Tunggu telepon

Hari-hari ini banyak orang sedang menanti telepon. Pengen ditelepon SBY🙂. Orang ingin jadi menteri. Kayaknya asik banget. Padahal jabatan Menteri itu jabatan yang cukup memusingkan.

“Empat HP saya sudah on semua, kok SBY belum telepon”, seloroh SBY kemarin, “Jangan-jangan SBY lupa…”

Lima tahun lalu saya ditelpon teman seasrama saya dulu. Teman saya ini orang partai. “Tolong faks CVnya”, katanya. Rupanya saya mau dimasukkan dalam list untuk diusulkan menjabat di Jakarta. Kalau tidak di departemen, akan diusulkan di BUMN.

Saya tertawa, antara senang karena dalam situasi seperti itu dia ingat saya sehingga saya merasa dihargai, dan lucu karena teman saya kok jadi broker jabatan. Thanks for thinking about me when opportunities arise. Cuma nggak akan bisa dan nggak akan mau.

Pertama, golongan PNS saya masih terlalu rendah untuk jabatan bereselon. Kedua, kalau ternyata mereka berhasil dan saya sudah menjabat, maka saya harus berterimakasih pada partai. Alias setor. Ketiga, ya itu harus kerja betulan, jadi pegawai. Lha kayak yang saya nganggur aja. Lieur. Tapi dia maksa terus, jadi saya suruh download saja dari website.

SBY sekarang sedang menerima banyak CV. Ada yang dimasukkan lewat partai, ada yang dimasukkan lewat ibu mertua. Dengan segala cara. Dan tidak boleh ada yang menggunakan telepon di rumah. Takut SBY telepon nggak bisa masuk🙂

Tapi sesungguhnya jabatan seperti Menteri itu banyak repotnya. Dia harus menjalankan tanggung jawab yang besar. Tapi dia tidak punya mandat dari rakyat, karena ditunjuk langsung Presiden. Beda misalnya dengan Gubernur dan Bupati/Walikota, atau anggota legislatif. Mereka menang pemilu. Tapi menteri, dirjen, dsb itu diangkat. Dan bukan karir. Jadi mereka mengabdi, ya, pada atasan.

Dan ini sungguh problematik. Saya sering melihat putra bangsa terbaik, saat menjadi pejabat, tergopoh-gopoh mengurusi keinginan atasan. Bawain tas atau koper segala. Orientasi pelayanan berubah dari melayani masyarakat, menjadi melayani atasan. Kalau ada anggota masyarakat yang harus dilayani, dia suruh tunggu di luar. Tapi kalau ada atasan, dia tergopoh-gopoh. Inikan jadi terbalik?

Orang bisa berargumentasi bahwa memang harus begitu. Di mana-mana juga bawahan harus disiplin dan patuh pada atasan. Seperti di militer.

Menurut saya, beda. Di militer, taruhannya nyawa. Taruhannya menang kalah dalam peperangan dan pertempuran. Jadi displin atasan dan bawahan itu sangat masuk akal. Tetapi semua itu, kepatuhan bawahan pada atasan, dilakukan dengan kesadaran penuh, bahwa mereka sedang berjuang melawan musuh. Mereka sedang berjuang untuk kepentingan yang lebih besar. Bukan kepentingan pribadi komandan.

Di pejabat sipil, perang itu sering dilupakan. Perjuangan adalah untuk mempertahankan posisi, kedudukan, dan kekuasaan. Karena menteri, dirjen dan sebagainya itu adalah hasil diangkat atasan, maka loyalitas penuh ada pada atasan. Atasanpun demikian. Loyal kepada kepentingan atasannya lagi. Dan semua dilakukan untuk saling mengamankan kedudukan.

Bukannya saya anti mengabdi. Anti menjadi bawahan. Tidak juga. Saya kira kita semua tidak masalah jadi bawahan. Tapi kita ingin, kalau jadi bawahan, kita itu sedang dalam rangka memperjuangkan sesuatu yang mulia. Kepentingan semua orang. Dan kita dengan senang mau jadi bawahan dari seorang atasan yang sedang memperjuangkan sesuatu yang berharga dan mulia. Sehingga kita bisa bilang, It is my honour to serve.

Mungkin sampai kapanpun kita tidak akan pernah ditelepon SBY.

Tapi sadarkah kita bahwa setiap detik kita ditelepon Sang Atasan, Pencipta alam semesta, Penguasa langit dan bumi? Ia butuh tenaga dan pikiran kita untuk membantuNya mewujudkan dunia yang lebih baik.

Are you going to pick up that ringing phone?


  1. Atasan: “Do you understand?”
    Bawahan: “Yes, we stand under you!”
    😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: