Show Me Your Example

Daripada sibuk berdebat, seharusnya orang mendukung pendapatnya melalui contoh yang ia buat sendiri.

Dalam percakapan atau dalam rapat, orang sering berdebat. Orang merasa pendapatnya paling benar. Tidak jarang orang itu memaksa agar pendapatnya menjadi pendapat bersama atau keputusan bersama.

Ya tentu hak setiap orang untuk punya pendapat sendiri.

Tetapi kalau pendapat itu menentukan nasib kita semua, maka pendapat itu perlu ditunjang oleh bukti. Pendapat itu perlu ditunjang dengan pengetahuan dan pengalaman.

Jangan cuma opini atau wacana.

Nah orang bisa menopang pendapatnya dengan argumentasi. Dengan logika. Dengan menunjuk suatu peristiwa.

Tetapi argumentasi terbaik mestilah bukti keberhasilan yang kita peroleh saat kita melakukan sesuai pendapat kita itu. Dengan kata lain, pendapat kita itu harus kita coba sendiri dulu sampai berhasil baru kita bisa sampaikan untuk diadopsi bersama.

Karena talks are cheap. Ngomong itu mudah dan murah, bukan?

Sebaiknya kita coba dulu omongan kita itu sendiri. Kalau berhasil, baru kita lontarkan untuk menjadi pendapat bersama.


  1. Sayangnya sekarang semakin banyak orang berani ngomong tanpa data dan fakta, melalui media lagi…Dan rasanya orang bangga kalau berani ngomong paling keras…tanpa memberikan solusi.
    Padahal apa gunanya mengkritik, kalau cuma omong doang, dan tak tahu solusinya? Berarti sama saja dengan yang dikritiknya.
    Dan orang yang nggak paham, akan bisa langsung tergoda untuk mempercayai hal tersebut.

    (Membuat makin malas menonton TV)

    • oleh karena itu, ada “pepatah” mengatakan:

      “Apabila argumentasimu lemah, keraskan suaramu”

      😆

  2. Saya tertarik sekali dengan masalah budaya, apalagi generasi sekarang mulai tergerus dengan budaya pop, oleh karena itu saya mencoba membahas dan melestarikan salah satu budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia. Mohon masukan dan dukungannya, makasih 🙂

  3. Ya begitulah pak. Orang sekarang lebih banyak berbicara memakai emosi, bukan logika. Lebih banyak adu penghakimannya daripada adu argumentasi nya 😆

  4. Di Indonesia, (kadang-kadang) kepemimpinan ditentukan dari siapa yang paling banyak omong dan siapa yang suaranya paling keras.

    Pengalaman pribadi, gara-gara kebanyakan ngomong, saya sempat ditunjuk (maksudnya dipilih) jadi pemimpin sebuah organisasi pemuda. Dan ternyata kegiatan organisasi berantakan. Sejak saat itu, “I keep my mouth shut”.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: