Belajar dari anak-anak

Salah satu keuntungan punya keluarga, punya anak, adalah kita bisa belajar dari mereka. Belajar ceria dan hidup tanpa beban.

Dulu saya pikir jadi dosen itu tidak mungkin stress. Kan cuma ngajar doang, tidak berbahaya seperti polisi atau tegang seperti dokter. Ternyata banyak yang stress juga. Demikian juga saya pikir mengurus keluarga tidak mungkin stress. Ternyata bisa juga orang stress mengurus keluarga dan anak-anak.

Orang stress karena dia memikul tanggung jawab, ingin berhasil, ingin semua beres. Tetapi sayangnya semua itu tidak bergantung padanya. Atau semua dibebankan padanya. Maka stresslah dia.

Misalnya, keluarga kekurangan uang. Harus bayar kontrakan. Harus bayar kebutuhan sehari-hari. Harus bayar uang sekolah. Tapi tidak tahu uang dari mana. Stress lah dia.

Atau ada anggota keluarga yang sakit, punya kebutuhan khusus, punya tuntutan khusus. Saya pernah membaca di artikel koran tentang anak autis yang tingkahnya semaking memburuk. Akibatnya orang tua pusing dan bingung. Stress.

Atau hubungan dengan mertua, keluarga besar, suami, istri, anak, yang tidak lancar, tidak sempurna. Suasana rumah tidak menyenangkan. Banyak campur tangan orang lain. Ucapan saling menyakiti.

Saya bisa membuat daftar ini. Panjang. Sampai yang baca bisa stress. Point saya adalah begitu banyak hal yang bisa membuat kita susah dalam keluarga. Banyak yang bisa membuat kita stress.

Bagi saya, jalan keluarnya cuma satu: ubah attitude. Ubah sikap kita. Ubah cara pandang. Keluarga adalah peluang, berkat, untuk kita berbahagia. i situ kita bisa tertawa bersama. Menangis bersama. Membangun mimpi bersama. Saling memperhatikan. Saling menjaga.

Saya belajar banyak dari anak-anak saya. Bagaimana berkomunikasi. Bagaimana rileks. Bagaimana menikmati apa yang ada. Bagaimana get excited. Bagaimana percaya penuh pada kami bahwa kami akan selalu menjadi orang tua mereka.

Saya seperti menemukan saya yang dulu, saya yang tidak punya beban, saya yang tidak punya masalah.

Saya sudah cukup lama hidup di dunia ini untuk mengerti sampai kapan pun masalah akan tetap ada. Dari waktu saya kecil masih bayi sampai hari ini, dunia ini sama, penuh masalah. How come saat saya masih kecil itu saya tidak terbeban, tapi hari ini saya harus terbeban?

Kuncinya adalah menghadapi hidup ini excited seperti anak kecil. Menghadapi semua tidak selalu harus serius, bisa playful. Belajar untuk melupakan hari kemarin yang berat, dan tidak kapok.

Dan yang terpenting, belajar percaya bahwa Tuhan akan setia menjaga kita sepanjang hidup kita, lebih dari orang tua kepada anaknya.

Jadi kita perlu bersyukur dengan keluarga kita, dan menjadikan sumber kekuatan kita. Sumber excitement kehidupan kita.


  1. prasetyoz

    iya ya.. kenapa d kehidupan dewasa ini jadi kepikiran beban..
    siapa ya memberikan
    darimana ekspektasi-ekspektasi tersebut muncul.
    kenapa mesti kita pedulikan

    dan memangnya apa yang seharusnya kita pedulikan..
    …hmmm…

    jangan2 beban itu muncul karena nafsu duniawi.. kadang bingung juga apakah menjadi baik itu tergolong “nafsu”




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: