Cara Belajar

Mengapa ada mata kuliah yang menarik dan ada yang sukar diikuti?  Karena setiap mahasiswa memiliki cara belajar yang berbeda. Paling tidak ada empat jenis cara belajar mahasiswa. Dan anda perlu tahu cara belajar anda termasuk jenis mana, agar anda sukses belajar.

Sebenarnya untuk berhasil dalam belajar, kita membutuhkan dua hal. Satu, bahan atau materi yang harus diserap. Dua, gaya belajar, learning style (ST). Menurut Kolb, Honey, dan Mumford (1992), setiap mahasiswa sebenarnya memiliki satu dari empat LS dasar sebagai berikut

  1. Aktivis: senang mendiskusikan bahan ajar dan bekerja dengan aktif tentang topik ini dalam kelompok. Mereka senang tugas-tugas yang beragam, pengalaman baru, dan soal-soal serta masalah yang bisa menjadi sumber pelajaran.
  2. Reflektor: juga belajar dari pengalaman baru, tapi mereka tidak ingin ikut terlibat di dalamnya. Para reflekor senang mengamati situasi dan membuat analisa dan laporan. Mereka butuh waktu merenung untuk bisa menghasilkan ide baru dan teori berdasarkan pengalaman baru tersebut.
  3. Teoris: senang mendapatkan bahan untuk dipelajari dalam konteks mereka: model, sistem, atau teori. Mereka menganalisa hal-hal secara mendalam dan senang untuk mendengar atau membaca ide menarik yang menekankan rasionalitas dan yang memiliki argumen kuat.
  4. Pragmatis: senang mempelajari bahan yang memberikan keuntungan praktis, dan mereka senang mendapat kesempatan untuk menerapkan apa yang mereka pelajari. Mereka senang masalah yang nyata dan menikmati kesempatan mempraktekkan teknik-teknik dengan umpan balik dari pakar.

Sebagai contoh, untuk mempelajari pemrograman komputer, teoris senang mendapat bahan tentang konsep pemrograman, ide-ide tentang pemrograman yang baik. Setelah dia menguasai konsep ini baru dia mau memegang komputer untuk memrogram, dengan maksud memverifikasi bahwa pengetahuannya benar. Pragmatis sebaliknya ingin langsung memegang komputer dan mulai memrogram. Setelah dia mendapatkan sense pemrograman baru dia mau mendengar konsep pemrograman yang baik, dengan maksud untuk menaikkan kualitas programnya.

Di akhir proses-proses ini keduanya berhasil menguasai dasar pemrograman. Tapi rute yang ditempuh berbeda, motivasi yang mendorongnya berbeda, disesuaikan dengan jenis LS nya.

Nah, masalahnya dalam kuliah satu kelas bisa berisi 40 mahasiswa. Dosen tidak pernah mencek LS dari masing-masing mahasiswa. Jadi gaya mengajar sang dosen itu disesuaikan dengan LS dosen itu sendiri. Akibatnya ke 40 mahasiswa harus belajar dengan LS yang seragam. Hasilnya hanya sekitar 25% mahasiswa yang kebetulan punya LS yang cocok dengan LS si dosen yang bisa menguasai seluruh bahan.

Jadi anda perlu mengetahui anda itu jenis mana dari keempat LS ini. Kemudian anda sesuaikan cara belajar anda dengan LS anda. Materi belajar yang diusulkan itu sebagai berikut:

  • Aktivis: materi yang banyak melakukan aktivitas, kegiatan dan interakasi
  • Reflektor: materi dengan banyak case study dan contoh-contoh
  • Teoris: materi konseptual dan teoritis
  • Pragmatis: materi dengan banyak latihan soal dan percobaan.

Jadi kalau anda merasa sering mengalami kesulitan mengikuti kuliah, itu bukan sepenuhnya salah anda. Baik mahasiswa maupun dosen tidak menyadari keunikan anda, LS anda. Jadi tidak ada tindakan kelas yang disesuaikan dengan LS mahasiswa. Boro-boro. Tahu juga ada LS kan enggak.

Harap maklum, sistem pendidikan masal kita itu belum memungkinkan perkuliahan menyesuaikan dengan LS dari setiap mahasiswa. Oleh sebab itu, mahasiswa sendiri yang perlu berusaha untuk menemukan materi belajar yang cocok dengan LS nya.


  1. Kalau menurut saya, tiap mahasiswa bisa memiliki lebih dari 1 LS. Seperti saya sendiri, LS untuk tiap kuliah berbeda-beda.

    Jika kuliah itu dapat saya pahami dengan mudah konsepnya seperti fisika dasar, saya menjadi mahasiswa Teoris. Tanpa banyak latihan soal, saya bisa mengerjakan soal-soal ujian.

    Kalau konsepnya cukup sulit untuk dipahami seperti Teori Medan, LS saya adalah Pragmatis. Jadi, beda-beda, Pak, LS buat tiap kuliah. Hehehe….

  2. hmm mungkin kalo saya cendrung antara pragmatis atau reflektor ya. Tapi benar juga yang dikatakan pak Junot. Walau saya kurang suka terlalu berkutat dalam teori, tapi terkadang bersikap teoritis juga perlu dalam menyelesaikan soal2 ujian tertentu😀

  3. Wah Maknyus bos tulisannya..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: