Kasus Prita: Korban RS Berbasis Bisnis

Sudah jelas, eksperimen pemerintah dan komunitas kesehatan dengan mengijinkan hadirnya rumah sakit yang berorientasi bisnis harus dievaluasi dan ditinjau ulang.

Kasus Prita ini mencuat karena hadirnya berbagai rumah sakit (RS) yang tidak lagi ingin menyembuhkan pasien, tetapi ingin mendapatkan laba.

Duduk perkaranya: Prita sakit dan membutuhkan perawatan. Ia pergi ke RS swasta, dan tidak puas dengan pelayanannya. Prita kemudian menulis keluhannya di email yang kemudian tersebar ke mana-mana. RS swasta ini tidak terima, dan menjerat Prita menggunakan UU ITE, pencemaran nama baik melalui Internet. Dan Prita ditahan polisi, harus membayar denda dan terancam masuk penjara.

Saya yakin Hippocrates, Bapak profesi dokter, akan menangis dalam kuburnya mengikuti tragedi Prita ini.

Dunia kedokteran diabdikan pada kemanusiaan, menyembuhkan mereka yang sakit. Tanpa pandang bulu, tanpa motivasi keuntungan pribadi. Itu sebabnya kita wajib menghormati profesi dokter dan tenaga kesehatan. Sampai kapanpun.

Tapi apa yang kita lihat ini sudah sangat jauh dari visi Hippocrates ini. Kedokteran sudah berubah menjadi bisnis. RS didirikan untuk kepentingan pemegang saham. Ini industri.

Jadi bukan kesembuhan Prita yang penting, tapi reputasi bisnis RS dan para dokternya.

Semua reaksi dari RS swasta didasarkan pada argumentasi bahwa dengan email Prita ini, nama RS dan dokter menjadi tercemar. Akibatnya pasien berkurang, dan bisnis menjadi rugi. Kerugian ini tidak adil, sehingga Prita harus dihukum.

Sepintas argumentasi ini benar. Prita merugikan prospek bisnis RS dan dokter-dokter tersebut.

Tapi dasar argumentasi ini salah besar, karena sudah menerima asumsi bahwa pelayanan kesehatan itu adalah bisnis. Kepentingan pemegang saham.

Di negara ini, dengan ideologi yang bukan kapitalis, seharusnya pelayanan kesehatan adalah institusi publik. Kepentingan publik. By nature, kepetingan pelayanan kesehatan, keberhasilan penyembuhan menjadi lebih utama. Bukan profit dari pemegang saham.

Oleh sebab itu, dengan jatuhnya korban seperti Prita, saya pikir sudah waktunya Menteri Kesehatan duduk bersama komunitas penyelenggara kesehatan. Para dokter. Untuk mengevaluasi ulang semua kebijakan yang mengijinkan munculnya rumah sakit swasta berorientasi kepentingan pemegang saham.

Saya tidak menentang sepenuhnya bisnis kesehatan. Banyak kebaikan sudah muncul dari industri ini.

Tetapi melihat Prita tidak terlayani dengan baik, malah masuk tahanan, denda Rp 200 juta, dan terancam masuk penjara itu sama sekali tidak bisa diterima. Hal seperti ini silahkan dilakukan di negara lain (asal pemegang saham, ralat: kita tidak tahu siapa pemegang saham), tetapi jangan di republik ini.


  1. wah kasus prita ngga habis-habis ya pak 😆

    Beda sekali dengan di USA. Walau gaji dokter dan pekerja rumah sakit besar, tapi kalo sempet malpraktik, wah tamat riwayatnya 😀

  2. Indonesia masih memiliki budaya preman. Ikatan Dokter Indonesia lebih suka melindungi dokter daripada mencabut ijin dokter pada kasus malpraktek.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: