Learning

Untuk menjadi manusia modern, kita tidak cukup lagi hanya memiliki kemampuan baca tulis. Seperti kata Alvin Toffler, kita harus mampu belajar sesuatu yang baru (learning), mampu membuang apa yang sudah dipelajari (unlearning), dan mampu belajar ulang (relearning).

Belajar itu berarti membuat sambungan-sambungan neuron baru dalam otak kita. Otak kita melakukan reorganisasi. Sel-sel otak yang tadinya tidak terhubung menjadi terhubung. Dengan terjadinya jaringan-jaringan baru itu, maka kita mengadopsi skill, pengetahuan, dan sikap yang baru.

Tetapi tidak jarang, apa yang kita pelajari itu tidak relevan lagi. Pengetahuan kita salah. Bahkan sifat kita itu menjadi kebiasaan yang menghambat kemajuan kita.

Kita perlu proses unlearning: memutuskan hubungan-hubungan yang ada. Kita perlu  membuang kebiasaan lama. Melupakan pengetahuan yang salah.

Kemudian kita melakukan relearning. Kita mengganti sambungan yang lama dengan sambungan yang baru. Rekonfrigurasi jarigan antar neuron. Sehingga kita memperoleh pengetahuan pengganti. Skill pengganti. Sikap yang beda dari sebelumnya.

Kemampuan merekonfigurasi otak ini (learning, unlearning, dan relearning) perlu kita lakukan dengan cepat. Berulang-ulang.

Dalam belajar ini, kita disebut cerdas apabila kita mampu melakukan rekonfigurasi dengan cepat, dan menggunakan neuron sesedikit mungkin. Rekonfigurasi yang cepat itu membuat kita cepat belajar. Dan bila kita menggunakan neuron seminimal mungkin, maka kita bisa menggunakan neuron yang lain untuk kebutuhan skill yang lain. Dengan demikian kemampuan kita semakin banyak.

Jadi saya pikir kita semua harus berusaha agar memiliki kemampuan belajar modern ini (learning, unlearning, dan relearning). Ini berarti kita harus sekaligus menjadi murid dan guru bagi diri kita. Siswa dan instruktur bagi diri kita.

Jadilah seorang guru yang terbaik bagi diri kita.


  1. atau mungkin, bisa mempelajari sesuatu dari berbagai sudut pandang.

  2. Tulisan bagus mengenai “learning ability”.

    Selain kemampuan, ada juga yang perlu ditambah, yaitu “mencintai belajar” (to love “learning”).

    Sebagai mantan pengajar, aku merasa perlu membuat peserta ajar mencintai belajar. Antusiasme peserta ajar terhadap bahan ajar ditingkatkan oleh pengajar.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: