Sakit dan Integritas

Suatu saat saya terbaring lemah di UGD RS Borromeus, dan dokter sibuk mencek kondisi saya. Akhirnya disimpulkan saya harus istirahat. Tapi yang terngiang dikepala saya ucapan sang dokter sebelum saya pulang. “Rahasia supaya kita tidak mudah sakit adalah menjaga integritas….”

Lama saya mencoba mengerti maksud dokter itu. Sekarang saya pikir saya mengerti apa maksudnya.

Pertama, saya mengerti bahwa tubuh kita didesain untuk sehat, bukan untuk sakit. Jadi sehat itu normal, sakit itu tidak normal. Sakit itu berarti tidak berfungsinya organ tubuh kita. Rasa sakit itu adalah sinyal syaraf kita yang memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tidak normal, macet.

Kedua, tubuh kita didesain untuk memulihkan fungsi organ-organnya. Menormalkan fungsi organ-organnya. Jadi kita sebenarnya didesain untuk bisa sembuh sendiri.

Dan ini sering terjadi. Normal terjadi. Kita tahu bahwa setiap hari begitu banyak kuman menyerang tubuh kita. Begitu banyak zat yang tidak sehat yang masuk melalui makanan. Begitu banyak udara kotor yang harus diserap paru-paru. Begitu banyak beban dan benturan fisik yang menimpa badan kita. Tapi tubuh kita selalu bisa memulihkannya tanpa kita sadari. Ternyata manusia terus bisa hidup dalam kondisi ini.

Tubuh kita didesain untuk siap menghadapi kehidupan normal fisikal seperti itu.

Tetapi apa yang terjadi pada manusia modern? Manusia modern memiliki satu dunia lain, yaitu dunia pikiran, dunia emosi, dunia hubungan sosial, dunia virtual dan dunia khayal. Dan manusia modern sekarang harus menghadapi dunia pikiran yang begitu keras. Otaknya dipacu kencang. Pikirannya penuh beban.

Otak kita tidak didesain untuk itu.

Di dalam dunia khayal itu, manusia modern dipaksa untuk maju, produktif, hebat, populer, pintar, kreatif, tahan banting. Dunia modern membuat sosok-sosok, poster boys – poster girls, idola, figur-figur ideal yang memiliki cerita sukses yang hebat-hebat. Dan kita dipaksa untuk menjadi seperti mereka.

Tuntutan nya sangat besar. Sangat banyak. Tanpa henti. Harus sukses.

Sehingga ia ketakutan. Takut gagal. Ia kehilangan kepercayaan diri. Ia memacu dirinya sendiri. 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang tahun.

Akibatnya tubuh fisiknya ikut terpacu. Neuron dalam otaknya tidak berhenti aktif. Koneksi antar neuron diputus dan disambung, direkonfigurasi, dengan kecepatan tinggi. Kebutuhan energi otak semakin banyak. Tekanan darah meningkat. Denyut nadi mengencang. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Nonstop.

Dan aktivitas tubuh kita mulai tidak normal. Kita duduk berjam-jam di meja, menatap layar komputer. Atau tiduran membaca buku. Akibatnya tubuh kita kurang gerak. Kaku. Tidak lentur. Tidak fleksibel.

Belum lagi, kita tidak lagi menjaga kualitas dan kuantitas makanan kita. Kita menelan semakin banyak makanan berkalori, kolesterol, asam urat, yang sebenarnya tidak perlu kalau aktivitas tubuh hanya untuk duduk-duduk dan tiduran itu.

Point saya, gaya hidup orang modern yang dipacu untuk sukses membuat aktivitas otaknya under pressure terlalu tinggi dan berlebihan sehingga akhirnya mengorbankan tubuhnya. Ujungnya kita sakit secara fisik. Otak kita, aktivitas pikiran kita, terlalu panas, sehingga tubuh kita tidak kuat menahannya.

Sama dengan lampu pijar. Karena kita ingin cahayanya terang dengan jarak jangkau yang jauh, kita harus menggunakan lampu dengan watt yang semakin besar. Maka lampu ini semakin panas. Di suatu level, lampu menjadi terlalu panas, sehingga bungkusnya, dudukannya meleleh. Rusaklah sang lampu.

Nah, apa hubungannya dengan integritas?

Integritas itu adalah selarasnya antara ideal kita, pikiran kita, perasaan kita, jati diri (self image), dan perbuatan kita. Selaras. Sejalan.

Saya menemukan bahwa kalau semua itu selaras, maka aktivitas otak kita menjadi ringan. Lebih efisien. Kita bisa mencapai hasil yang maksimal dengan aktivitas stress otak yang rendah.

Sama dengan sinar laser. Saat gelombang-gelombangnya bisa selaras, arah, frekuensi dan fasa sama, maka hasil jarak jangkaunya menjadi jauh sekali untuk energi yang sedikit. Tidak pernah dudukan sinar laser itu kepanasan sampai meleleh.

Jadi itu rupanya maksud dokter tadi. Kita memang perlu sukses. Tapi itu harus dicapai dengan tingkat stress, panasnya otak, yang rendah, melalui keselarasan antara ideal, citra diri, pikiran, perasaan, dan tindakan kita.

Ada beberapa contoh praktis ketidakselarasan itu.

Kita mungkin mengidealkan diri sebagai orang yang penuh pengetahuan, terdidik. Tapi pekerjaan kita kok tidak menuntut kecerdasan dan pengetahuan. Maka hati kita berontak, pekerjaan ini tidak cocok dengan ideal diri.

Atau kita ingin hidup saleh, beragama, bermoral. Tapi kenyataan hidup menuntut kita harus korupsi. Mencuri. Membohongi pelanggan. Menipu laporan. Maka kesuksesan dalam pekerjaan membuat kita kehilangan harga diri dan citra diri.

Bisa juga kita mulai berumah tangga, dan membayangkan kehidupan ideal. Saling jatuh cinta dengan pasangannya, dan akur sehati sepikir dengan anak-anak dan keluarga besar. Tapi kenyataannya, suami-istri bisa tidak saling menghormati, tidak saling menghargai. Anak memusuhi orang tua, dan sebaliknya. Kakak adik saling iri. Prospek akan hidup terus seperti ini membuat orang stress.

Banyak orang berpikir, kalau dia sudah patuh dengan semua aturan, nurut pada pendidik, nurut pada boss, tidak macam-macam, maka promosi akan datang. Gaji akan naik. Hidup akan membaik. Ternyata tidak terjadi. Ternyata boss menghendaki kita di bawah, jadi nurut boss berarti seumur-umur akan selalu di bawah.

Kita pikir kalau kita hidup jujur, tidak melukai orang, taat beragama, maka kita akan dijauhi dari masalah. Ternyata tidak juga. Masalah datang bertubi-tubi. Tidak pernah berhenti. Dan kita protes, mengapa bisa hidup kita begini.

Kita ingin mengikuti kata hati, apa adanya, jujur pada diri sendiri. Tapi tata-krama, sopan santun, norma, group pressure me-rem dan menekan kita. Kita tidak bisa mengekpresikan dengan jujur apa yang kita inginkan. Apa yang menjadi hasrat kita. Kita terpaksa mengikuti apa hasrat dan kehendak kelompok, yang kita sebenarnya tidak happy.

Kita sebenarnya punya jati diri sendiri. Tapi tidak populer. Orang lain, masyarakat mengidolakan sosok-sosok yang lain. Jadi kita terpaksa juga berusaha menuruti sosok itu. Dan kita seperti memiliki multiple personalities yang saling mengganggu dan meniadakan satu sama lain.

Itulah contoh-contoh hidup kita yang dipenuhi ketidak-selarasan.

Jadi kita harus bagaimana?

Menurut saya, yang paling penting adalah menjaga kedamaian pikiran. Kesejukan hati. Menjaga temperatur otak. Menjaga suhu pikiran dan emosi.

Dan ini bisa diperoleh melalui integritas. Menyelaraskan semua aspek hidup kita. Mulai dari ideal kita, citra diri kita, pikiran kita, perasaan kita, perbuatan kita. Semua seiring dan sejalan.

Dengan kata lain, kita semua sakit karena kita sedang berusaha menjadi orang lain.

Maka agar kita bisa terus sehat, jadilah diri sendiri. Hiduplah sebagai diri kita sendiri. Itulah hidup penuh integritas.

The real success is when you become the real you.


  1. Ada yang bilang, hidup itu harus seimbang

  2. Kadang-kadang ada hal-hal (yang tampaknya) sederhana, yang ternyata sulit untuk dilakukan. Salah satunya adalah hidup selaras ini…

  3. Saya merenung membaca tulisan ini…sudahkah hidup saya seimbang? Kayaknya juga kebanyakan di depan kompie




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: