PDIP Menjadi Oposisi

Saya tidak tahu bagaimana menulis tentang sikap Megawati belakangan ini tanpa terkesan sok tahu. Tapi, what the heck

Saya kira Megawati ada dalam posisi yang sangat strategis hari ini. Ini satu-satunya orang yang masih di dengar jutaan rakyat. Dipatuhi secara membuta di PDIP.

Tidak ada partai yang tidak ingin berkuasa. PDIP tidak terkecuali. Setelah lima tahun berada di luar lingkaran kekuasaan, tentu banyak kader PDIP ingin ikut berperan 5 tahun mendatang. Apalagi SBY sudah membuka pintu untuk itu.

Tapi at what cost? PDIP harus menandatangani kontrak politik, yang isinya mengikat PDIP sebagai partai pendukung pemerintah. Ini akan membuat kekuatan pemerintah terlalu kuat. Hanura dan Gerindra masih belum se kredibel PDIP dalam mengimbangi pemerintah. Perjalanan demokrasi kita akan berada dalam bahaya.

Belum lagi persoalan mendasar tentang visi Indonesia ke depan. Ekonomi kita terlalu global-liberal. Cengkeraman kekuatan asing terlalu besar. Kita dimanjakan oleh kemewahan berasal dari impor, yang kita bayar dengan kekayaan alam kita. Elite terlalu dikooptasi oleh kepentingan raksasa dunia. Dan pemerintahan hari ini sepertinya terus didikte kekuasaan asing. Dan rakyat kita masih terkebelakang dan belum sejahtera.

Hanya PDIP yang bisa memberikan alternatif. Dan keputusan Megawati untuk menjadi kekuatan penyeimbang merupakan awal untuk itu.

Perlu disadari bahwa kekuasaan direbut melalui menang pemilu. Legislatif maupun eksekutif. Tidak mudah melawan inkumben yang populer dan menguasai media.

Jadi PDIP tidak bisa lagi mengulangi cara mereka lima tahun terakhir, yang terbukti tidak bisa menggeser PD dan SBY. PDIP harus agresif dan inovatif. PDIP harus menggali idealisme bangsa kita, wisdom bangsa kita, the Indonesian dreams. Dari situ PDIP secara agresif mendesain ulang blueprint Indonesia abad 21, dan berjuang di setiap pemilu dengan platform itu.

Oh ya, dan jangan pernah PDIP meninggalkan rakyat kecil. Wong cilik. Orang kaya tidak butuh pembela. Orang kuat tidak perlu pendukung. Tapi wong cilik perlu pembela. Wong cilik perlu pendukung. PDIP harus menemukan cara bagaimana wong cilik bisa berkarya dan ikut memiliki bangsa ini.

Dan PDIP harus sadar, betapa masih rapuhnya partai ini. Betapa masih lemahnya kualitas kader-kader PDIP dalam mengemban tugas sejarah. Kalau putera terbaik dan maskot PDIP dalam hal ingin berkuasa masih belepotan memimpin sidang MPR misalnya, wah God help us.

Langkah yang dipilih Megawati hari-hari ini telah menghindarkan PDIP dari nasib pengkerdilan, peluang kooptasi, dan karakter oportunistik. Sekarang PDIP bisa mandiri dan mulai menggunakan waktunya untuk 2014 and beyond.

Advertisements

  1. dana

    opini dan kekhawatiran bapak kog sama dengan saya ya?????

  2. wong cilik

    Bapak bisa aja nyentilnya … Beliau excuse-nya selama ini sering mangkir dari sidang2 DPR karena banyak berinteraksi dengan konstituen …

  3. Jadi inget iklan minuman vitamin C itu ya Pak, yg bilang “uang enggak bohong” tapi kali ini “umur dan pendidikan (formal dan informal) nggak bisa bohong” … wkwkwkw 🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: