Bunuh Diri

Mengapa orang jaman sekarang mau bunuh diri?

Sekitar dua-tiga tahun lalu saya menerima email yang mengejutkan. Seorang dosen, kenalan saya di Jepang, bunuh diri. Beliau bukan teman dekat, hanya kenalan saja, berjumpa saat ada meeting-meeting urusan Internet. Tapi tetap saja berita itu mengejutkan saya. Hati saya dipenuhi tanda tanya. Mengapa? Tapi tidak berani nanya.

Beberapa hari kemudian berita lebih detail tiba. Beliau rupanya mengidap penyakit psikis yang disebut bipolar disorder. Ini penyakit luar biasa, yang menyerang mood kenalan saya ini. Ia bisa menjadi sangat gembira dan optimistis. Kemudian berubah sangat murung dan pesimistis. Kalau sudah datang serangan, ia tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Sikapnya amat menyebalkan. Marah-marah dan menyakiti hati orang. Dan iapun dimusuhi dan dihindari orang.

Setelah bertahun-tahun seperti itu, mengalami gangguan emosi, mengalami dimusuhi orang, merasa sendiri, ia tidak tahan. Dan ia bunuh diri.

Tidak sedikit kita yang mengalami masalah seperti beliau. Terkena serangan mood. Dan kita tidak berdaya. Kehidupan kita, dan orang sekliling kita, diharu-birukannya.

Para ahli terus berlomba mencari cara mengobatinya. Sepanjang pengetahuan saya, masih belum banyak pengobatan yang efektif untuk ini.

Celakanya banyak dari kita tidak sadar akan penyakit ini. Kita hari ini bisa merasa hidup ini begitu menyenangkan, eh besok kita merasa hidup begitu hopeless. Ditrigger perlakukan buruk orang sedikit saja, emosi kita terjun bebas. Seluruh hari menjadi kacau.

Belakangan saya menyadari suatu hal: tidak ada orang yang ingin marah-marah atau menjadi menyebalkan. Tidak ada. Itu semua adalah serangan mood. Ketidakmampuannya menjaga pikirannya dari serangan emosi.

Kita harus sabar menghadapi orang-orang seperti itu. Kasih sayang kita harus lebih besar ketimbang kejengkelan kita. Karena kita tidak tahu penderitaan yang terjadi dalam dirinya. Jangan menyerah. Even more, don’t let them giving up on us. Supaya jangan mereka mengambil jalan pintas, seperti kenalan saya di Jepang itu.


  1. andriyan

    Selama hampir tiga bulan saya tinggal di sini, sudah ada 2 kejadian orang bunuh diri dengan terjun ke arah kereta yang lewat. Cukup merepotkan banyak orang, karena jadwal kita jadi ikut berantakan.

    Menurut saya, bipolar atau masalah kejiwaan yang lain, tak ubahnya dengan penyakit badan. Kadar sakit-nya bervariasi, mulai dari yang hanya bisulan, masuk angin, flu, atau diare ringan yang mudah sembuh, hingga sakit kanker dan AIDS yang sulit (tidak bisa) disembuhkan.

    Kenalan Pak Armein yang menderita bipolar itu barangkali masuk kategori terakhir. Begitu pula dengan banyak penghuni RS Jiwa atau yang mereka yang berkeliaran di jalan raya. Sudah selayaknya mereka mendapatkan bantuan dari ahli penyakit jiwa dan dukungan dari kita yang lebih sehat.

    Yang merepotkan kalau sampai hal ini merugikan orang banyak. Karena itu saya sangat setuju bahwa seseorang yang akan memegang posisi penting diuji kesehatan jiwanya terlebih dahulu, sebelum terlanjur merugikan orang banyak.

    Sebaliknya, jika sekali waktu kita stress, patah hati, atau putus asa, itu wajar dan yakinlah bahwa nanti akan sembuh dengan cepat. Ini seperti kita kena flu ringan; dengan cukup istirahat, berada di lingkungan yang sehat, keluarga dan teman-teman yang menyenangkan, nanti juga akan sehat kembali.

    Menurut saya begitu pak🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: