Smart Products and Services

Produk dan layanan yang pintar adalah, ya itu…, membuat pengguna tambah pintar. Kayak sekolah guru.

Sebenarnya hal paling pokok pertama yang harus dibayangkan perancang produk dan layanan adalah siapa pengguna nya.

Dan orang sering lupa bahwa selalu ada tiga level pengguna: pemula, menengah, lanjut.

Kebanyakan produk dan layanan dirancang untuk pengguna level menengah. Ada asumsi awal bahwa pengguna sudah punya skill dan pengetahuan yang cukup untuk memanfaatkan produk dan layanan ini.

Misalnya, mobil didesain dengan asumsi bahwa pembelinya sudah bisa mengendarai mobil dengan baik.

Dalam kenyataannya tidak semua yang mampu membayar produk dan layanan kita itu bisa memanfaatkannya. Tidak semua orang yang mampu membeli mobil itu bisa nyetir.

Untuk itu pabrikan atau dealer mobil misalnya bisa menambah kepintaran layanannya dengan menjual mobil dengan mode otomatis, atau juga jasa latihan nyetir dan menyediakan sopir untuk disewa sementara.

Bagi pengguna pemula, kita harus memberikan layanan tambahan, kebutuhan khusus, seperti pemandu atau training. Training ini dimaksudkan agar pengguna bisa memanfaatkan produk dan layanan dengan maksimal.

Tapi tentu latihan tersebut hanya untuk sementara, agar pengguna pemula bisa meningkat menjadi pengguna menengah. Bisa nyetir sendiri ke mana-mana, ke tempat yang ia inginkan. Jangan disopiri terus.

Nah, suatu produk dan layanan yang pintar itu tidak berhenti di situ. Ia akan membuat penggunanya mencapai tingkat lanjut.

Apa itu pengguna tingkat lanjut?

Pengguna tingkat lanjut adalah pengguna yang bisa memanfaatkan produk dan layanan itu untuk meningkatgkan kualitas produk dan layanan itu atau bahkan menghasilkan produk dan layanan baru.

Pengguna mobil yang bisa berbisnis transportasi adalah pengguna lanjut. Pengguna mobil yang bisa menang balapan rally dan mendapatkan hadiah adalah pengguna lanjut. Pengguna yang karena pengalamannya bisa mendesain mobil yang lebih baik adalah pengguna lanjut.

Jadi suatu produk dan layanan yang pintar adalah produk dan layanan yang bisa menyesuaikan dengan tingkat pengguna. Tapi lebih dari itu. Ia bisa membuat pengguna naik tingkat, dan akhirnya bisa membuat produk dan layanan.

Persis seperti sekolah guru. Murid yang masuk dilayani guru. Setelah lulus, dia bisa jadi guru untuk melayani murid.

Itu baru produk dan layanan pintar.


  1. Menurut saya, yang smart itu designer-nya Pak, bukan PSS-nya…🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: