Krishna dan Arjuna

Saat perang dunia Baratayuda mulai, dan genderang perang ditabuh, Arjuna, pahlawan terbesar Pandawa lumpuh. Ksatria ini berubah menjadi begitu humanis, sehingga Krishna, lambang humanisme, harus mengajarkan Arjuna bagaimana menjadi ksatria sejati, dalam Bhagavad Gita, the Song of God.

Dalam kisah Mahabarata, perselisihan antara keluarga Kurawa dan Pandawa, yang sebenarnya bersaudara ini keturunan Barata, tidak dapat didamaikan lagi. Kehidupan dunia memanas, seluruh aspek kehidupan hanya tentang pertentangan kedua keluarga ini.  Tidak ada perkembangan. Tidak ada kemajuan. Maka peperangan dengan skala global, bahkan kosmik,tidak dapat dihindari. Baratayuda, perang keluarga Barata, dimulai.

Pihak Kurawa sangat kuat, dibantu guru-guru Pandawa seperti Bhisma dan Durna, serta ksatria putera dewa Surya yang tidak terkalahkan, Karna. Harapan Pandawa sebenarnya hanya ada pada Arjuna. Pahlwan terbesar, putera dewa perang Indra.

Tetapi di medan perang Arjuna lumpuh. Kehilangan roh ksatria.

Kita perlu menyadari ironi dari semua ini.  Jauh sebelum peristiwa ini terjadi, dewa terbesar adalah dewa Indra. Dewa perang. Dewa ini pemimpin dunia, dan menjadi sesembahan para ksatria, penguasa dunia. Para ksatria ini sangat ditakuti, menjelajahi tanah India, dan merampok ke sana ke mari.

Sampai suatu hari muncul ilham humanisme, paham kebajikan, sebagai reaksi penderitaan yang ditimbulkan kaum ksatria.  Humanisme yang kemudian berkembang nanti menjadi agama Hindu, meletakkan kebajikan dan menahan diri di atas segala-galanya. Oleh sebab itu timbul dewa tandingan Indra, dan dalam kosmos penduduk Kuru posisi dewa Indra tergeser oleh dewa-dewa yang baru. Dewa yang memimpin pada kebajikan dan humanisme. seperti dewa Wishnu menjadi dewa utama melebihi Indra.

Dan ini tercermin dalam struktur Pandawa. Kakak tertua, Yudhistira adalah anak dewa Dharma. Bima adalah anak dewa Bayu. Barulah Arjuna, anak ketiga, adalah anak dewa Indra, dewa perang. Yudhistira adalah pemimpin Pandawa, bukan Arjuna. Dengan kata lain, dewa Indra harus mengalah pada dewa Dharma.

Baratayuda adalah peperangan. Di sini Arjuna berkuasa, lepas bebas, menjadi seorang ksatria. Tetapi setelah bertahun-tahun bergaul dengan Yudhistira, Arjuna mampu melihat apa yang di lihat Yudhistira. Betapa mengerikan dan kejam peperangan itu. Betapa besar kerusakan yang ditimbulkan para ksatria. Ia harus membunuh saudara sendiri, guru-guru yang dihormati, pahlawan, orang-orang terhormat. Ia harus bertindak keras pada orang yang sebenarnya ia hargai, mengerti, dan cintai.

Dan Arjuna lumpuh.

Akhirnya Krishna memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya, dewa Wishnu. Dewa pemelihara kehidupan. Ia mendorong Arjuma untuk berperang. Ia menjelaskan arti dharma yang sebenarnya. Ia mengajarkan Arjuna untuk menjalankan tugas tanpa perasaan, tanpa melihat hasil, tanpa melihat konteks, tanpa memikirkan kerugian pada diri sendiri, tanpa mementingkan diri sendiri. Ia menjelaskan apa artinya ksatria itu, dan betapa besarnya peran seorang ksatria.  Sampai seorang Wishnu, pemelihara kehidupan, memerlukan kepahlawanan Arjuna untuk menjaga kehidupan ini. Semua didikan dan penjelasan Krishna itu dituangkan dalam the Song of God, Bhagavad Gita.

Akhirnya Arjuna mengerti, dan iapun mengeluarkan semua yang ia miliki untuk dipersembahkan di Kurusetra, tempat Baratyuda. Dan peperangan yang hebat dan lama akhirnya dimenangkan oleh Pandawa. Tapi dalam kemenangan yang anti klimaks. Karena semua, Kurawa dan Pandawa, hancur lebur. Di atas kehancuran Kurawa dan Pandawa ini, Wishnu membangun sebuah dunia baru, yang lebih baik dari dunia yang hanya berisi konflik antara Kurawa dan Pandawa.

Hari ini ksatria itu adalah para penegak hukum, para tentara, para pemerintah, para alat negara. Tidak jarang ksatria jaman sekarang lumpuh. Karena ia berhadapan dengan keluarganya, saudaranya, orang segolongan, satu suku, satu agama, satu daerah, satu bangsa. Dan ia tidak bisa menegakkan keadilan. ia lumpuh.

Semua ksatria harus mengerti esensi tugasnya, penegakan keadilan. Mampu menjalankan tugasnya dengan teguh, tanpa terpengaruh dengan berbagai pemikiran yang melemahkan rasa keadilannya. Keadilan yang lebih universal, bukan kepentingan kelompoknya.

Di atas perjuangan para ksatria ini dunia yang lebih baik dan indah dapat dibangun.


  1. Tulisan yang inspiratif dan memberiku motivasi untuk hari ini.

  2. cenix

    joz

  3. semoga kisah tersebut menjadi tauladan dalam kehidupan sekarang

    bahwa keadilan harus ditegakan,karna kebenaran hanya akan muncul bila ada suatu keadilan

  4. You share interesting things here. I think that your website can go viral easily,
    but you must give it initial boost and i know how to do it, just
    search in google (with quotes) for – “mundillo traffic increase make your website go viral”




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: