Belajar dari Kegagalan

Sayang sekali. Konsep belajar dari kegagalan itu sudah menjadi klise. Padahal ini penuh makna.

Penghalang terbesar kemajuan anda cuma satu: rasa takut. Takut ini, takut itu. Takut malu, takut direndahkan, takut hilang percaya diri, takut dipandang buruk, takut turun derajat, takut ditertawakan.

Semua itu adalah rasa takut yang virtual, khayal, maya, yang hanya ada di pikiran kita. Dan celakanya, semua itu tentang apa pikiran orang lain tentang kita. Kita terlalu cemas akan apa pikiran orang tentang kita.

Semua ini membuat kita takut gagal. Kita kemudian takut mencoba. Kapok. Karena nanti gagal. Dan kalau gagal, pikiran orang tentang kita akan menjadi buruk.

Buang jauh-jauh pikiran seperti itu.

Kegagalan adalah event yang harus menjadi sumber ilmu. Sumber belajar. Supaya kita menjadi pintar.

Tuhan menciptakan saya dan anda sebagai makhluk yang belajar. Makhluk yang cerdas. Makhluk yang adaptif. Among all creations, we are the smartest species on earth.

Nah, sebenarnya ada suatu fakta yang orang tidak banyak sadari. Mekanisme belajar spesies kita itu berbasis kegagalan, bukan kesuksesan. Kita makhluk yang tidak bisa belajar menjadi lebih baik kalau semaunya mulus, lancar, beres, sukses. Kita baru jadi pintar kalau kita menyadari ada yang tidak kita tahu. Kita berubah kalau ada hal yang tidak lagi jalan.

Jadi kegagalan adalah berkat dari Tuhan agar kita tambah pintar. Tambah adaptif. Tambah cerdas.

Ini membutuhkan dua hal penting. Pertama kesadaran penuh bahwa kita diciptakan untuk sukses melalui proses belajar. Kedua, kesadaran penuh untuk selalu mempelajari setiap kegagalan dan menjadikan nya asar untuk mengubah strategi.

Perhatikan singa di padang rumput, memburu seekor kijang. Kijang berlari sangat cepat, dengan lari yang berlika-liku. Perhatikan usaha sang singa. Beberapa detik pertama, singa itu gagal. Tapi dengan tidak kalah cekatan singa melakukan zig-zag, mengubah strategi, beradaptasi dengan gerak kijang, sehingga diakhir perburuan, sang kijang berada dalam cengkeraman singa. Orang yang pesimis akan mencap semua usaha sebelum menggapai kijang itu adalah kegagalan. Tapi bagi singa tidak. Baginya “kegagalan” itu adalah proses belajar mengetahui karakter gerak kijang.

Nah singa itu menerapkan kedua hal penting itu. Kecepatan dan kelihaian kijang tidak membuatnya menyerah, dan menganggap situasi kaburnya kijang ini sebagai nasib. Ia tahu bahwa dengan berjuang dan bersifat adaptif, ia akan bisa menaklukkan kijang itu.

Saya pikir kita harus begitu. Kesuksesan itu laksana kijang. Kita kejar dia dengan semangat dan kecerdasan seekor singa. Kegagalan yang ada dipelajari. Strategi kemudian diperbaiki. Kita kemudian tambah pintar. Sampai sukses itu ada dalam genggaman kita.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: