The Way You Make Me Feel

Anda bisa berbuat adil, berbuat baik, bahkan melakukan hal-hal yang indah untuk orang lain.  Tapi itu suatu saat akan terlupakan. Yang akan paling mengesankan adalah cara kita memperlakukannya, the way you make me feel

Ada perintah bahwa kita harus selalu berlaku adil. Bahkan kepada mereka yang kita benci. Maka kita pun berusaha menekan perasan kita, dan melakukan apa yang menjadi hak mereka. Ini memang terhormat, noble. Tapi orang tidak akan berterimakasih pada kita, karena itukan memang hak mereka. Apalagi kalau keadilan itu kita lakukan dengan perasan tidak senang, terpaksa. Maka orang lain akan tetap menyimpan perasaan tidak senang pada kita.

Kita bisa juga berbuat baik, tapi tidak sepenuh hati. Kita melakukannya karena wajib, karena harus, karena ingin imbalan, karena ingin pahala. Maka perbuatan baik itu menjadi hambar. Berguna tapi hambar. Orang mungkin akan berterimakasih. Tapi kalau dia tahu kitan mendapat imbalan karenanya, maka rasa berterimakasih itu akan berkurang.

Yang akan diingat orang adalah perasaan yang ditimbulkan. Impak pada perasaan. Kalau di balik semua tindakan kita, seberapa kecilnya sekalipun, ada sikap yang menyenangkan, menghormati, menghargai, maka orang akan mengingat kita dengan senang. Sebaliknya, berapa besarpun tindakan kita itu, kalau itu membuat orang lain merasa kecil, merasa buruk, merasa tidak berharga, merasa tidak terhormat, maka mereka akan tidak senang. Lama akan mengingat kita dengan kebencian.

Beberapa waktu lalu saudara ipar saya demam dan kesakitan hebat di perutnya. Suaminya berusaha menolongnya, tapi tidak cukup, perlu pertolongan dokter internis. Akhirnya setelah diopname beberapa hari di RS Borromeus, dia sembuh. Cuma ibu dokter internis di RS ini judes sekali, kata-kata yang diucapkan membuat ipar saya menangis sakit hati. Dokter internis ini diakui pintar dan hebat. Tapi dalam hal mengerti perasaan orang ibu internis ini payah. Jadi ipar saya itu jauh lebih menghargai usapan tissue suaminya di keningnya saat demam menghebat, ketimbang tindakan medis yang menyembuhkan dari si internis.

Mengapa bisa begitu?

Manusia itu punya daya ingat dalam dua tahap: ingatan jangka pendek (short term memory) dan ingatan jangka panjang (long term memory). Semua peristiwa yang terjadi akan diingat pada ingatan jangka pendek. Kemudian beberapa waktu kemudian hilang. Kalau kita bisa memindahkan catatan peristiwa itu ke dalam ingatan jangka panjang, kita membutuhkan emosi, perasaan. Perasaan adalah semacam katalis, semacam pemicu, semacam pelumas, untuk memindahkan isi ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

Nah perasaan yang kuat, emosi yang kuat, akan memasukkan tindakan kita itu ke dalam ingatan jangka panjang orang. Jadi kalau kita melakukan sesuatu kebaikan, dengan cara yang penuh penghormatan dan penghargaan pada orang lain, maka kebaikan kita akan menempel dengan postif dalam dirinya. Ia akan selalu berterimakasih dan senang berada di sekitar kita. Sebaliknya, kalau tindakan kita itu dilakukan dengan sikap menghina, merendahkan dia, maka dia akan lama mengingat perbuatan kita dengan rasa benci. Tidak ingin kita berada di sekitarnya.

Kita bisa memperluas konsep ini.

Ingat, dunia itu adalah cermin. Kalau kita tersenyum pada dunia, dunia akan tersenyum balik. Kalau kita membenci dunia, dunia akan membenci balik.

Maka kita perlu memperlakukan dunia dengan penuh penghargaan, penghormatan kepada siapapun, kepada apapun. Mulai dari sesama manusia, hewan, tanaman, lingkungan hidup, lingkungan mati, benda-benda. Apapun. Kita perlakukan dengan hati-hati, hormat, sayang, penuh penghargaan. Maka menurut konsep yang diperluas ini, dunia akan bekerja dan berusaha untuk menggembirakan hati kita.

Saat saya masih kecil di Tomohon saya pernah ikut truk pasir, milik ayah teman saya. Suatu sore kami mengirim pasir dari kaki gunung Lokon ke Sonder di selatan Tomohon. Di suatu tempat, sang supir truk memarahi kenek saat keneknya menendang-nendang ban truk. Maksud kenek sebenarnya untuk memeriksa tekanan ban. Tapi buat sang supir, ini tabu sekali. Itu sikap tidak layak, karena seluruh nafkah kita, keselamatan kita, kelancaran perjalanan ada di ban ini. Jadi kita dilarang sang sopir menendang-nendang ban tidak sopan seperti itu. Sopirnya freak out dengan sikap sang kenek. Saya terkesan sekali. Meskipun tidak masuk akal, sikap sopir itu mengandung penghormatan yang patut kita tiru.

You see, kita tidak bisa menunggu tindakan dunia sekitar untuk membahagiakan kita. Terbalik. Bolanya ada di kita. Kita yang harus aktif. Kitalah yang harus memicu dunia untuk berbahagia. Barulah dunia itu, cermin itu, memantulkannya kepada kita.

Oleh sebab itu kita selalu menjaga agar kita selalu memancarkan energi positif, energi kegembiraan, perlakuan penuh hormat kepada orang, kepada dunia sekitar kita. Tombol-tombol yang kita tekan adalah tombol kita menghargai, tombol kita menghormati, tombol kita respek, tombol kita sayang, tombol kita cinta.

Saat dunia seakan melontarkan trigger energi negatif, kita jangan terpancing untuk memantulkannya. Kita bisa bertindak tegas, mungkin menghukum secukupnya, tetapi kita segera maafkan, dan kembali memberikan trigger energi positif.

Point saya adalah, sikap positif lebih penting dari perbuatan positif. Jauh lebih penting kita berkonsentrasi membuatnya merasa dihargai, ketimbang volume perbuatan baik. Suatu sumbangan akan lebih berharga apabila ada ketulusan dan keikhlasan membantu, bukan pada jumlah rupiahnya.

Yang akan saya selalu ingat adalah the way you make me feel

Advertisements

  1. bengawansolo

    setelah saya mengikuti blog bapak 3 bulan ke belakang, kata-kata Tomohon menjadi sedikit pertanyaan dalam benak ini.

    bulan agustus lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sail bunaken di manado dan pasca acara puncak menyempatkan diri ke danau tondano. diperjalanan itulah ternyata kota kembang timur indonesia (tomohon) terlewati.
    dibandingkan dengan bandung yang di barat, disana jauh lebih tak tersentuh.syahdu

    haha..ketika kita bersikap positif dan terbesit keingin tahuan ternyata semesta mendengar itu.

    salam.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: