Self Defeating Smartness

Berkali-kali saya menemukan orang pintar, tapi menggunakan kepintarannya untuk menghalangi kemajuan dirinya sendiri. Menghalangi kebahagiaan dirinya sendiri. Ini berarti pintar dalam membodohi diri sendiri.

Saya punya teman, tidak perlu disebut namanya, yang saya kenal sejak kecil. Adik kelas saya. Anaknya pintar sekali. Seingat saya, saat saya masih kelas dua SMP, dia sudah menulis sebuah buku. Waktu saya mahasiswa, tidak sengaja saya berjumpa beliau. Ternyata sering gagal kuliah. Dengan kepintarannya, selalu dia bisa lulus ujian masuk tahun berikutnya. Tapi begitu kuliah, dia gagal dan DO. Terakhir saya bertemu beberapa bulan lalu. Situasinya masih belum berubah. Kerjanya tidak jelas, dan masih butuh bantuan uang sana sini. Impaknya bagi masyarakat tidak terasa.

Kalau di tanya, muncul banyak cerita yang canggih, yang menjelaskan bahwa kegagalannya itu salah orang lain.

Beberapa waktu lalu, saya menmukan kisah Christopher Langan, konon orang paling cerdas di Amerika, dengan IQ 200.  Dan memang diakui semua bahwa ia super cerdas.  Tetapi rupanya dia tidak berhasil dalam kuliah dan drop-out berkali-kali. Dan impaknya bagi dunia sangat terbatas. Dan kalau di tanya alasannya, ia memiliki banyak sekali. Semua canggih-canggih juga.

Dalam skala kecil, saya temukan banyak di sekitar saya. Orang-orang pintar, yang menggunakan kepintarannya untuk tidak berkembang. Untuk tidak berdampak. Untuk tidak membangun. Untuk menyusahkan. Bahkan kepintaran digunakan untuk menghalangi kemajuan orang lain.

Ini biasanya kita alami saat kita tahu bahwa suatu keputusan tidak benar, tidak baik, dan tidak bagus, tapi pembuat keputusan memiliki begitu banyak justifikasi untuk itu.

Kepintaran seperti ini sangat merugikan diri sendiri. Self defeating. Kita jadi tidak berkembang. Kepintaran kita tidak berkontribusi bagi kemajuan.

Sebenarnya saya terkadang begitu juga. Punya segudang alasan mengapa tanggungjawab saya tidak terlaksana dengan baik. Saya menyadari ini kebiasaan buruk. Ini berakibat saya terkunci pada siklus yang memacetkan. Saya sekarang banyak belajar untuk tidak membela diri, tidak mencari excuses, dan tidak menyalahkan orang lain. Lama-lama kita semakin pintar dalam membodohi diri sendiri.

Kita perlu belajar untuk bisa melihat fakta, gagal atau berhasil, tanpa terlalu emosional. Kalau bisa mentertawakan diri sendiri atas kekurangan, dan yang terpenting bagaimana bisa tambah pintar atas semua ini.

Mari kita pintar dalam mencerdaskan diri sendiri…

Advertisements

  1. Saya sekarang banyak belajar untuk tidak membela diri, tidak mencari excuses, dan tidak menyalahkan orang lain.

    Kita perlu belajar untuk bisa melihat fakta, gagal atau berhasil, tanpa terlalu emosional. Kalau bisa mentertawakan diri sendiri atas kekurangan, dan yang terpenting bagaimana bisa tambah pintar atas semua ini.

    –> like this, Pak!! 🙂

  2. Kadangkala label “orang pintar” itu benar-benar memberi beban bagi penyandangnya. Dia harus memikul ekspektasi orang banyak untuk memberikan impak besar bagi dunia. Padahal dia sama sekali tidak pernah meminta “kepintaran” itu.

    Dan sepertinya orang lain mungkin tidak pernah mau empati dan mengerti lelahnya menghadapi kata-kata, “kalau saya sepintar kamu saya bakal bla bla bla”

  3. Pak Armein,

    Saya masih belum mengerti maksud cerita menggunakan kepintaran untuk menghalangi kemajuan diri sendiri.

    • azrl

      Pada dasarnya, kita pintar mencari alasan (excuses) untuk tidak melakukan sesuatu yang diperlukan untuk maju. Dan alasan kita itu bisa sangat ‘cerdas’. Padahal kita rugi, tidak maju, karena tidak melakukan hal itu.

  4. Pak Armein,

    Saya masih belum mengerti maksud menggunakan kepintaran untuk menghambat kemajuan diri sendiri. Ceritanya kurang nyambung atau kurang kena.

    Mungkin yang dimaksud Pak Armein adalah orang yang pintar “ngeles” atau berkelit. Jadinya bukan menyelesaikan masalah tapi lebih banyak berkelit.

    Biasanya orang yang pintar dan multi-talent punya masalah dengan tujuan hidup. Mereka bisa belajar cepat mengenai banyak hal. Mereka kebingungan dengan bakat apa yang perlu dikembangkan untuk kemajuan dirinya. Yang dibutuhkan adalah orang yang mampu membimbing mereka.

    Sebagai mantan guru sekolah dan dosen universitas, saya merasa lebih berat mengajar orang bodoh daripada orang pintar.

    Di ITB, banyak orang pintar yang DO bukan karena bodoh tetapi karena kurang terbimbing.

  5. ya mungkin saja orang-orang tersebut kurang seimbang. Kepintaran yang menonjol, tapi tak dibarengi dengan kekreatifan, EQ dan SQ, dan sebagainya




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: