Tertawa

Setiap bertemu ayah, saya selalu ingin belajar darinya. Dan pelajaran terbaru adalah tertawa terhadap masalah.

Tahun ini ayah genap berusia 81 tahun. Tapi masih segar dan kuat. Selama lebih dari tiga minggu ayah dan ibu dari Tomohon berkunjung ke rumah kami di Bandung. Menengok cucu-cucu. Sabtu kemarin mereka sudah terbang pulang ke Tomohon.

Saya ingin seperti ayah, bisa berumur panjang dan menikmati hidup di hari tua seperti itu.  Jadi tidak ada jalan lain, harus belajar darinya.

Satu hal yang saya pelajari minggu lalu adalah kemampuannya untuk tertawa menghadapi masalah.

Misalnya, ayah sudah berusaha ke Jakarta untuk bertemu seseorang di kantor. Ternyata orang itu tidak ada, sedang ke luar kota. Ayah pulang ke Bandung dengan tertawa. Salah, tidak telepon dulu.

Dia buat janji dengan temannya, mendadak dia lupa jamnya, dan temannya marah. Ayah menghadapi kejengkelan temannya dengan tertawa. Sorry lupa jam.

Sampai pada hal-hal yang berat. Semuanya ia bisa hadapi dengan ringan. Dan ujungnya dia bisa tertawa.

Mendadak saya bisa melihat pentingnya kebiasaan itu. Dengan tertawa, otak kita dibuat rileks. Dengan tertawa, kita bisa maklum. Dengan tertawa kita bisa melihat aspek lucu dari suatu situasi. Dengan tertawa kita bisa kreatif mencari jalan keluar.

Saya jadi mengerti, ayah bisa umur panjang karena tidak menganggap dirinya terlalu serius. Tidak mengambil beban yang timbul akibat kesalahan orang lain. Menerima kelemahan orang lain dan diri sendiri apa adanya.

Dengan tertawa ayah ingin mengatakan bahwa we are only human.

Dan memang, kita manusia. Tertawa itu hanya dikaruniakan pada makhluk manusia. Mari kita melakukannya… hehehe

Advertisements

  1. Konon ukuran kebahagiaan dan kemungkinan umur panjang adalah kemampuan kita untuk tertawa dan mentertawakan diri sendiri …

  2. Hmm pernah baca di mana ya, apabila kita tertawa, hanya 14 otot wajah yang kontraksi, tapi yang lainnya relaksasi. Sedangkan apabila kita pasang wajah cemberut, 72 otot yang berkontraksi. Makanya cepat mengerut (baca: cepat tua 😀 ).

    Ada juga yang mengatakan, apabila kita tertawa, otak akan mengirimkan sinyal ke tubuh bahwa “keadaan baik-baik saja”.

    Saya juga mencoba untuk selalu tertawa dalam setiap kesulitan dan masalah. Walau tentu saja tidak asal tertawa. Karena kalo ada teman/keluarga meninggal, masa tertawa? 😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: