Bencana dan Moral Masyarakat

Apakah benar bencana alam disebabkan oleh maksiat dan kerusakan moral masyarakat?

Sering saya mendengar pernyataan seperti itu. Bencana alam, tsunami, tanah longsor, gempa, banjir, ombak besar adalah hukuman dari Tuhan atas kemaksiatan dan kerusakan moral masyarakat. Ini semakin sering dilontarkan saat kita mendengar bencana di Aceh, Ciamis, Tasikmalaya, Padang, Cianjur, dan sebagainya.

Sejujurnya, saya punya keberatan dengan pendapat seperti ini. Ada banyak masalah etis dalam klaim seperti ini.

Pertama, bencana alam itu sering diakibatkan pergerakan kerak bumi. Saya tidak bisa melihat hubungan antara moral manusia dengan pergerakan kerak bumi. Jadi logika klaim itu di mana?

Kedua, kalau benar bencana alam itu hukuman bagi kemaksiatan, maka seharusnya yang menjadi korban adalah pelaku kemaksiatan. Tidak adil kalau orang yang tidak bersalahpun terkena hukuman. Apalagi pada saat yang sama, pelaku maksiat di kota besar, di Jakarta misalnya, sepertinya lolos dari hukuman ini.

Ketiga, seakan-akan orang-orang yang menjadi korban itu lebih berdosa daripada kita yang ber-komentar dan ber-klaim ria. Ketika ratusan ribu orang tersapu tsunami, ribuan orang menangis kehilangan buah hati mereka secara mengenaskan, how dare kita berpendapat seperti itu?

Dan masih banyak lagi. Tapi you get the point. Klaim-klaim seperti ini sangat fatalistik, mencerminkan kemalasan berpikir, dan kekakuan dalam beriman kepda Tuhan.

Saya memang melihat banyak hubungan antara moralitas dengan penderitaan. Bukan pada bencana itu sendiri, tapi pada akibat yang ditimbulkan. Bencana itu sendiri netral, dan bukan dosa kita penyebabnya. Tapi penderitaan yang ditimbulkan itulah adalah akibat dosa kita.

Saya ambil contoh. Sebuah ferry terbalik di selat Malaka. Penyebabnya memang ombak besar. Tetapi korupsi membuat kapal ini dimuati penumpang berlebih. Jadi pada saat bencana terjadi, kesanggupan kita menolong itu overstreched. Terjadi korban jiwa. Ombak besar itu netral. Kelebihan penumpang itulah dosa kita.

Saat bencana gempa besar di Padang, banyak orang tewas tertimbun beton bangunan. Gempa besar itu bukan akibat dosa orang. Itu akibat pergerakan lempeng bumi. Tapi dosa orang adalah saat rumah dibangun sembarangan. Saat bahan bangunan serta spesifikasi besi tulang dikorupsi. Saat pemberi IMB dan pengawas pembangunan bisa disogok. Saat petugas emergency tidak merawat kesiapan peralatan beratnya. Saat rumah-sakit tidak disiapkan menghadapi serbuan korbnan masal. Saat penduduk yang selamat memilih menjarah rumah korban. Itu daftar dosa kita yang menimbulkan penderitaan akibat bencana.

Jadi kalau terjadi bencana alam, jangan kita mengatakan itu hukuman datang dari Tuhan. Seakan-akan Tuhan pukul rata, menghantam tanpa pilih bulu.

Penderitaan yang diakibatkannya itulah hukuman pada kita. Karena kita tidak menyiapkan diri. Karena kita memikirkan diri sendiri. Karena kita senang jalan pintas. Karena kita berbohong dan mengakali aturan. Karena kita terlalu pelit dalam menyiapkan kebutuhan bersama, kepentingan publik.

Lebih tepat lagi, semua bencana adalah cobaan Tuhan bagi yang selamat. Bukan tentang mereka yang menjadi korban, tetapi tentang kita yang selamat.

Apa respons kita? How do you react? Kalau kita mau berubah, dan hidup dengan baik, tertib, dan mementingkan keselamatan umum, maka cobaan itu membawa berkat. Kalau kita membangun solidaritas dan kebersamaan, maka cobaan itu membawa berkat.

Saya yakin kita yang melakukan klaim-klaim tesebut punya niat yang tulus. Oleh sebab itu kita perlu meluruskannya. Bencana alam itu netral. Tapi kebobrokan moral membuat bencana itu membawa penderitaan yang begitu besar.

 


  1. mencerminkan kemalasan berpikir

    bulls eye!😀 padahal di ayat lainnya sering sekali disebut mengenai ‘keutamaan orang-orang yang berpikir’ tapi entah mengapa jarang sekali yang sampai ke situ.

  2. benar-benar setuju dengan postingan ini, pak
    emang kita gak pernah berpikir sampai ke situ
    orang-orang indonesia terlalu malas berpikir dan langsung mengambil kesimpulan yang mudah

  3. Orang Indonesia ditutup oleh paradigma ‘pasrah’ dan ‘putus asa’.
    Masyarakat lebih senang mempercayai sesuatu yang lebih menyenangkan, daripada sulit-sulit berpikir atau mencari informasi.

  4. saya juga dari dulu kurang setuju (well..bukan berarti tidak setuju sepenuhnya) dengan paradigma seperti ini.

    Kena penyakit = hukuman dari Tuhan.
    Kena bencana = hukuman dari Tuhan.
    Kena bangkrut = hukuman dari TUhan.

    Ini adalah “doktrin” yang sudah basi. Yang saya imani adalah: Tuhan tidak mencegah kita dari kesusahan, tapi Tuhan menyertai kita DI DALAM kesusahan.

    Coba kalo kita punya paradigma seperti ini, maka kita tidak akan sibuk dengan klaim “kalian dihukum Tuhan”. Kasihan sekali para korban bencana itu. Sudahlah menderita secara fisik, harus juga menderita secara mental karena penghakiman kita itu.

    Sebagai gantinya, seharusnya kita SEGERA MEMBANTU mereka yang mengalami kesulitan.

  5. bener sekali tuh masyarakat malas berpikir?

  6. Eldewa

    Komentar2 yang seperti itu selalu kita dengar. Aneh memang tapi itulah bangsa kita. Karena gak tahu sebab2nya dengan gampang komen “hukuman Tuhan, Tuhan murka, dilaknat Tuhan dsb’ atau ‘mukjizat, kuasa Tuhan, rahasia Tuhan”
    Jepang terus menerus dilanda gempa, makin pinter. Males mikir sudah menjadi tradisi mungkin. Enaknya ‘menyalahkan’ Tuhan sajalah. Itulah kalau Tuhan di ‘bayangkan’ seperti manusia.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: