Gempa dan Sosialisasi

Wah saya kaget sekali saat merasakan gempa 7.3 skala Richter di lantai 4 gedung PAU. Langsung semua penghuni gedung PAU berhamburan ke pelataran luar. Jadi bertemu dan bersosialisasi dengan banyak rekan, yang sehari-hari jarang ketemu. Sambil jantung berdetak keras dan wajah pucat pasi.

Saya sedang mengetik di notebook saya saat gempa mulai terasa. Saya berdiri sebentar ke pintu, sementara staf di kantor kami terdiam menahan nafas. Tiba-tiba goncangan mengeras, bunyi keramik pecah terdengar, dan jeritan orang berlarian terdengar keras. Saya jadi berteriak agar staf kami segera keluar evakuasi.

Kami berlarian dari lantai empat. Wah ngeri sekali, karena lantai bergoyang-goyang, dan saya membayangkan gedung delapan lantai ini bisa roboh. Itu beton semua, dan saya takut tertimpa. Di tangga, sudah banyak orang berlarian turun. Tapi heran semua kok terasa pelan. Mungkin saya yang gemes atau memang mereka tertahan di lobby. Akhirnya kami semua bisa bernafas lega di luar gedung.

Di sana sudah banyak orang. Kami mencoba tersenyum, tapi nafas terengah-engah, wajah pucat, jantung berdetak keras. Jadi senyum terasa kecut. Saya duduk bersama staf dan rekan-rekan lain sambil menunggu.

Baru teringat pintu masih terbuka, notebook masih hidup. Hp pada tertinggal di atas. Wah gimana nih.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk naik lagi, sambil mengambil barang saya dan mengunci pintu. Saya memutuskan untuk menutup kantor. Takut ada gempa susulan. Waktu naik saya kaget, karena lantai bergoyang-goyang. Wah ngeri, tapi mungkin perasaan saya saja. Sampai di atas Pak Parmis sudah menunggu, menjaga kantor katanya. Waduh tidak perlu lah. Kalau gedung roboh gimana. Saya matikan notebook, ambil barang saya kemudian lari ke luar. Staff kami juga mengambil tas dan HP kemudian turun lagi.

Sampai di bawah, saya ingat kaca mata saya tertinggal. Waduh saya naik lagi. Dan mungkin karena kaget atau trauma, tetap terasa gedung bergoyang. Padahal sudah tidak. Mungkin sistem keseimbangan kita agak terganggu tadi. Begitu kacamata dapat saya lari cepat-cepat ke bawah, dan bergabung lagi dengan teman-teman. Sudah tenang sebenarnya, tapi saya masih kaget. Jadi istirahat dulu. Perlu satu jam baru saya bisa santai kembali.

Saya bisa membayangkan kegerian orang yang tinggal di gedung tinggi, di hotel-hotel, di kantor-kantor. Pasti ngeri sekali. Pasti shock sekali.

Kemudian saya dengar banyak rumah rusak dan ada juga yang meninggal. Turut berduka.

Gempa menyadarkan saya betapa kita bisa setiap saat terkena bencana. Betapa penting insinyur membangun gedung dengan kuat dan teliti. Betapa bahaya orang yang mengkorupsi dana pembangunan struktur.

Tapi yang paling penting adalah rasa kebersamaan. Sosial. Saat semua mengalami ketakutan, kita saling menghibur dan menguatkan. Dan nanti kalau bencana terjadi betulan kita semua saling menolong dan membantu.

Gempa mengingatkan kita akan indahnya solidaritas manusia.

Advertisements

  1. Sebetulnya kalau langsung berhamburan keluar juga tidak baik pak. Kalau di bangunan yang berkaca banyak, bisa mati terkena pecahan kaca. Atau malah mati terinjak-injak waktu menuruni tangga, karena semua dalam keadaan panik. Yang bagus memang diadakan latihan jika terjadi gempa (seperti latihan kebakaran) sehingga warga tahu apa yang harus dilakukan sewaktu gempa. Sayangnya ini perlu kerjasama semua pihak, bahkan seharusnya dimulai dari pemerintah (pusat dan daerah), seperti di Jepang.

    EM

  2. Joko Sarwono

    Tampaknya memang kepanikan yang dominan tadi sore Pak…. saya tdnya sedang pra koloq dengan bimbingan saya, begitu terasa labTek VI bergoyang, kami mencoba keluar ke selasar lantai 2…. eh goyangannya makin keras…. apalagi melihat GKU Barat bergoyang cukup signifikan dan melihat anak2 mhs yg sedang keluar berhamburan keluar dari kelas dan menuruni tangga…… Alhamdulillah tidak ada korban saat berebutan turun tangga…. di gedung sebelah bahkan ada seorang mhs yg nekat keluar dari jendela dan turun lewat tiang beton gedung…mungkin saking paniknya ya?….. seumur-umur di Bandung, baru kali ini merasakan goncangan segedhe tadi….

  3. Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian ya Pak…

    (Lab saya, Lab RPL di Labtek V lt 4 katanya cukup berantakan…)

  4. wah, syukurlah bapak dan orang-orang di PAU ga kenapa-napa. emang heboh tuh kemarin. saya dan teman-teman lagi ngerjain TA di labtek 8 lantai 4 trus tiba-tiba goyang kenceng banget dan abis itu semua kerasa cepat, lari turun. HP dan laptop masi ditinggal di situ, udah ga inget apa-apa lagi, langsung turun aja. serem juga, karna dinding-dinding pada retak jadi pas lari turun tangga sambil ngeliat serpihan-serpihan cat di lantai.

    setelah itu memang ada gempa susulan kok pak, jadi mungkin pas bapak merasa ada goncangan itu beneran gempa susulan. cuma bentar dan kecil klo dibandingin gempa pertama. [gempa susulannya 2x]

    turut berduka buat korban gempanya 😦 saya juga liat di berita kemarin.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: