Pembantu

Banyak orang depresi. Karena pembantu rumah tangga pulang mudik, dan tidak kembali.

Ina sedang pusing. Mbak Tri, pembantu kami meng-sms dari Wonosobo. Dia tidak bisa kerja lagi. Seminggu sebelum lebaran, dia mudik untuk bertemu anak tunggalnya. Dan puteranya itu nangis tidak mau lagi ditinggal ibunya. Maka Mbak Tri berhenti bekerja. Jadi sudah tiga minggu kita tidak punya pembantu.

Setiap lebaran mendekat, pembantu sudah siap-siap. Wajahnya berseri-seri. Itu hari yang dinantikan sepanjang tahun. Hari ia akan mudik, berjumpa dengan sanak saudara. Bawa pulang uang hasil menabung sepanjang tahun.

Tapi wajah ibu rumah tangga sebaliknya. Cemas. Pembantunya akan kembali lagi atau tidak. Dan seminggu setelah lebaran, kecemasan menjadi kenyataan. Pembantu tidak kembali.

Maka kecewalah sang ibu. Ada yang jengkel, bahkan sakit hati, ditinggal pembantu. Seakan-akan pembantu itu tidak menghargai kebaikan ibu yang sudah memperlakukan pembantu dengan baik dan sudah membayar dengan layak.

Sekarang tugas pembantu pindah ke ibu. Kejengkelan makin bertambah. Selain melelahkan, pekerjaan ini dianggap tidak menyenangkan, tidak mulia, tidak layak untuk seorang ibu. Ini kan pekerjaan pembantu?

Maka pekerjaan itu dilakukan dengan tidak ikhlas, jengkel, dan marah-marah. Kejengkelan ini meluas pada suaminya dan anak-anak. Dulu kalau anak-anak tidak mencuci piring, atau tidak merapikan tempat tidurnya, tidak apa-apa. Sekarang itu dianggap pelanggaran berat.

Maka suasana rumah menjadi murung dan tegang. Tidak lagi menyenangkan. Semua berkat tidak terlihat. Bahwa kita punya rumah. Kita sehat dan aktif. Itu tidak lagi berkat, tapi masalah. Gara-gara punya rumah jadi harus dipel. Gara-gara bersekolah jadi harus mencuci dan menyetrika seragam. Yang terlihat adalah masalah tiap hari. Harus mengerjakan pekerjaan pembantu. Tiap hari. Seumur hidup.

Maka depresi melanda seluruh keluarga. Karena pembantu tidak punya.

Dua hari lalu, Ina memperlihatkan saya sebuah tulisan yang dia baca dari buku renungan. Betapa keliru kita jengkel, marah, atau sakit hati pada pembantu. Mbak Tri itu sudah sangat baik. Kerjaannya bagus. Ramah. Sayang pada Marco. Boleh dibilang dia itu pembantu terbaik yang kita pernah punya. Sudah bekerja bertahun-tahun dengan setia.

Maka Ina ingin bersyukur. Menyampaikan rasa terimakasih pada Mbak Tri yang sudah memperlakukan kami sedemikian baik. Bukan saja ikhlas, Ina senang Mbak Tri sekarang bisa mengurusi anaknya yang selama ini dia tinggalkan di Wonosobo.

Mencari pengganti Mbak Tri tidak mudah. Kita sempat coba sebentar seorang bekas pembantu tetangga, Bi Ukay. Tapi mungkin karena sudah terbiasa dengan standar kinerja Mbak Tri, Ina kecewa. Namanya saja Bi Ukay, tapi kerjanya tidak okay. Masih lebih okay dikerjakan Ina. Setelah dicoba dua kali, Bi Ukay ini diganti Bi Okay, alias dikerjakan sendiri.

Jadi sekarang bagaimana?

Ina tersenyum, menggulung celana panjangnya, mengambil ember, air, dan sabun, dan mulai menyikat lantai kamar mandi. Ini rumah kesayangan kita, maka kita membersihkan dan merawatnya dengan kasih sayang.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: