Irasional

Masalah kegagalan ilmu ekonomi selama ini adalah akibat tindakan manusia yang sering irasional. Banyak model dibuat dengan cantik dan elegan. Sayangnya ini mengasumsikan manusia rasional. Diperlukan cara pandang yang mengasumsikan irasionalitas manusia.

Kalau kita rasional, maka kita akan menggunakan pertimbangan akal. Dalam membeli barang misalnya, kita akan mencari nilai terbaik untuk setiap rupiah yang kita keluarkan. Atau mencari harga termurah untuk tujuan kita itu.

Akan tetapi model ini terlalu sederhana. Saat kita membeli pakaian misalnya, ada impuls-impuls lain yang mendorong. Kita ingin pakaian ini bagus dan murah. Tapi tidak mau terlalu murah sehingga dianggap murahan. Dan bagus itupun tidak jelas. Akhirnya kalau orang lain pengen baju itu dan hanya ada satu-satunya, kita sambar cepat-cepat. Berarti bagus.

Banyak keputusan kita untk membeli sesuatu, atau menjual sesuatu, bersifat impulsif.

Akibatnya model ekonomi menjadi kacau. Prediksi para ahli menjadi salah.

Jangankan keputusan ekonomi. Pilih jodoh saja orang tidak rasional. Jarang orang menggunakan akal dalam hal ini. Orang lebih bersikap oportunistik. Intuitif.

Akan tetapi saya pikir sampai kapanpun manusia akan sering irasional. Oleh sebab itu, dalam mendesain apapun, kita harus berasumsi realistis. Bahwa orang tidak akan selalu mengikuti akal sehat. Ada waktunya ia menggunakan intuisi.

Dan ini sebenarnya sumber excitement. Sumber ketidak pastian yang membuat hidup ini asik. Seperti kata Einstein, The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift.


  1. Uang saja sekarang sudah bukan sesuatu yg riil pak. Dulu setiap uang yg dicetak/beredar ada jaminannya berupa emas di bank (gambarannya begitu). Konon sekarang kalau semua orang ingin uangnya dihargai sesuai harga nominalnya dengan sesuatu yg riil (emas) katanya sudah nggak cukup … Apalagi bisnis2 yg non-riil lainnya, semua tidak lebih sekedar kertas dan kita sudah tidak tahu lagi musti percaya pada apa dan siapa …




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: