Thank you so much, President Wahid

Saya sedang berada Stanford University, Palo Alto California, saat Jay Leno, host acara Tonight Show membuat lelucon tentang ada orang buta bisa terpilih menjadi presiden. Muncul gambar Presiden Abdurahman Wahid. Semua penonton tertawa.

Saya hanya menggeleng kepala. Belum tahu dia. Dalam suatu era badai yang paling gelap dalam sejarah Republik Indonesia hanya orang buta ini yang bisa menuntun 230 juta penduduknya.

Saya termasuk yang paling kecewa saat Megawati terganjal apa yang disebut poros tengah menjadi presiden menggantikan Presiden Habibie. Saya merasa kemenangan pemilu PDIP saat itu di rampok. Pilihan rakyat dibajak. Sidang MPR saat itu memilih Abdurahman Wahid, alias Gus Dur, dari partai PKB yang kalah pemilu.

Tetapi kepala Presiden Wahid ternyata seperti terbuat dari batu karang. Keras. Ia tidak bisa disetir siapapun, kecuali cita-cita luhur bangsa Indonesia. Dan bisa sangat kontroversial. Dengan berani, misalnya, dia mengusulkan pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel. Usulan itu tidak terwujud, lebih karena Israel tidak siap.

Tapi tindakannya yang paling membuat saya sangat kagum sampai hari ini adalah saat Presiden Wahid memilih berkonfrontasi dengan TNI, memerintahkan Panglima TNI Jenderal Wiranto untuk berhenti. Dalam suatu power struggle yang paling berani, Presiden Wahid mengerahkan aura kekuatan politik yang sangat tidak lumrah untuk menekan Jenderal Wiranto. Singkatnya Presiden Wahid pergi ke luar negeri kemudian mengultimatum TNI, sekembalinya saya dari luar negeri Panglima TNI sudah harus mundur.

Dan Presiden Wahid menang. Ia berhasil meletakkan TNI untuk berada di bawah kekuatan sipil. Ia menegakkan supremasi sipil. Bergenerasi-generasi rakyat Republik Indonesia akan mengenang tindakannya itu dan berterimakasih.

Presiden Wahid melakukan banyak tindakan yang tidak lumrah. Tidak bisa dimengerti dari kacamata political sciences. Tapi begitu jelas dalam kerangka berpikir seorang Nahdliyin sejati.

Namun ada suatu hal yang sangat jelas dan konsisten di lihat dari perspektif manapun: Presiden Wahid berjuang untuk bangsanya. Ia menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan semua golongan. Ia inklusif. Semua warga negara berhak sama. Ia memiliki cara pandang yang sejalan dengan semua pemimpin besar Republik Indonesia. Ia setara dengan Soekarno, Hatta, Yamin, Sutan Sjahrir, Natsir dan para pendiri Republik besar ini.

Kata orang kaum Nahdliyin itu tradisional. Dengan kata lain: kuno. Tapi realitas ternyata tidak begitu.  Betapa modernnya pandangan yang keluar dari kaum ini. Betapa besar pengaruh pemikiran, kontribusi dan pengorbanan kaum ini dalam meletakkan dasar Indonesia modern. Dan pemikiran ini diambil dan digali dari nilai-nilai luhur bangsa. Asli. Bukan impor dari Barat, Asia Timur, atau Timur Tengah. Dan pandangan ini dipersonifikasikan dalam sosok Presiden Wahid.

Berbagai penyakit mengakibatkan mata Presiden Wahid tidak seperti kebanyakan orang. Ia nyaris buta. Tapi kualitas sikap dan tindakannya melebihi kebanyakan kita yang bermata normal. Saat semua politisi bertindak dan bermanuver demi kekuasaan, Presiden Wahid berjuang meletakkan dasar-dasar penting dalam bernegara.

Oleh sebab itu kekecewaan saya berlipat saat MPR menurunkan Presiden Wahid di tengah jalan. Poros tengah dulu bermanuver mendudukkan Wahid sebagai presiden, dan sekarang mereka kembali bermanuver menurunkannya. Mungkin ini dianggap kemenangan permainan politik. Tapi bagi saya ini kekalahan proses pergantian kepemimpinan secara berdemokrasi.

Sejak saat itu dalam hati saya berjanji akan terus memanggil beliau presiden. Bukan mantan presiden. Tapi presiden. Presiden Wahid. Meskipun beliau tidak lagi resmi menjabat.

Dan Presiden Wahid mampu menjaga martabat dirinya yang mulia, sederhana dan merakyat, bahkan sampai saat ia wafat. Pergi ke rumah sakit digotong-gotong sebagaimana rakyat biasa. Peti jenazah begitu sederhana. Orang-orang sederhana datang berkumpul memberikan penghormatan.

Saat seseorang bisa hidup dengan menjaga martabatnya sampai akhir hayatnya, ia menggembirakan semua orang. Karena kemenangan ini adalah kemenangan kemanusiaan.

Tadi pagi saya minta bendera merah-putih yang disimpan Ina. Saya mengambil tiang bendera dari bambu sederhana, dan mengikat sendiri tali temali bendera setengah tiang di garasi. Perlahan-lahan dengan penuh rasa terimakasih. Dengan penuh hormat kepada Presiden Wahid, pemberian Tuhan yang besar untuk republik besar ini.

Dan bendera setengah tiang itu akan berkibar tujuh hari lamanya. Dan akan berkibar penuh tiang di hati seluruh bangsa bergenerasi-generasi.

Thank you so much, Mr President


  1. Selamat jalan pak Gusdur. Semoga teladan bapak (terutama dalam toleransi beragama) ditiru oleh penerus bangsa.

  2. diego

    Aduh, coba kalau bapak nelpon langsung pas live acara itu, biar tau tu si Jay Leno. Kereng ejer (kurang pengajaran maksudnya, alias ignorant) tuh bikin lelucon🙂

  3. Tulisan yang mencerahkan.
    Terima kasih Gus Dur. Seorang pejuang dan pahlawan layaknya pemimpin era kemerdekaan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa, bukan kemerdekaan golongan.
    Semoga selalu berbahagia di alam sana.

  4. Reblogged this on zarrina.

  5. Mahrizal

    Mantap pak Tulisannya

  1. 1 Catatan EM Nashrul | Thank you so much, President Wahid

    […] Diambil dari : Armein Z. R. Langi […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: