Voorijder

Berkendaraan dituntun voorijder itu sepertinya enak. Padahal kalau supir tidak biasa, itu bisa sangat berbahaya.

Saya pernah ikut rombongan pejabat Dirjen ke daerah. Kami berangkat dari bandara menuju tempat acara, beriringan dituntun kendaraan voorijder. Voorijder itu kendaraan polisi yang berada di paling depan, yang menyalakan sirene serta lampu berputar.

Wah saya pikir, enak betul. Semua kendaraan lain harus minggir, karena kami mendapat prioritas. Dan memang, dalam hati saya agak iri. Beginilah keistimewaan pejabat. Kalau pejabat lewat, rakyat harus minggir.

Cuma rupanya, kalau supir tidak biasa menyetir dengan voorijder itu tidak mudah, bahkan berbahaya. Kami berjalan dengan kecepatan yang tinggi, tapi beriringan. Jarak satu mobil dengan mobil di depannya terlalu dekat.

Dan betul. Setelah memacu kendaraan lebih dari 30 menit, sopir-sopir keenakan. Membalapkan mobil-mobilnya beriringan, sementara semua kendaraan lain harus menepi. Tiba-tiba mobil di depan kami berhenti. keruan sopir kami merem mendadak. Tapi tidak berhasil. Mobil kami menghantam mobil di depan. Dan mobil di belakan kami menghajar mobil kami.

Saya yang duduk persis di belakang sopir tidak menggunakakan seatbelt, sehingga terlempar ke depan. Bapak yang duduk di sebelah saya juga begitu, dan lebih parah. Saya cuma sakit otot, beliau sampai luka-luka di kaki, terhantam besi kursi depan. Dan yang paling parah itu mobilnya. Radiator hancur, dan punggung mobil penyok. Dan tidak cuma kami. Total enam mobil rusak dalam kecelakaan beruntun.

Ternyata penyebabnya, ada sepeda motor yang melintas persis di depan mobil voorijder. Ini membuat ia merem mendadak, dan mobil di belakangnay juga begitu. Tapi sopir-sopir di belakangnya rupanya tidak siap. Terlambat melihat lampu rem. Maka terjadilah tabrakan beruntun. Bayangkan konyolnya, saat kami tiba di lokasi acara, masyarakat menyambut kami dengan mata terbelalak. Rombongan pejabat masuk tempat acara dengan mobil-mobil yang rusak.

Beberapa supir mengaku. Menyetir dengan voorijder itu paling berbahaya. Kita bergerak dengan kecepatan tinggi, tapi jarak antar mobil terlalu dekat. Jadi mata haruis selalu melihat lampu rem di depan. Setiap lampur rem mobil depan menyala, kita harus menginjak rem juga.

Dalam hidup, ada orang-orang tertentu mendapat prioritas tinggi. Mereka diberi kesempatan untuk melaju melebihi kecepatan alamiah.

Kita jangan iri. Karena semua yang mendapat prioritas tinggi itu sebenarnya mendapat resiko celaka yang lebih tinggi. Hanya karena suatu interupsi sedikit, semua yang mendapat prioritas itu bisa mengalami tabrakan.

Kita yang berjalan alamiah, tanpa voorijder bisa lebih mampu menghindar.


  1. ada sepeda motor yang melintas persis di depan mobil voorijder.

    ide yang bagus Pak untuk memboikot voorijder

  2. Di Sulawesi Utara saya juga harus ikut konvoi yang dikawal voorijder (spell?). Jalan yang berliku2 harus ditempuh dengan kecepatan tinggi dan jarak yang dekat. Jadi tak dapat lagi menikmati pemandangan bumi Minahasa yang elok.
    Akhirnya mobil kami memisahkan diri. Lalu kami berjalan dengan kecepatan normal sambil menikmati apa yang seharusnya kami nikmati jauh2 ke sana🙂

  3. ganef

    bagus jg berbagi pengalaman di voorijder… thx




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: