Teori Evolusi dan Tuhan

Apakah benar teori evolusi bertentangan dengan eksistensi Tuhan? Menurut Karen Amstrong, tidak. Memang teori ini bertentangan dengan banyak pemahaman orang tentang Tuhan. Dengan kata lain, yang salah itu pemahaman kita, bukan eksistensi Tuhan itu sendiri.

Richard Dawkins, seorang biologist terkenal, baru saja meluncurkan buku The Greatest Show On Earth, di mana ia menceritakan tentang teori evolusi in action. Betapa banyak hal bisa dijelaskan dengan teori evolusi. Saya termasuk penggemar tulisan Dawkins. Ia sangat mahir menulis, dan saya yakin buku terbarunya akan menjadi best seller.

Akan tetapi, saking seru dan yakinnya Dawkins tentang teori evolusi sebagai teori segala-galanya, teori yang menjelaskan seluruh semesta ini, maka iapun mendeklarasikan tidak ada Tuhan. Agama itu percuma, bahkan buruk.

Saya tercengang dengan kesimpulan seperti ini. Dawkins itu, terlepas dari kepintaran dan kemahirannya menulis, terjebak dengan kekagumannya sendiri pada teori evolusi. Mirip dengan ahli fisika yang mendeklarasi bahwa dunia ini bisa dijelaskan dengan forces dan energi. Atau ahli mesin selalu melihat dunia ini dalam kacamata teori termodinamika.  Atau ahli ekonomi selalu melihat dunia ini digerakkan oleh self-interest dan invisible handnya Adam Smith. Ahli matematika selalu bisa melihat ekspresi, variable dan persamaan matematis di semua aspek kehidupan. Ahli biologi seperti Dawkins dan pengikutnya melihat dunia ini sepenuhnya bisa dijelaskan dengan teori evolusi Darwin.

Dan karena di semua teori itu steril terhadap Tuhan, maka dengan gagah-berani mereka mendeklarasi diri sebagai atheis. Buat saya absurd sekali. Tidak bisa karena saya pemain catur seumur hidup, melihat hidup ini seperti catur, dan di papan catur tidak didefinisikan Tuhan, maka Tuhan tidak ada.

Teori evolusi yang dikembangkan Darwin telah menyulitkan banyak orang beragama. Bertahun-tahun Darwin dikecam dan dilawan. Ilmuwan beragama melahirkan berbagai teori tandingan, yang pada prinsipnya ingin mengatakan bahwa Tuhan pencipta alam semesta (creationist). Pertarungan antara evolusionis dengan creationis sudah berlangsung seratus tahun. Pemenang? Evolusionis.

Karen Amstrong seorang mantan biarawati. Kehidupannya penuh kegelisahan sampai kemudian mendapat pencerahan dengan mempelajari sejarah agama-agama. Dan Amstrong berhasil menunjukkan pada saya di mana salah kaum beragama.

Sepanjang sejarah manusia, Tuhan pencipta semesta alam itu dikenal secara bertahap, penuh misteri. Manusia tidak berani mendfinisikan Tuhan. Bahkan menyebut namanyapun tidak berani.

Sampai pada saat revolusi ilmu Abad ke 17, jaman Newton, dimana terjadi pencerahan. Rasionalitas Aristoteles dari jaman Yunani kuno ditemukan kembali, dan ternyata sangat powerful. Manusia tiba-tiba mengerti begitu banyak mengenai alam semesta, dengan cukup presisi. Maka, dengan gagah berani, manusia merasa sudah mengerti Tuhan, dan mulai mendefinisikan Tuhan dengan rasionalitas Aristoteles. Alam semesta mulai make sense, dan demikian juga Tuhan. Agama serta doktrin mengalami rasionalitas. Creationis diterima sebagai kebenaran rasional.

Tuhan tereduksi dari misteri Ilahi menjadi terdefinisi secara rasional.

Dan rasionalitas ini yang diguncang oleh evolusi Darwin dua abad kemudian. Kaum beragama, dengan desperate, mau mempertahankan Tuhan yang rasional secara Aristoteles.  Mau mempertahankan pandangan creationis dengan bertempur melawan evolusionis. In a losing war

Amstrong bersyukur ada Darwin. Karena teori evolusi itu mengembalikan posisi Tuhan menjadi Pencipta dengan misteri Ilahi, bukan Tuhan yang tunduk pada akal manusia. Amstrong bahkan menyatakan bahwa penghayat-penghayat agama wahyu sebelum abad ke 17 itu tidak akan pernah punya masalah dengan teori evolusi. Penghayat setelah abad 17 ini yang punya masalah.

Dengan kata lain Amstrong hendak mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta. Ia menggunakan teori strong and weak forces untuk mengatur eksistensi materi dan pergerakan benda, Ia menggunakan termodinamika untuk menggerakkan semesta, dan Ia menggunakan teori evolusi untuk menggerakkan makhluk hidup. Dan Ia masih mempunyai segudang teori untuk banyak hal di luar itu. Ia adalah pencipta dari semua teori itu.

Dawkins tentu akan segera bertanya pada Amstrong: Enak aja, elu tahu dari mana…?

Di situlah misteri Ilahi yang hanya dipahami penghayat agama, khayalan bagi Dawkins tapi begitu nyata bagi penghayat: Kita tahu karena Ia memberitahunya kepada kita.

Ia memperkenalkan DiriNya ke pada manusia ciptaaNnya, secara bertahap. Dari nenek moyang kita turun temurun sampai sekarang. Melalui orang-orang tertentu yang juga hidup dalam sejarah peradaban manusia. Ada yang ditulis di kitab suci, ada yang diwariskan melalui nubuat dan kisah-kisah, dan ada yang diwariskan dalam budaya. Kita mengenaliNya karena Ia sendiri yang memperkenalkan DiriNya pada manusia.

Dan pada akhirnya, kalau evolusi manusia sudah membuatnya menjadi makhluk mulia, worthy of meeting God, kita akan tiba dengan perjumpaan Ilahi yang diimpikan semua penghayat.

Jadi bagi Amstrong, teori evolusi itu membantu manusia untuk mengenaliNya dengan lebih benar dan lebih baik.

Ini membuat Dawkins freak out: Well, if that’s what floats your canoe, you’ll be paddling it up a very lonely creek. Maksudnya kalau itu pendapat Amstrong, maka Amstrong itu sendirian, karena umat beragama tidak percaya seperti itu. Wah tidak juga. Karena saya juga ikut loncat ke canoe itu, dan saya yakin banyak yang sudah dan akan ikutan.


  1. Menarik juga artikelnya pak. Saya memang bukan penganut teori evolusi, karena saya pikir salah satu sifat sains adalah dinamis, segala teori bisa saja berubah-ubah ke depannya, mungkin tidak terkecuali teori evolusi. Tapi saya tertarik dengan point nya Amstrong yang mengatakan “teori evolusi itu membantu manusia untuk mengenaliNya dengan lebih benar dan lebih baik.”

  2. bagi saya kedua teroi itu eksis. Manusia diciptakan langsung, kemudian ber-evolusi merespon kondisi lingkungannya (yang juga manusia pengaruhi).

    Tuhan MahaHebat. mau menciptakan langsung bisa. mau menciptakan mekanisme evolusi juga bisa. Memilih salah satu kutub teori secara mutlak menunjukkan kebodohan manusia atas kemampuan Tuhan.

    Dalam sains, terutama matematika, sydah lazim multi kondisi bisa eksis. Misal satu kasus hanya punya solusi tunggal (titik), kasus lain solusi bidang, kasus lain solusi volume, bahkan solusi multi dimensi. Itu sudah menjadi bukti bahwa masing-masing teori penciptaan itu adalah bagian parsial keseluruhan proses penciptaan Tuhan.

    Maha Besar Allah!

  3. Saya sepakat dengan Dawkins. Seperahu dengan Amstrong membuat kita dikucilkan, oleh para ilmuwan yang menertawai agama, dan oleh para agamawan merasa sudah berilmu.
    Tapi ini perahu yang indah, tempat hanya beberapa teman yang cerdas dan baik hati berada.

  4. Bagaimana dengan Harun Yahya yg membeberkan “kebohongan” teori evolusi ? http://us1.harunyahya.com/Detail/T/EDCRFV/productId/9297/DAWKINS_MENOLAK_DEBAT_MELAWAN_PARA_PENDUKUNG_PENCIPTAAN,_KARENA_DIA_TIDAK_MEMILIKI_BANTAHAN!

  5. Jecka PH

    Cara pandang seseorang tidak bisa lepas dari orientasi back ground interesting dan kompetensinya. Bagi saya tidak ada hal yang tak mungkin bagi Tuhan. Saya yakin Tuhan tidak bekerja secara manual – mencipta satu demi satu.

    So, jika evolusi dipandang sebagai proses karya penciptaan Tuhan, itu menunjukkan bahwa Tuhan Maha Hebat. Ciptakan alam raya dari sebuah partikel yang kemudian berproses menjadi milyaran benda langit demikian juga Tuhan ciptakan kehidupan yang bermula dari kehidupan 1 sel sederhana hingga menjadi tumbuhan, binatang dan manusia dalam susunan sel yang rumit, tapi terkendali dinamis. Itu semua terjadi karena hukum KausaNYA.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: