tuhan senang berada di sekitar orang-orang nice dan kind. Jadi Ia ingin memanggil Mas Kirno untuk mendapatkan tempat yang lebih pas.

Selamat jalan Mas Sukirno. Terimakasih untuk semua kebaikan yang sudah saya terima.  Terimakasih untuk contoh dan teladannya. Saya akan turuti. Pasti, bro..


  1. semoga cerita tentang kebaikan Pak Kirno bisa jadi inspirasi semua orang🙂

  2. Ikut belasungkawa pak.

    Betul pak..kampus ITB banyak yang pintar…dan konon katanya juga sombong. Dan katanya pula, kalau tak sombong tak akan terlihat..
    Mudah2an ini cuma omong kosong, walau saya memperhatikan memang beda, jika dibandingkan dengan alumni lain yang walau pintar tapi lebih rendah hati.
    (Saya justru lagi men drill anakku yang juga kuliah disini, bahwa kebaikan hati ini perlu, team work itu perlu..dan kalau jadi pimpinan yang paling penting adalah bagaimana cara komunikasi dengan lingkungan, bawahan, dan teman….bukan hanya kepintaran)

  3. Bapak Sukirno memang redah hati orangnya. Saya pribadi pernah menjadi mahasiswa bimbingan TA beliau. Mengenai tingggi-rendah hatinya civitas ITB, biar lah orang memberi penilaian masing-masing, Tuhan pun punya penilaian sendiri.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: