Mengejar Kekuasaan

Mengapa orang berebut jabatan? Mengapa orang ingin berkuasa? Untuk memperkaya diri? Untuk meniti karir?

Kekuasaan atau otoritas itu sebenarnya problematik. Kita mau memiliki kekuasaan berarti kita mau memiliki otoritas atas orang lain. Padahal orang lain tidak mau kita kuasai. Tidak ada yang mau diperhamba orang lain.

Kekuasaan akhirnya didasarkan atas kesepakatan. Kita semua bersepakat bahwa pemerintah berkuasa. Pemerintah bisa melakukan tindakan paksaan. Itu kita atur di konstitusi dan undang-undang.

Mengapa bisa sampai kita mau menandatangani konstitusi itu? Karena kita memahami bahwa tanpa pemerintahan, dunia ini jadi chaos. Semua seenaknya sendiri. Semua menjadi jagoan yang hendak memaksakan kehendak sendiri. Hukum rimba. Akhirnya yang lemah menjadi korban. Adanya pemerintahan supaya kita bisa melindungi hak-hak mereka yang lemah.

Jadi kekuasaan sebenarnya dalam rangka menegakkan keadilan. Dalam rangka memastikan mereka yang lemah pun tetap mendapatkan hak-haknya.

Nah ini yang sering disalahmergertikan orang. Orang berpikir dengan berkuasa dia bisa mendapatkan segalanya. Kehormatan. Harta benda. Istri banyak (jaman dulu). Padahal manusia memberikan kekuasaan pada pemimpin agar ia menegakkan keadilan. Agar ia bisa membawa kita bersama pada cita-cita bersama.

Jadi dalam pengertian ini, sangat membingungkan kalau ada orang berebut kekuasaan. Kalau orang berkelahi untuk menjadi pemimpin. Karena esensi dari perebutan kekuasaan adalah sebenarnya kembali ke hukum rimba itu. Itu seperti perlombaan siapa yang paling jagoan.

Saat ini semakin disadari pentingnya soft-power. Kekuatan lunak. Kekuatan yang mampu menggerakkan orang tanpa intimidasi. Kekuatan pemikiran. Kekuatan persuasi.

Kunci seorang pemimpin jaman sekarang adalah kemampuan menggerakkan orang tanpa yang digerakan merasa ditindas atau diancam. Ia punya pengikut.

Pemimpin sekelas Obama memiliki pengikut. Ia beresonansi dengan impian bangsanya, mengartikulasikannya, serta menunjukkan arah untuk mencapainya. Ia menggali idealisme yang tertanam dalam nurani orang, kemudian menunjukkan bagaimana idealisme itu menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan mulia.

Pemimpin di masa kini perlu memiliki kekuatan spiritual. Karena ia berhadapan dengan ide, paham, pikiran. Ia juga berhadapan dengan kehendak bebas, yang bisa bergerak tidak sesuai dengan idealisme. Ia bisa berhadapan dengan rakyat yang bandel, keras kepala, egois, dan ignoran. Dan ia harus memotivasi diri berkorban untuk orang-orang yang tidak tahu berterimakasih ini. Hal ini tidak mungkin ia lakukan tanpa kekuatan spiritual yang tinggi.

Kita yang mencalonkan diri menjadi pemimpin harus menguji diri dengan hal-hal ini. Kita yang mengejar kekuasaan harus melakukan perenungan diri. Apa motivasi kita? Apa dorongan kita untuk berkuasa? Apakah dalam rangka menegakkan keadilan? Apakah dalam rangka mewujudkan mimpi bersama?

Apabila ya, maka ambilah kekuasan itu dengan cara yang etis, ikhlas, dan hormat. Maka kita akan berhasil dalam menjalankan amanat kepemimpinan.

(Dedicated to the election of ITB New Rector)




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: