Victim Syndrome

Ada orang, untuk mencapai maksudnya, memerankan diri sebagai korban. Selain untuk menarik simpati, taktik ini dimaksudkan agar lawannya dipotretkan sebagai orang kejam. Kita harus waspada, karena di balik sikap sebagai korban, ada sikap untuk mengalahkan lawan secara tidak adil.

Seperti kata petinggi Nazi dulu, paling gampang menyeret rakyat Jerman ke dalam perang dunia kedua itu adalah dengan terus menerus menggambarkan diri mereka sebagai korban agresi sekutu. Dan berhasil. Seluruh Jerman berjuang keras untuk melawan agresor sekutu. Lupa rakyat bahwa Jerman lah yang memulai perang itu, dengan menyerbu Polandia, dan kemudian ke seluruh Eropa.

Dengan memotretkan diri sebagai korban, kita memaksa orang lain untuk berempati kepada kita, namun sebaliknya kita tidak mau berempati kepada orang lain. Kalau orang tidak memihak kita sebagai korban, maka orang itu jahat.

Menggambarkan diri sebagai korban itu memerlukan acting. Memerlukan sandiwara. Yang parah itu kalau acting ini sangat dihayati, sehingga kita yang memainkannya benar-benar percaya bahwa kita menjadi korban.

Ini berbahaya. Karena, pertama kita tidak lagi peduli apa kebenaran itu, akal sehat itu. Kedua, kita kehilangan nurani dan daya empati. Ya, bayangkan, kita kehilangan dua-duanya: akal sehat dan nurani.

Sama dengan kasus Jerman itu, kita merasa menjadi korban padahal kita yang salah.

Dan jeleknya lagi, kita senang sekali mendramatisir penderitaan kita, yang jadi korbannya kita. Victim syndrome. Kita senang memikirkan terus menerus, membuat hati kita tambah merana dan tambah panas. Lama-lama kita menjadikan lawan kita itu monster atau iblis. Nah kalau sudah menganggap monster, segala cara, termasuk yang tidak beradab sekali pun, kita bisa lakukan kepada lawan kita itu.

Oleh sebab itu, kita harus selalu berusaha untuk tidak playing victim, acting innocently dalam suatu masalah atau konflik.  Kita harus jujur pada orang lain, apalagi pada diri sendiri. Kita juga harus berempati kepada orang lain. Dengan cara demikian kita bisa mengatas masalah dengan lebih baik, dewasa, dan terhormat.


  1. Sebenarnya teknik “victim syndrome” ini juga bisa dipakai untuk menutupi kesalahan kita dan membesar-besarkan orang lain. Dengan demikian, nama kita jadi bersih di mata orang lain.

  2. kamal

    Pak, izin tulisannya saya muat di catatan fecobook saya… tanpa melanggar HKI Bapak.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: