Kontemplasi

Saya nyaris tidak pernah meditasi. Tapi sering kontemplasi. Karena menurut saya kontemplasi itu maha penting. Untuk mencegah kita hidup terlalu menuruti kebiasaan (habits).

Konon meditasi itu banyak menolong. Tapi saran orang, meditasi itu perlu mengosongkan pikiran. Dan saya selalu kesulitan mengosongkan pikiran. Jadi susah. Maka saya mengganti meditasi dengan doa dan kontemplasi.

Kontemplasi itu mirip dengan meditasi tapi tidak sepenuhnya mengosongkan pikiran. Kontemplasi lebih pada merasakan kehadiran Tuhan, memikirkan dan merenungkan konsep kehidupan. Mengevaluasi diri. Menghayati jalannya hidup kita.

Sebenarnya saya sudah lama dengar konsep kontemplasi. Tapi baru belakangan saya menyadari kebutuhan saya akan kontemplasi ini.

Ceritanya, saya baru sadar betapa kita hidup sering seperti robot. Menjalankan algoritma. Menjalankan kebiasaan. Habits.

Saya ambil contoh, bertahun-tahun saya selalu mengambil rute yang sama dari rumah ke kampus dan kembalinya. Selalu rute itu. Dulu sebelum ada jalan layang, rute saya selalu dari Gunung Batu, ke terusan Pasteur, Wastukencana, Tamansari, Kebon Binatang dan belok ke Ganesha. Kembali nya juga lewat rute yang sama.

Sampai suatu hari saya memutuskan untuk pulang lewat Siliwangi, Cipaganti, Cemara, Karang Setra, Setrasari, Surya Sumantri, baru ke Gunung Batu. Dan rute ini sering lebih lancar ketimbang macet di Tamansari bawah. Saya masih ingat perasaan saya waktu ganti rute, seakan-akan saya pindah kota. Lebih segar.

Ternyata ada banyak sekali yang kita lakukan itu adalah kebiasaan. Habits. Tidak mikir lagi. Tidak ada evaluasi. Seperti robot.

Memang semua habits itu banyak berguna. Kita bisa cepat melakukan sesuatu. Tidak pusing. Tanpa mikir. Dan sudah terlatih.

Tapi habits itu bisa membuat kita terjebak, tidak maju, merasa stagnan, dan bahkan seakan-akan hidup tanpa kemajuan.

Jalan keluarnya adalah kontemplasi. Melalui kontemplasi, kita merenungkan siapa kita, apa panggilan hidup kita, apa sebenarnya dunia ini, apa kedudukan kita di dunia ini. Melalui kontemplasi, saya bisa bebas mempersoalkan semua kepercayaan dan asumsi saya mengenai hidup ini. Melalui kontemplasi, saya bisa mengenali semua yang menghantui hidup saya, dan mencari jalan untuk mengusir hantu-hantu itu. Melalui kontemplasi, saya bisa membangun penerimaan dan citra diri yang lebih mulia. Melalui kontemplasi, saya bisa memilih jalan-jalan baru yang ingin saya tempuh. Melalui kontemplasi, saya menyadari betapa beruntungnya saya, betapa banyak berkat saya.

Kontemplasi ini menghasilkan hal-hal yang istimewa dan ajaib dalam kehidupan kita.

Jadi kalau anda merasa hidup anda sesak, lumpuh, tidak menarik, tidak berkembang, tidak ada kemajuan, maka anda sedang terjebak dalam hidup dari kebiasaan, hidup otomatis, hidup robotik. Saya ingin mengajak anda untuk melakukan kontemplasi setiap hari. Merenungkan apa hakekat hidup anda.

Maka hidup anda akan berkembang dan menyenangkan…


  1. kuke

    betul.. betul.. betul..
    like this, pak ^_^

  2. Kata orang Jerman,
    “Man braucht Zeit zu beruhigen”
    Artinya manusia butuh waktu untuk menenangkan diri.

    Ketika kita melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan mulai merenung, tiba-tiba konsentrasi meningkat dan ide-ide kreatif bermunculan dalam diri.

  3. Saya pernah baca buku yg menyarankan kita untuk sesekali berhenti dan mengamati sekitar (pause and observe) …

  4. aswinindra

    Dear Pak Armein,

    Di Wired Nopember ini ada tulisan menarik dari Clive Thompson yang judulnya adalah Why an idling mind is mother of invention. Kata penelitian terbaru, justru ‘aha’ moment itu muncul dari ‘idle’ atau ‘daydreaming’ atau menghayal..ya..kontemplasi mungkin salah satunya. Kata neuroscientist sih pada saat idle, otak kita bukan hanya sibuk proses informasi, tapi juga ‘increase utilization of prefrontal cortex – the part of brain that’s involved in problem-solving’.

    Jadi ya, mungkin bukan hanya perlu, tapi wajib kali..untuk idle sejenak-dua jenak…:-)

  5. Stop. Wait. Enjoy life.
    Simply said🙂

  6. tapi…apakah mungkin kontemplasi itu sendiri akan menjadi “habit”?😀

  7. delia4ever

    Info yang bagus juga…
    disarankan mikha untuk berkunjung ke blog ini🙂

    salam kenal

  8. yah, setelah melakukan konsep tersebut.. ketenangan diri lebih terjaga, walaupun dalam keadaan sepanik dan segenting apapun, dan alhamdulillah hal itu telah terbukti pada diriku. semakin dapat memahami arti kehidupan sesunggunhya, disertai dengan terus menimba ilmu agama, Insyaallah semakin komplet..

    Mari teman2 kita luangkan sejenak waktu untuk diri kita, ini merupakan titipan Allah yang perlu kita jaga dengan sebaik-baiknya.

  9. yup, bener banget…
    saya juga suka cerita2 yang berbau kontemplasi…
    http://cerita-kontemplasi.blogspot.com/
    http://ceritakontemplasi.wordpress.com/

  10. jonathan

    mas, saya tertarik pengen coba kontemplasi. tapi saya ga tau c aranya gimana. ada referensi ga? trima kasih




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: