Cicak, Buaya, Rampok

Menyaksikan drama pertarungan KPK lawan Polri, orang tidak bisa menghindar dari kesimpulan betapa negara ini terus dikuasai gurita, lintah yang ingin terus merampok kekayaan Indonesia. Ini persoalan sangat serius.

Persepsi saya tentang hal ini cukup rumit. Jadi mohon sabar ya.

Mari saya tarik mundur perjalanan peradaban manusia. Saat manusia mulai memilki kesadaran akan kehidupan, kira-kira 30.000 tahun lalu, maka kita mulai berkembang dari kehidupan primitif menuju kehidupan beradab. Perikehidupan manusia berpindah dari berburu menjadi bertani.

Tetapi kemudian timbul suatu golongan masyarakat di utara India yang punya prikehidupan yang berbeda, bukan berburu atau bertani, tapi merampok!

Gerombolan ini menekuni kehidupan keras, ahli bertarung, dan punya gaya hidup jagoan. Mereka ini memuja dewa perang, dewa Indra. Dengan ganas namun penuh keahlian perang mereka menjarah berbagai perkampungan petani. Dan hidup mereka didasarkan pada perampokan hasil kerinagt orang. Kesenangan mereka muncul di atas penderitaan orang lain. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka, karena mereka tergolong yang paling hebat, paling kuat di anatar ras manusia. Mereka adalah alpha males, manusia top terbaik dari segi evolusi.

Namun Tuhan berkehendak lain. Ia menemui orang-orang tertentu, dan memberikan inspirasi Ilahi pada ras manusia. Ia memberikan kesadaran bahwa itu salah. Itu tidak luhur. Dan orang-orang ini mengajarkan sikap-sikap luhur, adil, mulia, penuh belas kasih. Ras manusia hendak dibangun bukan oleh alpha males, tapi oleh orang-orang mulia. Lemah dari skill perang, tapi kuat dalam keluhuran. Dari sini muncul sikap hidup, cara hidup, dan agama.

Dan inilah hakekat setiap agama: orang harus menahan diri dari kejahatan, dari menciderai orang lain, dari merampok. Sebaliknya, orang harus penuh kasih, penuh ikhtiar, penuh keadilan, dan penuh pengampunan.

Bukan berarti ilmu perang tidak penting. Bukan berarti alpha males tidak penting. Tapi mereka menjadi penegak kebenaran. Law enforcers. Pelindung manusia. Mereka adalah kekuatan melawan perampok. Mereka adalah pahlawan bangsa.

Dalam konteks ini KPK dan Polri adalah pahlawan bangsa. Mereka pejuang untuk menegakkan keadilan. Kita membutuhkan KPK dan Polri, untuk menegakkan peradaban. Menyelamatkan kita dari perilaku hewani evolusi ras manusia.

Tapi apa yang kita lihat hari-hari belakangan ini? Para rampok sudah jauh lebih canggih. Mereka tidak butuh lagi perampasan melalui pedang. Yang mereka lakukan adalah perampokan melalui sistem finansial, sistem ekonomi, sistem kekuasaan. Instrumen mereka adalah penipuan raksasa, korupsi dan penyuapan. Mereka kemudian mengatur negara ini untuk melindungi proses perampokan ini. Srmua keayaan dihisap, mulai dari keringat rakyat sampai pada kekayaan alam kita. Dan para pahlawan, alpha males disogok dan dibayar untuk kembali menjadi alat perampok.

Yang kita saksikan hari-hari ini adalah puncak gunung es, sepotong kaki dari gurita besar, tangan perampok yang menguasai kehidupan bangsa kita ini.

Oleh sebab itu, peristiwa hari ini harus menjadi dasar, awal dari sebuah perjuangan besar. Suatu perjuangan maha berat. Untuk membebaskan negara kita dari gurita ini. Untuk mengembalikan semua pada kedudukan yang sebenarnya.

Dan menurut konsep evolusi manusia, buaya pasti menang melawan cicak. Tapi sejarah peradaban memperlihatkan Tuhan selalu memihak cicak. Tuhan selalu memihak kaum lemah yang hak-haknya dirampok.

Pilihan kita sudah jelas.


  1. KPK, dan POLRI, bukankah harusnya keduanya jadi alpha males, jadi buaya yang setia menjaga sungai habitatnya hidup.🙂
    (idealnya sih)

    salam

  2. Menurut saya, ini lebih ke masalah karakter.

    Kalo karakternya memang sudah jelek, perbuatannya akan mencerminkan karakternya. Ngga peduli apakah yang bersangkutan kaya atau miskin, lemah atau kuat, cicak atau buaya, beragama atau atheist.

    Mengubah karakter satu orang saja sulit, apalagi mengubah karakter satu bangsa😀 .Memang ini perjuangan mahabesar untuk mengeluarkan gurita-gurita ini dari tiap karakter rakyat.

  3. Paparan menarik, menunggu bahasan lebih lanjut. Terimakasih dan salam dari Redaksi KamusHukum.com.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: