Terimakasih Jusuf Kalla

Menurut saya, ada banyak keberhasilan pemerintahan SBY-JK. Untuk itu kita semua wajib berterimakasih. SBY pantas terpilih ulang. Dan secara khusus dan tulus saya hendak berterimakasih pada JK.

JK adalah fenomena yang sebenarnya unik. Seorang pengusaha Sulawesi Selatan yang kemudian memilih untuk mengabdi di sektor publik.

Saat duet SBY-JK dimunculkan, rakyat Indonesia menyambut hangat. Dan mereka akhirnya terpilih untuk mengurusi Republik yang tercinta ini.

Meskipun seorang wapres, bukan presiden, JK membuktikan diri sebagai pelayan publik yang ulung, inovatif, cekatan, gesit, dan tidak pretentious.  Sebagai seseorang yang punya darah Sulawesi, saya diam-diam ikut bangga.

Kemudian secara mengesankan, JK berhasil menyelesaikan konflik-konflik dalam masyarakat, termasuk yang berat-berat seperti di Ambon, Posso, dan Aceh. Bayangkan sudah tiga presiden yang ngurusin, tidak ada yang bisa sebelum JK turun tangan. JK ikut merajut kembali persaudaraan di daerah konflik.

Dan yang paling mengesankan saya adalah saat-saat terakhir JK di pemerintahan. Saat sudah jelas SBY tidak menghendaki JK menjadi wapres kembali. Saat JK harus maju ke Pilpres (dan kalah).  Saat JK di depak dari Ketua Umum Golkar. Semua datang beruntun.

Tapi, heran, JK menjalaninya, menjalani semua kekalahannya, dengan anggun. Keanggunan yang jarang kita saksikan di kalangan pimpinan bumi pertiwi ini.

Orang bilang, kekalahan JK di Pilpres kemarin memang sudah bisa diprediksi. Kata orang JK tidak punya potongan untuk jadi presiden. Saya juga sebenarnya sudah pesimis. Tetapi melihat penampilan dan perjuangan JK, cara beliau berbicara, menyampaikan gagasan, saya jujur terkesan.

Dua hari sebelum Pilpres, saya banyak diam. Siapa yang akan saya pilih?  Sehari kemudian, pilihan saya mantap. Tapi tidak saya ceritakan pada orang-orang rumah. Di rumah kami ada empat pemilih. Saya tidak mau mempengaruhi mereka. Malamnya, saat Ina tahu pilihan saya, dia kaget. Mengapa? Pasti kalah, buang-buang suara. Lalu saya jelaskan diam-diam, meskipun suara saya nyaris tidak berpengaruh, tapi itu suara saya, satu-satunya milik saya. Saya harus berikan pada yang paling pantas menerimanya. Dan Ina tertegun.

Paginya kami berempat pergi ke TPS. Dan hari itu JK mendapat dua suara.

Sorenya orang serumah bertepuk tangan melihat hasil nasional. Ina dan saya tersenyum kecut. Pilihan kami dapat nomer buncit. Hehe. Tidak apa-apa. Beliau sudah berjuang menjalankan kewajibannya dengan ikhlas. Maka kamipun menjalankan bagian kami dan berterimakasih dengan ikhlas.


  1. mengacu ke posting sebelumnya, JK memang berbeda kelas.🙂

  2. Ki Syafrudin

    Idem dengan kami.

    Meski partai saya menjadi pendukung SBY, dan istri saya ingin mendukung SBY, tapi saya mantap milih JK-Win (dan istri saya yang taat pada anjuran saya).

    Saya juga tidak menyesal JK-Win kalah. Kepada istri, saya ingatkan bahwa pilihan kita mesti bisa dipertanggungjawabkan ke Allah.

    Kemarin, istri saya ngomel saat tahu menteri – menteri kesukaannya (Menkes, Mentan, Menpora) diganti padahal kinerjanya jelas bagus.
    Apalagi mendengar issu bahwa Menkes diganti karena keberaniannya pada Amerika (kasus NAMRU dan kewajiban pengiriman contoh virus ke WHO) serta memerangi mafia farmasi (termasuk gebrakan obat serba seribu rupiah). Apalagi saat istri tahu penggantinya adalah istri mantan menkes yang dulu. Seingat dia, dulu nyaris semua menkes dari guru besar UI namun tidak jelas kinerjanya. Baru setelah seorang Kepala Puslit RSJ Harapan Kita, dia lihat ada gebrakan.
    Ditambah lagi mendengar analisis bahwa Mentan dan Menpora diganti karena kedua kader PKS yang berhasil ini bakal jadi sandungan Demokrat di 2014 jika makin populer.

    Jadi dia bersyukur bahwa di Pilpres dia tidak memilih SBY.

  3. tiyo

    JK memang kalah, tp buat saya dia menang mutlat di hati dan pikiran saya. Indonesia butuh banyak orang seperti JK yg egaliter, nasionalis, innovativ, cekatan dan sederhana.

    Biarpun beliau tidak jadi presiden tp rasanya pantas jadi bapak Bangsa, setujukah anda?

  4. Meski kalah, saya kagum dengan sifat kenegarawanannya, dan tidak menyesal memilihnya.

  5. Kalau Nobel Perdamaian dianugerahkan kepada mereka yang TELAH berhasil menjalankan misi perdamaian, aku pikir JK lebih dari layak dapat Nobel Perdamaian. Bangga pernah punya wapres bernama Jusuf Kalla.

  6. fe

    ditempat saya juga cuma 2 orang dan saya tahu siapa itu
    saya dan mbak kost saya…
    tapi tidak apa2. itu pilihan saja… saya tidak latah seperti yang lain… yang milih tampa liat dalamnya.. tapi bagaimana juga saya bangga dengan pilihan saya. di dalam hati saya menagis karena mengapa tak ada yang bisa melihat mutiara di dalam hati beliau.
    terima kasih JK.
    setidaknya saya bangga pernah menjadi bagian dalam suara untuk anda. walau mungkin anda tidak tahu.

  7. JK kalla adalah seorang negarawan
    ketika orang memprotes tindakannya sebagai wakil presiden yang terlalu dominan. saya malah mendukung tindakan itu.

    lebih baik Indonesia memiliki dua matahari, daripada hanya satu bulan saja.

  8. saya lebih suka lagi kalo JK dan Prabowo berduet😀

  9. Wah..awalnya saya sudah mau golput.
    Namun, ketika saya lihat beliau dialog dan menyampaikan gagasan, saya akhirnya milih JK. Meski kalah, saya cukup bangga menggunakan hak suara saya untuk pertama kalinya.
    Ternyata Pak Armein milih JK juga.

  10. Ian Achmad Januar

    Sudah terbukti kan kalau orang Jawa tidak becus memimpin negeri ini jadi presiden. dari dulu juga gitu kan. fakta ini, bukan sentimen pribadi.
    jadi teringat ketika Bung Hatta yang dari ranah minang mendampingi Bung Karno di awal-awal kemerdekaan negeri ini. Saling mengimbangi dan terbukti Bung Hatta jauh lebih bisa diambil sebagai teladan.

  11. mappa tdy

    jk.adalah pemenangnya,dia jujur…………….,dia tegas………..dia pemberani………………dia bukan pengemis………………………..dia memihak pada orang kecil………………dia apa adanya(tidak palsu)………………………..dia sederhana ………………… dan dia sangat mencintai bangsanya ……………..

  12. wil

    dgn keadaan negara yg kacau seperti ini sy merasa bangga & tdk sia2 rasanya sy memilih JK dipilpres walopun beliau kalah

  13. JK sama dgn Bung Hatta, sama2 Negarawan yang memikirkan rakyqat, sy tidak menyesal mem8ilih beliau walaupuin kalah

  14. meskipun kagak ikut memilih….agak berharap juga sih supaya JK yang terpilih…soalnya saya suka sama pemikiran dan gagasan beliau terutama untuk menggunakan produk lokal apalagi di tengah2 maraknya perdagangan bebas. Tapi mungkin presiden yang terpilih saat ini itulah yang terbaik bagi masyarakat Indonesia.

  15. karen kd

    Melihat bagaimana kinerja pada saat ini, meskipun tidak layak mempersalahkan kondisi pada satu orang. tapi JK memang layak sebagai pemimpin yang sederhana tapi efektif, lugas dan tanggap terhadap masalah. JK negarawan sejati, pengabdian untuk bangsa tidak hanya harus dilakukan oleh seorang presiden tapi tidak bisa dipungkiri kita butuh pemimpin seperti JK. bravo JK

  1. 1 Pengakuan Jusuf Kalla tentang Bank Century « Nusantaraku

    […] salah satu blog Dosen Teknik Elektro ITB, Dr Armein Z Langi (AZL), menyampaikan rasa terima kasih kepada JK.  Menurut AZL, JK adalah fenomena yang sebenarnya […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: