Manusia dari Tanah Liat?

Kelihatannya memang betul, manusia terbuat dari tanah liat. Playdough. Tapi bukan tubuhnya, tapi kepribadiannya.

Tradisi agama samawi (wahyu) menceritakan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah atau tanah liat. Kemudian dihembuskan nafas, dan hidup menjadi manusia. Yang menarik dalam tradisi ini, hal yang sama tidak terjadi pada penciptaan mahluk hidup lain seperti hewan dan tanaman.

Dalam terang teori evolusi, tradisi itu dibuang jauh-jauh. No way. Manusia, hewan, dan tanaman datang dari proses evolusi yang sama, tapi berbeda cabang. Bahkan dikatakan bahwa manusia adalah jenis hewan yang lebih canggih. Bukan hewan adalah manusia yang kelas rendah, tapi manusia adalah hewan yang advanced.

Boro-boro konsep manusia dibuat dari tanah liat, ya.

Sampai suatu hari para ahli menemukan fosil Ardi, fosil yang datang beberapa juta tahun lalu, saat terjadi percabangan evolusi manusia dengan kera. Sebenarnya dalam kacamata teori evolusi esuatu yang aneh terjadi. Mengapa Ardi tidak punya taring yang tajam?

Logikanya begini. Teori evolusi mengatakan bahwa para makhluk berkompetisi untuk mewariskan gen-gen pada pad generasi berikut. Dengan kata lain, para jantan berkelahi dengan jantan lain untuk hak mengawini betina. Betina juga begitu, berusaha mencari jantan dengan gen terbaik. Nah, dalam persaingan itu, jantan dengan badan besar dan taring yang paling tajam yang akan sukses berkompetisi bukan? Maka anak-anaknya pun akan bertaring tajam, karena bapaknya bertaring paling tajam. Dan ini terjadi di dunia hewan, kera, gorilla.

Tapi tidak di dunia Ardi.

Para ahli menemukan bahwa Ardi dan kaum hawa jaman itu tidak memilih lelaki yang bertaring tajam dan buas. Ia memilih lelaki yang bisa membawa kesejahteraan bagi anak-anaknya. memilih pria yang bisa menggotong kebutuhan anak-anaknya. (Itu menyebabkan manusia mulai berjalan tegak, karena bisa menggotong makanan dan keperluan membesarkan anak).

Jadi meskipun tubuh manusia patuh pada teori evolusi, jiwanya, mentalnya tidak, akalnya tidak, kepribadiannya tidak.

Ia punya kesadaran yang bisa mengalahkan mereka yang kuat, besar, buas, dan bertaring tajam.

Dan hari ini para ahli menemukan bahwa kesadaran kita, pikiran kita, otak kita, kepribadian itu, jati diri kita itu ternyata liat sekali. Nama kerennya: neuroplasticity. Tapi sebenarnya artinya, kemanusiaan kita itu plastik, liat, seperti playdoh.

Manusia adalah tanah liat ….!

Jadi pengertian saya sekarang, keduanya benar. Teori evolusi benar. Penciptaan dari tanah liat itu benar. Tubuh jasamani kita memang mengikuti teori evolusi. Tapi kesadaran kita, yang liat itu, membuat cabang baru dari evolusi. Cabang yang dilalui Ardi.

Hasilnya? Kita bukan makhluk terkuat, terbesar, tercepat, mata tertajam, kuping terpeka, taring tertajam, seperti mahluk-makhluk yang tunduk sepenuhnya pada teori evolusi. Kita bahkan tidak bisa menyelam seperti ikan atau terbang seperti burung. Tapi kesadaran kemanusiaan kita yang liat itu mampu membuat alat-alat yang membuat kita mampu menguasai mahluk lain. Kita bisa mendengar suara orang di seberang benua. Kita bisa terbang dengan jet sampai ke angkasa luar.

Semua itu bukan karena teori evolusi. Tapi karena tanah liat.


  1. Membaca 2x, merenungi, lalu menatap tanah liat …

  2. apalagi politisi ya pak? kepribadiannya paling luwes dan paling lincah gerakannya. kayaknya politisi dibikin dari tanah paling liat🙂

  3. @wikan

    Betul, terutama di bagian lidah … hahaha🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: