Rasa Takut

Rasa takut itu berguna untuk survival, tapi berakibat buruk bagi hidup exciting.

Tanpa rasa takut, kita akan hidup lincah ke mana-mana. Kita kehilangan kewaspadaan dan masuk dalam bahaya. Ini bisa membuat umur kita pendek.

Sebaliknya, penuh rasa takut itu melumpuhkan. Kita selalu tegang, dan cari aman. Ujungnya kita stres dan umur kita pendek juga.

Rupanya dosis rasa takut itu harus pas. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.

Ada rasa takut yang khayalan, ada yang nyata. Khayalan itu kita bayang-bayangkan. Misalnya saya takut, merasa saya mengidap penyakit parah. Tapi diperiksa ke dokter, tidak ada apa-apa. Saya tetap takut. Padahal tidak ada dasarnya. Tapi toh akibatnya nyata bagi kita. Kita gemetar.

Sebaliknya ada rasa takut yang berdasar. Misalnya saat terjadi gempa bumi, atau hujan badai, kita takut. Dan itu nyata. Tapi setelah ancaman bencana lewat, kita harus lega kembali. Selamat.

Saya pikir rasa takut itu harus kita kendalikan. Rasio kita harus berkuasa atas rasa takut. Kita harus menempatkan takut itu sebagai sinyal, tanda bahwa ada action yang harus dilakukan. Kita harus punya mekanisme untuk mengerti apanya yang kita takut. Mengapa kita takut. Apakah itu nyata. Bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapinya. Kalau persiapan itu sudah dilakukan, maka rasa takut itu harus kita hilangkan.

Dan satu-satunya yang pantas kita takuti hanyalah Tuhan, yang berkuasa atas hidup kita. Di luar Tuhan, jangan mau kita takut. Rugi.

Advertisements

  1. Untuk beberapa kasus, rasa takut justru menunjukkan tingkat kepatuhan pada peraturan yang rendah. Saya ambil contoh misalnya saya tidak mau mencontek karena takut ketahuan guru. Memang bagus sih, tapi lebih sip lagi apabila saya tidak mau mencontek karena saya ingin mengetahui kemampuan saya dengan maksimal. Atau contoh kedua, saya pakai sabuk pengaman karena takut ditilang polisi. Lebih sip lagi apabila saya pakai sabuk pengaman karena memang saya ingin selamat. Bahkan takut akan Tuhan pun ada dua macam, yang pertama “ketakutan” akan Tuhan, misalnya takut masuk neraka atau takut dihukum Tuhan, yang kedua rasa takut yang lebih kepada hormat untuk Tuhan. Tapi untuk beberapa kasus lain, seperti yang bapak katakan, rasa takut bisa menghindari kita dari bahaya. Yah, jadi idealnya rasa takut itu (harus) tepat guna dan tepat tujuan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: