Memelihara Budaya dan Lingkungan

Sayang sekali. Urusan menjaga budaya dan lingkungan sudah menjadi slogan. Padahal ini penting sekali.

Orang begitu jatuh cinta pada kemajuan ekonomi. Bagaimana meraup dollar atau rupiah sebanyak mungkin.

Oleh sebab itu kita berubah. Membangun sana-sini dengan sembrono. Membakar BBM begitu banyak setiap hari. Akibatnya kita merusak lingkungan hidup. Timbul berbagai masalah, termasuk perubahan iklim dan pemanasan global.

Entah mengapa, kita lebih senang mendirikan begitu banyak bangunan beton ketimbang memelihara hijaunya alam. Kita begitu senang menghabiskan energi dengan skala yang besar.

Semua demi kemajuan ekonomi.

Yang lebih parah adalah perubahan sikap hidup dan budaya. Kita meninggalkan budaya sendiri untuk mengadopsi budaya asing. Gaya hidup orang lain. Kebiasaan kultur lain. Selera global.

Konon perubahan itu harus dilakukan agar ekonomi kita bisa maju.

Saya baru kembali dari Bali. Menurut pak Made, tour guide kita, leluhur Bali pernah meminta orang Bali untuk menjaga lingkungan dan memelihara adat. Pura suci didirikan di mana-mana, di pemukiman maupun di tempat yang jauh. Menyatu dengan alam, sehingga orang Bali tidak sembarangan merusak alam. Alam menjadi sakral, sehingga tidak pantas dijual begitu saja untuk keuntungan uang.

Demikian juga budaya dan ritual Bali dipelihara dengan setia. Meskipun budaya modern sangat kuat menerpa, orang Bali berusaha tetap menjaga adat dan ritual sehari-harinya. Konon para leluhur berpesan, jangan meninggalkan budaya dan adat demi uang, karena sebaliknya, uang akan datang sendiri kalau mereka tetap berpegang pada adat Bali.

Saya tidak tahu, kapan visi leluhur ini disampaikan. Mungkin seribu tahun lalu. Dan kepercayaan orang Bali ditest. Kesabaran mereka diuji. Sampai kapan mereka mampu bertahan dengan budayanya, sebelum mereka menyerah pada realitas bahwa mereka butuh uang, dan uang akan datang kalau mereka berhenti berbudaya Bali?

Ternyata kesabaran mereka membuahkan hasil. Budaya Bali ternyata mampu membangun industri seni, budaya, dan pariwisata. Sekarang orang Bali justru diharapkan melakukan budaya dan ritual mereka dengan rajin. Karena ini semua bernilai tinggi secara ekonomi.

Visi leluhur ini –bahwa dengan mempertahankan budaya dan lingkungan, kemakmuran akan datang– terbukti seribu tahun kemudian.

Jadi saya kira kita semua harus belajar dari orang Bali. Bagaimana tidak tergoda untuk mengubah budaya kita, menyerah pada dorongan budaya asing yang datang dari luar. Terlebih karena dorongan ekonomi atau, lebih buruk lagi, dorongan selera.

Mari kita memelihara budaya dan lingkungan kita. Membuatnya menjadi indah menurut selera kita.

Ini bukan slogan, tapi hikmat.


  1. Yah memang jumlah manusia itu selalu bertambah banyak, jadi pertumbuhan dan kebutuhan juga otomatis bertambah banyak. Tapi memang masyarakat bali perlu kita contoh itu, memelhiara budaya dan yang penting adalah alam.

    Walaupun saya bukan orang “desa”, dan belum pernah tinggal secara tradisional, tapi saya juga risih kalo masuk kota-kota besar yang penuh dengan “hutan bangunan”. Bagi saya, untuk tempat tinggal, tetap lebih enak kota kecil, yang banyak pohonnya, tidak macet, dan tidak ada polusi (asal tidak banyak binatang dan serangga yang aneh2 saja😛 )

    • Mas Syafrudin

      “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed”. Mahatma Gandhi

      Jadi sebetulnya penyebab utama kerusakan lingkungan bukan karena pertumbuhan penduduk, tapi karena karena kerakusannya.

      Contoh soal penguasaan tanah untuk tempat tinggal.

      Ketika tinggal di kawasan Tubagus Ismail, trenyuh saya membandingkan rumah – rumah di pemukiman mewah Tubagus Ismail yang kosong hanya ditinggali pembantu, kontras dengan sebelahnya kawasan kumuh Babakan Sembung, Legok Iris, dan Sekeloa.
      Ini baru Tubagus Ismail, bagaimana pula dengan pemukiman mewah lain yang luasnya berkali lipat, bahkan yang punya pulau.
      Seandainya saja semua orang sudah puas dengan rumah tipe perumnas (di bawah 100m2)🙂

  2. Halo salam kenal, lagi blogie walking neh sambil woro-woro Ada Lumpia 1000 Di Lawang Sewu

  3. Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: