Takut tua?

“Obat penyakit takut tua itu apa?”, celetuk Ina saat saya cerita bahwa ada banyak penyakit takut. “Yaa, harus menganggap tua itu suatu kelebihan, kehebatan, lebih hebat dari yang muda..” jawab saya.

Takut itu normal, karena ia melindungi kita dari bahaya. Tetapi takut bisa berubah menjadi penyakit kronis yang justru berbahaya. Yang kita harus takuti itu justru rasa takut itu sendiri.

Salah satu rasa takut yang menghantui orang ternyata takut menjadi tua. Ini sebenarnya versi lain dari takut mati. Tua itu membuat kita semakin dekat dengan mati atau gampang sakit. Atau bagi banyak orang, terutama wanita, tua itu menjadikannya tidak cantik, dan membuatnya rawan dimadu atau tidak diingini. Kalah dari yang muda.

Jadi kalau takut tua ini penyakit, obatnya apa?

Obatnya ya itu, cara pandangnya yang diperbaiki. Kata siapa tua itu kalah dari yang muda? Justru usia itu suatu kelebihan, yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh yang muda. Orang tua itu sangat berpengalaman. Dan pengalaman itu kunci untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Rambut putih itu lambang kebijakan. Lambang kematangan. Jelas lebih hebat orang berpengalaman ketimbang orang yang masih hijau.

Mikirnya harus begitu.

Ina menangguk-angguk mengerti. Cuma dari wajahnya jelas Ina masih ingin tetap muda. Sering orang tetap ingin tidak cepat tua. Atau kalau bisa mau mengkombinasikan kemudaan dengan kematangan. Usia boleh tua, semangat tetap muda.

OK lah kalau begitu….

Ada caranya juga.

Jangan berhenti bermain, playful, meskipun umur bertambah. waktu kita masih kanak-kanak, kita senang bermain bukan? Tertawa terbahak-bahak dan having fun bahkan untuk hal-hal yang sepele. Dengan tumbuh dewasa, kita berubah menjadi serius.

Jangan begitu. Jangan terlalu serius. Jangan berhenti bermain. Playful.

Karena justru kita menjadi tua karena berhenti bermain.


  1. berarti Hatta Rajasa itu bijak banget dong, Pak? (kan rambutnya putih, hehe..)😀

  2. andriyan

    Jawabnya: investasi yang baik Pak.

    Apapun bentuknya, investasikan waktu dalam hidup kita untuk melakukan kegiatan yang punya interrest-rate yang tinggi. Sehingga, semakin bertambah umur kita, “value”-nya bukan berkurang, tapi malah semakin bertambah–secara eksponensial kalau bisa.

    Sebagai contoh, orang Islam mengenal amal jari’ah, misalnya ilmu yang diamalkan; semakin banyak orang yang memakai (men-citasi) karya kita (y.i. ajaran, buku, suri-tauladan, makalah, dst), semakin banyak pula pahala yang akan diperoleh; bahkan akumulasi itu tetap berjalan ketika kita sudah tiada.

  3. yuti

    dalam beberapa kasus, menjadi/memiliki tampang tua memang kelebihan. saya sering berada dalam forum dengan usia 20 tahun di atas saya, dan lebih sering jadi anak bawang😦

  4. Salah satu penyebab takut tua adalah, kesehatan dan kondisi fisik yang menurun. Tidak lagi sebugar dan se-fit seperti masa muda.

    Solusinya: Coba ganti pola makan dengan pola makan sehat.

    Sebagai contoh, ada seorang nenek berumur 102 tahun, dari kecil vegetarian murni. Sehingga dia selalu sehat, dan masih bisa menyetir mobil sendiri tanpa bantuan (pernah masuk ke majalah National Geographic Channel).

  5. Cara menjadi sehat adalah makanlah sesuai metabolisme tubuh. Orang yang punya tekanan darah rendah tidak mungkin jadi vegetarian murni, nanti bisa pingsan di jalan.

    • Saya tidak menulis bahwa semua orang harus menjadi vegetarian murni. Dan saya sendiripun bukan vegetarian murni. Saya hanya menulis pola makan nya yang harus diubah menjadi sehat. Silakan saja makan daging, gula, zat kimia sintetik, fastfood, dll. asal jangan berlebih, dan harus diimbangi dengan sayur dan buah organik, serta air putih.

      Kalo tidak dibiasakan makan sehat, nanti seperti orang-orang bule pada umumnya. Kalau sudah tua, sehari minum obat itu puluhan pil (saya sudah sering lihat dengan mata saya sendiri), bahkan kalau saya baca majalah kesehatan, ada yang bisa sampai 100 pil per hari. Yang mana sebenarnya permasalahan sakit-sakit mereka hanyalah karena pola makan yang tidak baik.

      Ini ada satu kutipan lagi:

      A significant study of Seventh-Day Adventist Christian, who ate little or no meat showed increased longevity of life of 7,28 years in men and 4,42 years in women

      (G.E Fraser and D. J. Shavlik, “Ten Years of Life: Is It a Matter of Choice?” Archive of Internam Medicine 161 no.13 (2001): 1645-1652)

      Pada intinya, “You are what you eat”😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: