Drama dan Airmata Cicak dan Buaya

Drama bukan cuma tradisi Yunani kuno. Ia hidup dan berkembang di Indonesia. Tidak ada yang menandingi drama kasus perseteruan konyol KPK dan Polri. Dan semua aktornya pintar berdebat dan sampai mencucurkan airmata, di depan TV nasional.

Orang sekarang kurang menghargai drama. Drama itu tradisi ribuan tahun, sejak jaman Yunani kuno. Ada jenis drama tragedi dan drama komedi. Dalam tradisi itu, aktor berdialog di pentas. Aktor itu memerankan karakter dalam suatu cerita yang mengusik rasa ingin tahu, mengusik kepercayaan, mengusik kenormalan, mengusik kebiasaan. Dalam drama, para aktor sangat menghayati karakter mereka, sehingga audiensi terbawa ke dalam konflik cerita. Tidak ada aktor yang menggurui penonton, tetapi saat penonton pulang, mereka membawa pulang juga cara pandang aktor.

Berbulan-bulan ruang publik diisi dengan drama KPK dan Polri. Dan seru. Ada pembunuhan, penyiksaan, perselingkuhan, penyuapan, kebohongan, plot-plot rekayasa. Drama ini dimainkan penuh penghayatan oleh para aktor. Bergantian mereka berbicara di depan publik, langsung maupun tidak. Dengan cucuran air mata, dan sumpah demi Tuhan.

Begitu dalam penghayatan ini, sampai saya pikir para aktor sebenarnya mulai percaya akan kebenaran peran masing-masing. Mulai ada kegilaan, delusi, dan ketidakwarasan dari para aktor. Saat semua yang berkonflik sungguh percaya bahwa mereka itu malaikat dari sorga, dan seterunya setan utusan neraka. Pada saat para aktor mampu mengucapkan pernyataan yang saling bertentangan, masing-masing bersumpah demi Tuhan, dalam dialog drama nya.

Apa kesimpulan saya dari semua drama ini?

Ini adalah perebutan setoran. Seperti kelompok preman Tanah Abang yang berkelahi berebut lahan parkir, wewenang memungut uang keamanan, atau daerah setoran.

Para alpha males, penegak hukum, pahlawan, enforcers, kekuatan pemaksa di negeri ini masih suka melindungi para perampok ekonomi dan koruptor. Dengan imbalan setoran uang keamanan. Nah dengan adanya lebih dari satu badan penegak hukum, setoran jadi kurang. Oleh sebab itu, seperti preman Tanah Abang, tidak ada jalan lain kecuali para enforcers ini saling berebut wewenang memungut setoran keamanan ini.

Dan kita banjir air mata. Mulai air mata buaya, airmata cicak, sampai air mata rakyat yang sedih melihat drama tragedi ini.

Dan air mata koruptor juga. Tapi airmata karena tertawa terbahak-bahak nonton drama komedi.


  1. Jadi, ini drama tragedi sekaligus drama komedi ya??

  2. godzilla nya gak ikutan nangis ya




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: